Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Corps Mubalighat Aisyiyah Kaji Masailul Khamsa, Apa Masalah Lima?

Iklan Landscape Smamda
Corps Mubalighat Aisyiyah Kaji Masailul Khamsa, Apa Masalah Lima?
pwmu.co -
Ain Nurwindasari di forum Pertemuan Ke-9 Corps Mubalighat Aisyiyah (CMA) Se-Kabupaten Gresik di Aula TK Aisyiyah 36 PPI, Gresik, Ahad (16/10/2022). Corps Mubalighat Aisyiyah Kaji Masailul Khamsa, Apa Masalah Lima? (Riza Agustina/PWMU.CO)

Rincian Masalah Lima

Ain lantas merinci Masailul Khamsah tersebut, yaitu Ad-din, ad-dunnya, al-ibadah, sabiilillah, dan al-qiyas.

Masailul Khamsa yang pertama adalah ad-din, yaitu agama,” jelasnya.

Menurutnya, pengertian ad-din ada dua. Pertama apa yang disyaritkan Allah dengan perantara nabi-nabi berupa perintah dan larangan serta petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat.

“Sedangkan yang kedua ad-din adalah apa yang ada di al-Qur’an dan sunnah maqbulah, berupa perintah dan larangan untuk kebaikan di dunia dan akhirat,” terangnya.

Menurut Ain, meskipun Muhammadiyah menggunakan istilah ad-din, namun maksudnya adalah ad-dinul Islam. Hal ini karena al-Qur’an sendiri telah menegaskan bahwa hanya Islamlah agama yang benar di sisi Allah.

“Sebagaimana ditegaskan di dalam surat Ali Imran ayat 19  bahwa agama yang diridhai oleh Allah hanya Agama Islam dan Ali Imran ayat 85 bahwa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima oleh Allah,” terangnya.

Hal ini menurutnya sekaligus menepis paham pluralisme agama yang berkembang di sebagian masyarakat. Ia pun menjelaskan pendapat Buya Hamka.

“Buya Hamka juga  menyatakan bahwa jika seseorang mengatakan bahwa semua agama itu benar maka dia adalah orang yang tidak punya agama,” tegasnya.

https://pwmu.co/261090/10/16/jadi-mubalighat-berada-di-jalan-yang-benar/

Adapun Masailul Khamsah yang kedua adalah ad-dunya.

Ad-dunya atau dunia yang dimaksud dalam pernyataan Nabi, ‘Kalian lebih tahu urusan dunia kalian’ ialah urusan yang tidak diutus nabi-nabi untuk itu,” jelasnya.

Namun demikian Ain menegaskan hal ini bukan berarti kita kemudian berpikiran sekular, yaitu memisahkan antara urusan agama dan dunia. 

“Meskipun urusan dunia kita tetap harus mengacu pada nilai-nilai Islam,” terangnya.

Ia lantas menjelaskan yang dimaksud urusan dunia dibagi menjadi dua yaitu, pertama urusan dunia yang tidak diatur sama sekali oleh agama contohnya cara menanam padi.

“Tidak ada tuntunan dan caranya menanam padi harus seperti apa,” jelasnya.

Yang kedua urusan dunia yang sebagiannya diatur oleh Islam. 

“Contohnya adalah cara makan, cara minum, dan cara berpakaian,” terangnya.

Ia pun menekankan bahwa meskipun urusan dunia namun jika dimulai dengan niat karena Allah dan dengan membaca basmalah maka akan bernilai ibadah.

Baca sambungan di halaman 2: Jensi Ibadah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu