Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dapat Julukan Ustadz Parikan, Dakwahnya Menghantam tanpa Memukul

Iklan Landscape Smamda
Dapat Julukan Ustadz Parikan, Dakwahnya Menghantam tanpa Memukul
pwmu.co -
Ustadz Soedjono ketika berceramah di Masjid At Taqwa WSI Menganti Gresik. (MN/PWMU.CO)

PWMU.CO – Gelak tawa hampir tak berhenti di sepanjang kultum. Jamaah yang terdiri dari bapak, ibu, dan remaja pada ngakak. Ruangan masjid pun riuh, bertabur kegembiraan.

Begitulah saat berlangsung kuliah tujuh menit (kultum) bakda shalat Tarawih di Masjid At Taqwa Wisma Sidojangkung Indah (WSI), Menganti, Gresik, Rabu (8/5/19).

Pemandangan itu berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Sebab, biasanya kultum disampaikan para mubaligh secara serius. Sesekali saja terlihat beberapa jamaah tersenyum saat ada selipan humor dari sang penceramah.

Tapi Ustadz Soedjono malam itu berhasil membawa keseriusan agama ke dalam suasana yang cair. Pesan-pesan kebajikan tidak hanya dia sampaikan melalui ayat atau hadits. Di sela-sela itu, ada parikan khas Suroboyoan yang mampu mengundang keceriaan jamaah.

Seperti saat Soedjono membuka kultum dengan parikan, “Tukang cukur nggelar kloso/ayo padha syukur ketemu ulan poso. Untune njengat keslentik jaran/ayo sing semangat ngumpulno ganjaran.”

Mendengar parikan itu, jamaah langsung gerr-gerran. Padahal sebenarnya pesan yang disampaikan Kepala SDN Putat Gede I/94 Surabaya itu cukup serius. Yakni ajakan bersyukur karena bertemu kembali dengan bulan Ramadhan (ayo padha syukur ketemu ulan poso) dan motivasi untuk memperbanyak pahala di dalamnya (ayo sing semangat ngumpulno ganjaran).

Kepada PWMU.CO, penyandang gelar master pendidikan ini menyampaikan alasan mengapa ia selalu menyelipkan parikan dalam ceramahnya. “Saya ingin melestarikan budaya parikan yang menjadi ciri khas Arek Suroboyo,” katanya.

Karena itu, pria yang tinggal di Krembangan Surabaya ini dikenal masyarakat sebagai ustadz parikan. “Akhirnya itu jadi branding saya,” ucapnya.

Ketua Pengurus Masjid At Taqwa WSI Drs Sukadmanto membenarkan soal branding itu. “Ceramah Ustadz Soedjono tidak membosankan karena selalu ada parikan-parikan lucu, yang bikin orang tertawa,” ujarnya pada PWMU.CO, Kamis (9/5/19).

Masjid At Taqwa WIS sendiri sudah sekitar sepuluh tahun mengundangnya untuk mengisi kegiatan Tarawih. Selain itu dia pernah diminta menjadi khatib Idul Adha dan penceramah pengajian Ahad pagi.

Ekspresi Ustadz Soedjono. (MN/PWMU.CO)

Selain soal pelestarian budaya, Soedjono menganggap dakwah dengan parikan sangat efektif. “Bisa diterapkan dalam segala situasi dan kondisi,” ungkapnya. Selain bisa mencairkan suasana, sambung dia, juga bisa menyuruh tanpa memerintah, mengritik tanpa menyakiti, dan menghantam tanpa memukul.

Soedjono benar. Saat dia bermaksud menyampaikan perlunya umat Islam kembali mempersatukan diri pascapemilu yang hampir membelah bangsa Indonesia menjadi dua kelompok yang terpecah itu, dia berparikan, “Kathok bedah dicucuk kalkun/masio beda tapi tetep rukun.”

Anggota Lembaga Dakwah Khusus Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (LDK PWM) Jatim itu mengajak jamaah bersatu meski berbeda pilihan (masio beda tapi tetep rukun).

Dengan sampiran (penentu suara) kathok bedah dicucuk kalkun, ajakan persatuan Soedjono itu terasa tidak menggurui, yang dia sebut: menyuruh tanpa memerintah.

Dia pun memberi contoh salah satu parikan yang dijadikan sarana dakwah ‘menghantam tanpa memukul’. “Tuku tomat ojo lali tuku coklat/lek ngaku umat Muhammad ojo lali kudu shalat.”

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Soedjono mengakui, baginya tidak sulit membuat parikan-parikan dalam dakwahnya itu. “Prosesnya mengalir saja, spontanitas. Tinggal memerhatikan persamaan bunyi atau rima lagunya saja, dengan teknik aji mathuk,” ucapnya.

Proses kreatif yang dia maksud bisa disimak pula dari parikan yang dia lontarkan saat menutup kultum. “Yu Painten ketiban jendela/cekap semanten piyatur kula.”

Juga saat dia meminta maaf sebelum menutup ceramah dengan salam, “Pak Nawawi ngeterno sekolah nubruk gapura/menawi wonten ingkang salah kula njaluk sepura.”

Begitulah pria yang pernah dijuluki Mukidi itu berdakwah. Berpesan bijak tanpa bermaksud menggurui umat. Pak Djono rumahnya Krembangan, yo ngono Pak sering sambang! (MN)

https://pwmu.co/18485/11/16/ngaji-bareng-mukidi-jamaah-masjid-pun-gerr-gerran/
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡