Di tengah tekanan hidup yang semakin kompleks, banyak orang diam-diam berjuang menghadapi kecemasan, stres, dan depresi. Tuntutan pekerjaan, persoalan ekonomi, relasi sosial, hingga derasnya arus informasi membuat pikiran sulit tenang.
Tanpa disadari, kondisi ini dapat menggerus kesehatan mental dan menurunkan kualitas hidup. Karena itu, penting memahami cara mengatasi kecemasan, stres, dan depresi secara tepat, bahkan tanpa harus selalu bergantung pada obat-obatan.
Hingga kini, tidak sedikit orang yang diliputi rasa risau dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kecemasan, keresahan, dan syak wasangka kerap menghampiri. Tekanan hidup, ketidakpastian masa depan, serta berbagai persoalan pribadi membuat banyak orang merasa resah dan gelisah.
Kondisi ini menyebabkan tidak sedikit orang mengalami kebingungan dan tekanan jiwa. Gangguan kesehatan mental pun semakin meningkat, mulai dari tingkat ringan, sedang, hingga berat. Banyak di antaranya bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami masalah psikologis.
Di sisi lain, perubahan pola hidup juga turut memengaruhi kondisi mental seseorang. Kesibukan yang tinggi, tuntutan pekerjaan, serta relasi sosial yang kurang hangat membuat sebagian orang merasa jauh dari orang-orang terdekat. Interaksi yang seharusnya menjadi sumber kekuatan justru terasa hambar, bahkan memicu rasa kesepian.
Tidak sedikit pula yang akhirnya menarik diri dan lebih banyak menghabiskan waktu di ruang-ruang privat. Rutinitas yang monoton, minimnya interaksi bermakna, serta kebiasaan tenggelam dalam dunia digital membuat seseorang semakin terisolasi secara emosional, meskipun secara fisik berada di tengah banyak orang.
Entah sudah berapa banyak orang yang diam-diam memendam keluh kesahnya. Wajah boleh tampak baik-baik saja, tetapi di dalamnya tersimpan kecemasan yang datang silih berganti. Hati gelisah tanpa sebab yang jelas, seolah terus bertarung antara rasa takut dan harapan.
Dr. Erikavitri Yulianti, Sp.KJ (K), psikiater RSUD dr. Soetomo, mengatakan, ada beberapa hal yang perlu dicermati terkait gangguan kejiwaan:
Pertama, tanda dan gejala kecemasan. Gejala ini ditandai dengan munculnya perasaan panik, takut, dan gelisah, pikiran yang tidak terkendali dan obsesif, serta pikiran berulang atau kilas balik pengalaman traumatis.
Penderita kecemasan juga kerap mengalami mimpi buruk, tidur tidak nyenyak, tangan dan kaki dingin atau berkeringat, sesak napas, palpitasi, ketidakmampuan untuk diam dan tenang, mulut kering, mati rasa atau kesemutan, mual, ketegangan otot, dan pusing.
Kedua, tanda dan gejala depresi. Dari sisi fisik, ditandai dengan gangguan tidur (sulit tidur, tidur berlebihan, atau bangun terlalu awal), perubahan nafsu makan (lebih banyak atau lebih sedikit), penurunan energi, serta sering merasa lelah. Selain itu, juga dapat muncul sakit kepala, sakit perut, dan gangguan pencernaan yang tidak dapat dijelaskan.
Dari sisi perilaku, gejala ditandai dengan hilangnya minat atau kesenangan terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, seperti berkumpul dengan teman, berolahraga, atau aktivitas lainnya. Penderita juga mengalami kesulitan berkonsentrasi, mengingat, atau membuat keputusan, serta mulai mengabaikan tanggung jawab dan penampilan pribadi.
Sementara dari sisi emosional, ditandai dengan suasana hati yang sedih atau “kosong” secara terus-menerus selama dua minggu atau lebih. Penderita juga dapat menangis tanpa alasan, merasa putus asa, tidak berdaya, bersalah, atau tidak berharga. Selain itu, muncul pula perasaan kesal, gelisah, cemas, hingga pikiran tentang kematian atau bunuh diri.
Terapi Nonfarmakologis
Gangguan kejiwaan ini seyogianya harus segera ditangani karena berdampak pada kesehatan secara keseluruhan. Keterlambatan penanganan dapat memperlambat proses kesembuhan, meningkatkan biaya kesehatan, serta menurunkan kualitas hidup.
Ada sejumlah terapi nonfarmakologis yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan tersebut.
Pertama, terapi kognitif dan perilaku. Upaya yang dapat dilakukan antara lain mengubah pola pikir, melakukan aktivitas yang berbeda, mengurangi self-consciousness (kesadaran diri berlebihan), serta membangun kesadaran diri yang sehat.
Kedua, terapi interpersonal, yaitu berfokus pada cara seseorang berinteraksi dengan teman dan keluarga. Sikap ramah dan terbuka dalam bergaul akan membantu menjauhkan diri dari pikiran negatif.
Ketiga, terapi relaksasi. Cara yang dapat dilakukan antara lain latihan pernapasan dalam, yakni dengan duduk tegak, meletakkan tangan di perut, menarik napas melalui hidung hingga perut mengembang, lalu menghembuskan napas melalui mulut secara perlahan.
Cara lain adalah visualisasi, dengan menutup mata dan membayangkan tempat yang tenang secara detail—apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dicium.
Meditasi juga dapat menjadi solusi. Duduk dengan nyaman, tutup mata, dan fokus pada pernapasan. Rasakan aliran udara yang masuk melalui lubang hidung dan keluar melalui mulut, serta gerakan diafragma yang naik dan turun.
Keempat, manajemen ansietas (gangguan kecemasan). Kondisi ini ditandai dengan rasa khawatir berlebihan, pikiran tidak rasional, dan ketakutan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Penanganannya berkaitan dengan mengenali tingkat kecemasan, gejala, serta cara mengendalikannya.
Kelima, latihan fisik. Bisa dilakukan dengan berjalan kaki atau berlari, baik secara individu maupun berkelompok. Intensitasnya ringan hingga sedang, dengan durasi 20–60 menit.
Latihan fisik bermanfaat untuk memperbaiki suasana hati, meningkatkan self-esteem (harga diri), memperbaiki kinerja, mengurangi depresi dan kecemasan, serta meningkatkan interaksi sosial.
Keenam, terapi kelompok. Aktivitas berkumpul bersama keluarga atau teman yang dilandasi rasa saling percaya sangat penting. Dalam kegiatan tersebut, individu dapat berbagi pengalaman, saling memberi dukungan, serta bertukar saran.
Ketujuh, interaksi spiritual. Mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sangat dianjurkan untuk meredakan kecemasan dan depresi. Hal ini sejalan dengan hakikat manusia sebagai makhluk yang lemah. Memohon petunjuk kepada Sang Khalik dapat memberikan ketenangan batin dan rasa nyaman.
Kedelapan, terapi elektrokonvulsif (ECT). Yakni, terapi kejut listrik yang dilakukan oleh tenaga ahli. Terapi ini biasanya dilakukan dua hingga tiga kali dalam seminggu selama 2–4 minggu.
Masalah gangguan kejiwaan sangat serius. Oleh karena itu, kita perlu menciptakan “oase” di tengah kekalutan masyarakat.
Berpikir positif dan melakukan aktivitas produktif adalah langkah sederhana yang dapat dilakukan. Ini sejalan dengan anjuran untuk tetap tenang dan bahagia di tengah krisis. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments