Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Cerita Robiansyah Marpaung, Mahasiswa PBI UMY Mengajar di Sekolah Muslim Thailand

Iklan Landscape Smamda
Cerita Robiansyah Marpaung, Mahasiswa PBI UMY Mengajar di Sekolah Muslim Thailand
Robiansyah Marpaung (tiga dari kiri) bersama Santitam Muslim Foundation, Nakhon Si Thammarat, Thailand. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Deretan huruf Thailand yang melengkung dan asing di papan tulis sempat membuat Robiansyah Marpaung terdiam sejenak.

Di hadapannya, puluhan pasang mata siswa Santitam Muslim Foundation, Nakhon Si Thammarat, Thailand, menatap penuh rasa ingin tahu.

Bagi Robi, sapaan akrab mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) angkatan 2022 asal Medan, momen itu menjadi penanda awal petualangan akademik yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: mengajar di negeri orang, di tengah budaya, bahasa, dan sistem pendidikan yang berbeda.

Robi menjadi salah satu dari 12 mahasiswa terpilih dalam program magang internasional yang diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, seperti UMY, Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Negeri Semarang (UNNES), dan Universitas Jambi.

Mereka menjalani program internship di Santitam Muslim Foundation, sebuah sekolah Muslim berasrama sekaligus fullday school yang menjadi mitra Walailak University. Program ini berlangsung selama satu bulan, mulai 1 November 2025.

Santitam Muslim Foundation bukan sekadar sekolah. Terletak di wilayah Nakhon Si Thammarat, sekolah ini menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda Muslim Thailand Selatan.

Lingkungan sekolah yang religius berpadu dengan sistem pendidikan modern membuat Robi merasa berada di ruang belajar yang unik—asing namun tetap akrab.

Selama program berlangsung, para peserta magang mendapatkan fasilitas penunjang seperti akomodasi dan transportasi.

Hal ini memungkinkan mereka untuk fokus menjalankan peran sebagai calon pendidik. Peserta internship pun datang dari latar belakang disiplin ilmu kependidikan yang beragam. Mulai dari pendidikan matematika, olahraga, hingga bahasa Inggris. Keragaman ini memperkaya dinamika pembelajaran dan kolaborasi antarpeserta.

Mengajar dengan Gim dan Teknologi

Sebagai mahasiswa PBI, Robi dipercaya mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris di beberapa kelas setara SMP dan SMA.

Dia tidak sekadar datang membawa materi, tetapi juga membawa pendekatan pembelajaran yang segar. Robi memadukan metode konvensional dengan gamifikasi berbasis digital melalui platform seperti Kahoot dan Mentimeter.

Bagi siswa Santitam Muslim Foundation, metode ini tergolong baru. Biasanya, pembelajaran berlangsung lebih satu arah.

Kehadiran kuis interaktif, polling digital, dan permainan edukatif membuat suasana kelas berubah drastis. Siswa menjadi lebih aktif, berani menjawab, bahkan antusias menunggu giliran tampil.

“Awalnya mereka agak kaku, tapi setelah mencoba, mereka justru ketagihan,” kenang Robi seperti dilansir di laman resmi UMY.

Metode ini bukan hanya memudahkan pemahaman materi, tetapi juga memecah jarak antara guru dan murid.

Namun, perjalanan Robi tidak selalu mulus. Tantangan terbesar datang dari perbedaan bahasa dan sistem penulisan. Bahasa Thailand yang tidak menggunakan alfabet Latin menjadi kendala tersendiri, terutama saat mengajarkan dasar-dasar alfabet dan pelafalan Bahasa Inggris kepada siswa tingkat SMP.

Beberapa siswa kesulitan membedakan bunyi huruf, karena sistem fonetik Bahasa Thailand sangat berbeda dengan Bahasa Inggris.

Dalam situasi seperti ini, Robi harus ekstra sabar dan kreatif. Ia memperbanyak contoh visual, pengulangan bunyi, serta latihan sederhana yang menyenangkan.

Untuk menjembatani komunikasi, Robi didampingi oleh guru pendamping lokal yang berperan sebagai penerjemah sekaligus mediator budaya. Kehadiran guru pendamping ini sangat membantu, tidak hanya dalam menyampaikan materi, tetapi juga dalam memahami karakter dan kebiasaan siswa.

Pelajaran tentang Budaya dan Kemanusiaan

Di luar kelas, Robi belajar hal-hal yang tak tertulis di silabus. Keramahan masyarakat Thailand, khususnya komunitas Muslim setempat, meninggalkan kesan mendalam.

Senyum yang mudah terbit, sapaan hangat, dan sikap saling menghormati membuat Robi merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar sekolah.

Pengalaman hidup bersama, berbagi cerita, dan menjalani rutinitas ibadah bersama siswa dan guru menjadi pembelajaran lintas budaya yang berharga. \

Robi tidak hanya mengajarkan bahasa, tetapi juga belajar tentang makna toleransi, kesederhanaan, dan persaudaraan lintas bangsa.

Bagi Robi, program magang internasional ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban akademik. Pengalaman mengajar di Thailand justru membuka cakrawala baru tentang masa depan.

Dia mengaku tertarik untuk melanjutkan karier mengajar di negeri tersebut suatu hari nanti.

“Lingkungannya nyaman, murid-muridnya menghargai guru, dan masyarakatnya ramah. Rasanya berat untuk berpisah,” ujarnya.

Melalui program internship ini, Robi tidak hanya meningkatkan kompetensi profesional sebagai calon pendidik Bahasa Inggris, tetapi juga memperkaya perspektif globalnya.

Dia pulang membawa lebih dari sekadar sertifikat—ia membawa pengalaman hidup, jejaring internasional, dan keyakinan bahwa pendidikan mampu menjadi jembatan antarbangsa.

Di papan tulis Santitam Muslim Foundation, huruf-huruf Inggris mungkin telah terhapus oleh waktu.

Namun jejak Robiansyah Marpaung sebagai guru muda dari Indonesia akan tetap tertinggal, menyatu dalam ingatan siswa-siswi yang pernah belajar bahasa dunia darinya—di sudut tenang Thailand Selatan, jauh dari tanah kelahirannya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu