Di tengah keterbatasan lahan dan tantangan ekonomi, kreativitas menjadi kunci utama dalam menciptakan solusi yang berdampak luas bagi masyarakat. Menyadari potensi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STIKES Muhammadiyah Bojonegoro (Maboro) menghadirkan terobosan cerdas melalui program pemberdayaan bertajuk “Budidaya Ikan Lele dalam Galon dengan Sistem Akuaponik Sederhana”.
Program ini bukan sekadar aktivitas pertanian biasa, melainkan sebuah integrasi edukatif yang menggabungkan kesehatan nutrisi dengan teknologi budidaya ramah lingkungan yang sangat relevan bagi masyarakat Desa Sumberagung.
Mahasiswa STIKES Maboro melihat adanya peluang besar dalam memanfaatkan barang bekas menjadi aset produktif. Melalui sistem akuaponik sederhana, warga dapat memanen protein hewani dari ikan lele dan nutrisi nabati dari selada secara bersamaan dalam satu wadah galon bekas.
Urgensi program ini terletak pada upaya peningkatan ketahanan pangan mandiri di tingkat rumah tangga. Dengan media yang ekonomis, warga tidak perlu mengeluarkan biaya besar atau memiliki lahan yang luas untuk memulai gaya hidup sehat dan mandiri secara ekonomi.
Aksi nyata ini dilaksanakan secara bertahap mulai dari tanggal (25/1/2026) hingga puncaknya pada (2/2/2026) di wilayah Desa Sumberagung. Kegiatan ini sepenuhnya dikerjakan oleh Tim KKN STIKES Muhammadiyah Bojonegoro dengan pemantauan intensif di setiap prosesnya.
Fokus utama kegiatan ini adalah di Balai Desa Sumberagung, yang juga menjadi lokasi penyimpanan sementara serta pusat edukasi bagi perangkat desa dan warga setempat. Penempatan di Balai Desa merupakan arahan strategis dari pihak perencanaan desa agar program ini dapat menjadi percontohan (pilot project) yang mudah diakses oleh publik.
Proses perwujudan program ini dilakukan melalui serangkaian tahapan teknis yang profesional. Dimulai dari persiapan alat, pembuatan media galon, hingga pengisian benih lele sebagai langkah awal. Mahasiswa KKN tidak hanya sekadar membangun, tetapi juga melakukan evaluasi kritis terhadap pertumbuhan ikan.
Terbukti, tim sempat melakukan revisi desain media galon untuk meningkatkan sirkulasi air guna mendukung pertumbuhan selada di bagian atasnya. Puncaknya, pada 2 Februari 2026, empat unit galon akuaponik diserahkan secara resmi kepada pihak desa. Tidak hanya menyerahkan fisik, mahasiswa juga memberikan panduan tertulis dan praktik langsung pemberian nutrisi AB Mix yang aman bagi ikan, memastikan keberlanjutan program ini setelah masa KKN berakhir.
Perjalanan ini tentu menghadapi kerikil tajam, seperti adanya beberapa benih lele yang mati selama masa adaptasi dan persiapan teknis yang sangat singkat. Namun, keterbatasan tersebut justru membuktikan ketangguhan mahasiswa STIKES Maboro dalam melakukan penyesuaian lapangan secara cepat. Salah satu mahasiswa KKN STIKES Maboro mengungkapkan makna di balik kerja keras mereka.
“Kami ingin menunjukkan bahwa untuk memulai perubahan besar di desa, kita tidak selalu butuh modal yang mahal. Cukup dengan sebuah galon bekas dan kemauan untuk belajar, kita bisa menghadirkan gizi berkualitas di atas meja makan setiap keluarga,” ujar penanggung jawab program kerja ini.
Program ini telah mendapatkan respons yang sangat positif karena sifatnya yang sederhana dan mudah ditiru. Keberhasilan mahasiswa KKN STIKES Muhammadiyah Bojonegoro dalam memperkenalkan teknologi tepat guna ini diharapkan mampu memantik semangat warga Desa Sumberagung untuk lebih produktif dan peduli pada lingkungan.
Dengan adanya empat unit percontohan di Balai Desa, diharapkan sistem akuaponik ini menjadi inspirasi yang terus berkembang, menciptakan kemandirian yang berkelanjutan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui asupan gizi yang dihasilkan dari tangan sendiri.





0 Tanggapan
Empty Comments