Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Burnout di Madinah: Kisah Mahasiswa Indonesia yang Jarang Terungkap

Iklan Landscape Smamda
Burnout di Madinah: Kisah Mahasiswa Indonesia yang Jarang Terungkap
Mahasiswa Indonesia di Madinah. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Madinah sering dibayangkan sebagai kota yang menenangkan jiwa. Bagi banyak orang, belajar di kota Nabi adalah impian yang sarat makna spiritual. Namun di balik ketenangan yang terlihat dari luar, kehidupan mahasiswa diaspora ternyata juga menyimpan dinamika psikologis yang tidak selalu mudah.

Realitas ini menjadi pembahasan dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Surabaya, RS Muhammadiyah Lamongan, dan STIT Muhammadiyah Kediri bersama PCIM Kerajaan Arab Saudi, Sabtu (14/3/2026), di Rumah Buya Hamka, Madinah.

Kegiatan bertajuk “Burnout di Madinatun Nabi: Memahami Academic Overload, Loneliness Diaspora, dan Spiritual Exhaustion” menghadirkan psikiater dr. Era Catur Prasetya, Sp.KJ (K) bersama Dr. Bagus Jamroji, Lc., M.Pd dan H. Dicky Zulkarnain Tamy, BIRKH.

Forum ini mempertemukan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di Madinah untuk membicarakan satu topik yang jarang disuarakan secara terbuka: kesehatan mental mahasiswa diaspora.

Ketika Kisah Nyata Membuka Percakapan

Diskusi menjadi semakin reflektif ketika seorang mahasiswa asal Makassar, Fauzi, membagikan pengalaman yang baru saja terjadi di lingkungan tempat tinggalnya.

Ia menceritakan bahwa seorang teman satu kosnya tiba-tiba memutuskan pulang ke Indonesia beberapa hari sebelumnya. Selama sekitar satu bulan terakhir, temannya tersebut hampir tidak lagi terlihat beraktivitas.

Menurut Fauzi, temannya mulai jarang masuk kelas, semakin menarik diri dari pergaulan, dan dalam percakapan sehari-hari menunjukkan sikap sinis terhadap lingkungan sekitar.

“Sekitar tiga hari yang lalu dia akhirnya pulang ke Indonesia. Kami menduga dia mengalami burnout,” ujarnya.

Cerita tersebut membuat suasana diskusi menjadi hening sejenak. Bagi banyak mahasiswa yang hadir, pengalaman seperti ini ternyata tidak sepenuhnya asing.

Tekanan yang Tidak Selalu Terlihat

Cerita lain datang dari Akmal, mahasiswa asal Tangerang. Ia mengungkapkan tantangan yang berbeda, namun tidak kalah melelahkan.

Akmal menyadari dirinya sering kesulitan menolak permintaan orang lain. Ia merasa tidak enak hati jika harus mengatakan tidak, sehingga tanpa disadari menjadi seseorang yang selalu menyetujui berbagai permintaan di sekitarnya.

“Saya sering merasa tidak enak kalau harus menolak. Jadinya kadang seperti jadi yes man,” katanya.

Akibatnya, ia sering menanggung tanggung jawab yang melebihi batas kemampuannya sendiri.

Beberapa peserta juga mengungkapkan bahwa sebagai mahasiswa diaspora mereka sering merasa harus menampilkan diri seolah-olah baik-baik saja, meskipun secara emosional sedang menghadapi tekanan yang tidak ringan.

Di sisi lain, mereka juga kerap menerima komentar yang kurang memahami situasi mereka. Tidak jarang ada anggapan bahwa kehidupan mereka di Madinah sangat mudah—“tinggal makan, tidur, dan belajar”—seperti gambaran yang sering terlihat di media sosial.

Padahal, menurut mereka, realitas yang dijalani jauh lebih kompleks. Di balik foto-foto yang tampak tenang di Instagram, banyak mahasiswa sebenarnya sedang berjuang menghadapi tekanan akademik, kesepian, serta proses adaptasi yang tidak selalu mudah.

Perspektif Neurobiologi Burnout

Menanggapi berbagai pengalaman tersebut, dr. Era Catur Prasetya menjelaskan bahwa burnout bukan sekadar persoalan psikologis, tetapi juga melibatkan mekanisme biologis di dalam otak.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Ketika seseorang berada dalam tekanan yang berlangsung lama—baik karena tuntutan akademik, kesepian sosial, maupun ekspektasi diri—sistem stres di otak (HPA axis) dapat bekerja terus-menerus. Kondisi ini menyebabkan peningkatan hormon stres seperti kortisol, yang jika berlangsung kronis dapat memengaruhi fungsi otak.

Dalam jangka panjang, stres yang tidak terkelola dapat menurunkan fungsi prefrontal cortex yang berperan dalam konsentrasi dan pengambilan keputusan, serta meningkatkan aktivitas amigdala yang berkaitan dengan respons emosional terhadap ancaman.

Akibatnya, seseorang dapat mulai mengalami kelelahan mental, sinisme, penurunan motivasi, hingga penarikan diri dari lingkungan sosial—pola yang sering terlihat dalam burnout.

“Banyak mahasiswa yang mengira kondisi ini adalah kelemahan iman,” jelas dr. Era.

“Padahal dalam banyak kasus, ini adalah respon biologis tubuh terhadap stres yang berlangsung lama.”

Ia juga menyoroti fenomena people pleasing atau kecenderungan menjadi “yes man”, yang dapat membuat seseorang kesulitan menetapkan batas sehat antara tanggung jawab pribadi dan ekspektasi sosial.

Jika berlangsung terus-menerus, pola tersebut dapat mempercepat terjadinya kelelahan mental.

Lebih dari Sekadar Belajar Ilmu

Di tengah diskusi, salah seorang mahasiswa menyampaikan refleksi yang cukup menggugah.

Ia mengaku sebelumnya memiliki pandangan sederhana tentang kehidupan studinya di Madinah.

“Awalnya saya berpikir satu-satunya hal yang harus dipelajari di sini hanyalah ilmu,” ungkapnya.

Namun setelah mengikuti diskusi tersebut, ia menyadari bahwa perjalanan menuntut ilmu ternyata juga menuntut kemampuan lain yang tidak kalah penting.

“Setelah mengikuti materi ini, saya sadar ternyata masih banyak hal lain yang harus dipelajari untuk kehidupan,” katanya.

Belajar Menjadi Manusia yang Utuh

Diskusi yang berlangsung di Rumah Buya Hamka sore itu menjadi ruang refleksi yang jarang terjadi. Para mahasiswa tidak hanya berbicara tentang akademik atau prestasi, tetapi juga tentang kejujuran terhadap kondisi diri sendiri.

Bagi dr. Era, percakapan seperti ini penting untuk membuka kesadaran bahwa kesehatan mental tidak bertentangan dengan spiritualitas.

Justru sebaliknya, memahami diri, mengenali batas kemampuan, dan menjaga keseimbangan hidup merupakan bagian dari perjalanan spiritual seseorang.

Di kota yang penuh keberkahan ini, para mahasiswa belajar satu hal penting: bahwa menuntut ilmu bukan hanya tentang menjadi lebih alim, tetapi juga tentang belajar menjadi manusia yang lebih utuh dan sehat secara jiwa. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡