Pondok Pesantren Madaarijul ‘Ulum Sentolo, Kulon Progo, Yogyakarta, kini mulai menikmati akses listrik mandiri setelah menerima bantuan panel surya dari kolaborasi 1000 Cahaya, Kitabisa.org, dan GreenFaith Indonesia.
Bantuan tersebut disalurkan saat tim 1000 Cahaya yang dipimpin Wakil Direktur, Sudarto M. Abukasim mengunjungi lokasi pada Senin (6/4/2026). Rombongan yang berjumlah 10 orang tiba sekitar pukul 11.30 WIB setelah menempuh perjalanan kurang lebih 25 kilometer dari Kota Yogyakarta.
Pihak pesantren menyambut hangat kedatangan tim. Meski hanya berjarak sekitar satu jam dari pusat kota, lokasi pesantren yang berada di tengah hamparan hutan jati membuat suasananya terasa terpencil dan jauh dari keramaian.
Pesantren tersebut berdiri di atas lahan sekitar 5.000 meter persegi, yang sebagian besar masih berupa hutan. Sejumlah bangunan semi permanen dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas santri.
Di bagian depan, terdapat musala yang menjadi pusat kegiatan ibadah. Sementara itu, bangunan utama multifungsi digunakan para santri untuk mengaji, belajar, dan berkumpul.
Menurut pengasuh Pondok Pesantren Madaarijul ‘Ulum , Abdul Fatah, lokasi pesantren yang berada di tengah hutan menyebabkan aliran listrik PLN tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Akibatnya, beberapa aktivitas santri pada malam hari menjadi terganggu.
“Saat mengaji atau tadarus, beberapa kali santri harus belajar dalam kondisi gelap,” ujarnya kepada tim 1000 Cahaya yang tengah mengemban misi pemasangan solar panel.
Menurutnya, program ini merupakan hibah energi hasil kolaborasi antara 1000 Cahaya, Kitabisa.org, dan GreenFaith Indonesia.
Pria yang mengaku tidak pernah menamatkan pendidikan formal tersebut menjelaskan bahwa, seiring dinamika kehidupan di dalam pondok, kebutuhan listrik menjadi salah satu penopang utama aktivitas harian.
Berbagai perangkat digunakan untuk menunjang kenyamanan dan kelancaran kegiatan, mulai dari lampu penerangan, kulkas, magic com, sound system, pompa air (sanyo), televisi, mesin cuci, setrika, hingga kipas angin. Semua peralatan tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari ritme kehidupan pondok, dari pagi hingga malam hari.
Tak heran, kebutuhan energi listrik pun cukup besar. Setiap bulan, pondok pesantren ini mengeluarkan biaya sekitar Rp600.000 untuk membayar tagihan listrik PLN. Angka tersebut mencerminkan betapa pentingnya listrik dalam mendukung aktivitas pendidikan, ibadah, serta kehidupan sehari-hari para santri.
Di balik angka-angka tersebut, tersimpan semangat kemandirian dan kebersamaan. Pondok pesantren ini bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda untuk menempa diri, di tengah berbagai keterbatasan dan upaya yang terus diikhtiarkan.
Sudarto menegaskan bahwa penyaluran dan pemasangan solar panel di pesantren bertujuan untuk menunjang aktivitas para santri serta mengurangi beban biaya konsumsi listrik yang cukup besar terhadap operasional pesantren.
Selain itu, program ini juga menjadi upaya konkret dalam meningkatkan efisiensi energi sekaligus menjaga kelestarian ekosistem bumi.
“Melalui kegiatan pemasangan solar panel di Pondok Pesantren Madaarijul ‘Ulum Kulon Progo ini, kita belajar bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang penuh kesadaran, mengubah sinar matahari menjadi energi, serta mengubah kepedulian menjadi aksi nyata. Program ini juga menghadirkan panel surya sebagai wujud sedekah energi yang diinisiasi oleh 1000 Cahaya, Kitabisa.org, dan GreenFaith Indonesia,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa hal tersebut merupakan salah satu upaya untuk menjadikan pesantren sebagai pusat inspirasi menuju masa depan yang mandiri, bersih, dan berkelanjutan.
“Hal ini merupakan salah satu upaya untuk menjadikan pesantren sebagai pusat inspirasi menuju masa depan yang mandiri, bersih, dan berkelanjutan,” imbuhnya.
Tak berselang lama sejak kedatangan, tim teknisi bergerak cepat melakukan pemasangan tiga panel surya di atap pesantren. Setelah proses pemasangan yang memakan waktu sekitar satu jam, tim kemudian melanjutkan dengan memasang baterai sebagai media penyimpanan energi listrik yang dihasilkan dari sinar matahari.
Ketua Lembaga Resiliensi Bencana Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Budi Setiawan, berharap pemasangan panel surya tersebut dapat membantu memperlancar pelaksanaan kegiatan di Pondok Pesantren Madaarijul ‘Ulum.
Ia menjelaskan bahwa lokasi pesantren yang berada di dataran tinggi dan dikelilingi hutan kerap mengalami pemadaman listrik tanpa sebab yang jelas. Oleh karena itu, pemasangan panel surya dinilai menjadi solusi yang relevan untuk mengatasi keterbatasan penerangan di lingkungan pesantren.
“Terima kasih kepada segenap sponsor program yang telah memberikan bantuan panel surya kepada Pondok Pesantren Madaarijul ‘Ulum,” tuturnya menutup sambutan di hadapan seluruh santri.
Budi Setiawan juga berpesan kepada para santri untuk lebih giat belajar serta menjaga kebersihan lingkungan.
Sementara itu, Manajer Operasional GF Indonesia, Intan Mustikasari, dalam wawancara terpisah menjelaskan bahwa kehadiran GreenFaith Indonesia bertujuan untuk mendorong percepatan transisi energi berkeadilan.
Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi penggalangan dana bersama Kitabisa.org guna menghadirkan akses energi bersih berbasis panel surya bagi komunitas terpencil, seperti Pondok Pesantren Madaarijul ‘Ulum di Sentolo, Kulon Progo. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments