Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

CEO Indonesia Medika dr Gamal Albinsaid, Fiksi Indonesia Baru

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -
Daniel Mohammad Rosyid. (istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Rabu (25/4/18) pagi, saya diundang seminar oleh mahasiswa UNIP Madiun untuk berbicara tentang “Peran Pendidikan dalam Menghadapi Bonus Demografi”. Saya gembira diundang bersama dr Gamal Albinsaid, MBiomed, CEO Indonesia Medika, seorang socioenterpreneur cemerlang asal Malang.

UNIP Madiun di bawah kepemimpinan Rektor Dr H Parji MPd adalah kampus yang sedang bergeliat dinamis yang menjadi faktor penting pendinamisasi kehidupan Kota Madiun.

Hemat saya, seperti yang saya coba yakinkan pada sekitar seribu hadirin mahasiswa dan mahasiswi UNIP Madiun, kunci memanen bonus demografi itu adalah budaya belajar yang membangun kecakapan adapativ-produktif terhadap perubahan cepat yang dibawa internet, termasuk gaya hidup sehat.

Persekolahan sebagai inovasi disruptif 200 tahun lalu saat ini sudah usang dan menjadi penghambat budaya belajar baru ini. Seperti anjuran Ivan Illich, John Taylor Gatto, dan Sir Ken Robinson, menyambut revolusi industri 4.0 saya menganjurkan deschooling: mengurangi persekolahan, lalu memperluas kesempatan belajar melalui learning webs yang luwes dan lentur sesuai bakat dan minat warga belajar. Simpul utama jejaring belajar itu adalah keluarga. Bukan sekolah.

Pendidikan liberal arts—di antaranya sastra, filsafat, dan seni—akan ikut menjadi kunci dalam meningkatkan adaptabilitas produktif warga belajar itu.

Dr Gamal adalah generasi anak saya yang hidup dalam lingkungan persekolahan yang secara umum mematikan kreativitas karena terobsesi mutu berbasis standard. Tapi Internet telah menyelamatkan generasi Gamal dari kematian kreativitas karena Internet telah melubangi tembok-tembok sekolah yang tinggi dan tebal. Jika persekolahan tidak berubah, ia akan runtuh atau jadi museum dan guru-gurunya menjadi dinosaurus.

Sebagai dokter, seperti Aisyah dan Fathimah anak-anak saya dan suami keduanya, biasanya dokter berpikir pesimis karena dididik secara evidence-based di lingkungan rumah sakit yang penuh kesakitan, kepedihan, kegetiran, dan kematian.

Berkat Internet, Gamal muda berhasil keluar dari “kenyataan” pedih tersebut, lalu berpikir mission based: bagaimana membangun bisnis di bidang keahlian yang dicintainya, sekaligus memecahkan masalah kesehatan bagi kaum papa di negeri ini. Kunci keberhasilannya adalah: ikhlas, kerja keras, dan kerja tim.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Pribadi yang hidup dengan misi adalah pemimpin. Seperti Bung Karno, Gamal telah membaca zamannya, membangun relasi dengan orang-orang dari berbagai kalangan, merumuskan mimpi bagi bangsanya, dan berinovasi mencapai misinya dengan kerja keras. Itulah jalan yang harus ditempuh oleh semua pemimpin di berbagai zaman. Buah kerja keras Gamal telah diakui dan dihargai oleh Pangeran Charles dan Vladimir Putin.

Oleh karena itu, melihat Gamal saya optimis atas masa depan bangsa ini di tengah-tengah banyak bukti yang menggoda untuk pesimis. Seperti Bung Karno pernah menulis “Indonesia Menggugat”—sebuah fiksi tentang Indonesia merdeka—Gamal juga telah menulis sebuah fiksi, sebuah dongeng tentang Indonesia baru.

Saya berkeyakinan, bahwa fiksi Gamal ini akan menggetarkan hati lalu menggugah banyak anak muda Indonesia lain. (*)

Gunung Anyar, Surabaya, 25 April 2018

Kolom oleh Daniel Mohammad Rosyid, Guru Besar ITS Surabaya

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡