
PWMU.CO – Fortasi (Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa) tahun 2025 secara resmi dimulai di SMK Muhammadiyah 8 Siliragung (SMK Models) pada Senin, (14/7/2025) bertempat di Sport Center SMK Models. Hari pertama Fortasi diikuti dengan penuh semangat oleh seluruh peserta didik baru yang jumlahnya mencapai ratusan siswa dari berbagai jurusan.
Sebagai program tahunan yang bertujuan memperkenalkan peserta didik baru pada dunia sekolah menengah kejuruan, Fortasi SMK Models dirancang tidak hanya sebagai ajang perkenalan lingkungan fisik dan aturan sekolah, tetapi juga sebagai proses awal pembentukan karakter yang kuat dan berintegritas.
Hari pertama Fortasi tahun ini mengambil pendekatan serius dalam membekali siswa dengan pemahaman tentang isu-isu sosial yang marak terjadi di lingkungan pelajar, khususnya bullying, kekerasan, dan tawuran. Dalam sesi khusus bertema “Bullying, Kekerasan, dan Tawuran” yang disampaikan oleh tim Guru Bimbingan dan Konseling (BK), para siswa mendapatkan edukasi mendalam tentang bahaya dan dampak jangka panjang dari ketiga perilaku destruktif tersebut.
Sekolah Aman

Dalam pemaparannya, pemateri menjelaskan berbagai bentuk bullying—baik verbal, fisik, maupun digital (cyberbullying)—yang sering kali terjadi secara tersembunyi di lingkungan sekolah. Tak hanya itu, siswa juga diajak memahami bagaimana tindakan kekerasan bisa menimbulkan trauma psikologis, menurunkan kepercayaan diri, hingga menyebabkan putus sekolah pada korban.
“Kami ingin mengajak seluruh siswa baru memahami sejak awal bahwa kekerasan bukan bagian dari budaya sekolah ini. SMK Models menjunjung tinggi nilai-nilai saling menghargai, tolong-menolong, dan penyelesaian konflik secara damai,” ujar Inneke Yuli Nur Tiara Wulandari SPd saat menyampaikan materi.
Fenomena tawuran pelajar juga menjadi fokus utama dalam sesi ini. Siswa diajak berdiskusi terbuka mengenai penyebab dan dampak dari perilaku tawuran, baik bagi individu maupun citra lembaga pendidikan secara keseluruhan. Dalam simulasi singkat yang dilakukan di akhir sesi, para peserta diberi contoh konkret tentang bagaimana menyikapi konflik secara sehat tanpa kekerasan.
Nilai-nilai anti-kekerasan, pengendalian emosi, empati, dan komunikasi efektif menjadi landasan utama dalam materi ini. Tim BK berharap, pemahaman yang ditanamkan sejak dini ini dapat menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang siswa secara maksimal.
Salah satu peserta didik baru, Alifa (X TKJ), mengaku sangat terkesan dengan materi hari pertama.
“Biasanya orientasi siswa hanya fokus pada peraturan atau sekadar perkenalan. Tapi di sini, kami langsung diajak berpikir tentang bagaimana kami memperlakukan orang lain. Saya merasa ini sangat penting,” ujarnya.
Kegiatan ini menjadi penutup Fortasi hari pertama. Namun, agenda Fortasi 2025 masih akan berlanjut dengan berbagai topik penting lainnya seperti wawasan kebangsaan, pendidikan karakter, pengenalan jurusan, hingga pembekalan soft skills dan etika digital.
Dengan pendekatan yang menyentuh aspek psikologis dan sosial siswa, SMK Models berharap para peserta didik baru tidak hanya mengenal sekolah dari sisi administratif, tetapi juga mampu menyerap nilai-nilai yang menjadi fondasi budaya positif sekolah. (*)
Penulis Cici Arista/Hadi Editor Amanat Solikah





0 Tanggapan
Empty Comments