Suasana kelas 1 SD Muhammadiyah 1 & 2 Taman (SD Mumtaz) mendadak heboh. Bukan karena pelajaran biasa, melainkan karena para siswa diajak jadi “detektif sampah” dalam proyek STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics). Selama sembilan hari, mulai (12-20/1/2026), mereka menjalani petualangan kreatif bertajuk “Pemanfaatan Limbah untuk Kelas Bersih”.
Dengan pendekatan design thinking, anak-anak diajak melalui enam tahap seru: merasakan masalah (empathize), mencari penyebab (define), menggagas ide (ideate), membuat model (prototype), menguji karya (test), dan akhirnya mempresentasikan hasil (present).
Petualangan dimulai dengan berkeliling sekolah. Dengan cermat, mereka mengamati sudut-sudut kelas, halaman, dan taman. “Ada sampah di bawah meja!” seru salah satu siswa. Melalui kartu bergambar ekspresi, mereka menempelkan wajah “sedih” atau “jijik” saat melihat lingkungan yang kotor. Perasaan tidak nyaman itu menjadi pintu masuk untuk memahami pentingnya kebersihan.
Setelah melihat dan merasa, mereka diajak berdiskusi mencari penyebab. “Kenapa sampah nggak dibuang ke tempatnya?” tanya guru. Dengan jawaban polos, mereka menyimpulkan: kadang lupa, kadang tempat sampahnya jauh atau kurang menarik. Dari sini, masalah utama pun terdefinisi: butuh lebih banyak tempat sampah yang fungsional dan menarik.
Di tahap ini, imajinasi anak-anak benar-benar dilibatkan. Beragam usulan muncul: ada yang ingin buat jadwal piket, ada yang usul lembar observasi. Namun, setelah diskasi dan voting, terpilihlah ide yang paling disukai: mengubah galon air bekas menjadi tempat sampah berhias. Ide daur ulang pun mengemuka: galon bekas tidak dibuang, tapi diubah menjadi sesuatu yang berguna.
Dengan peralatan sederhana seperti cat, kuas, spidol, dan tentu saja galon bekas, mereka mulai berkarya. Galon-galon disulap menjadi bentuk dinosaurus, panda, katak, atau karakter kartun. Proses mengecat dilakukan dengan penuh semangat dan kerja sama. Setelah jadi, mereka menguji hasilnya: kuat tidak menampung sampah? Aman tidak tepinya? “Wah, dinosaurusnya jadi laper, makannya sampah!” celetuk mereka riang.

Dengan percaya diri, setiap kelompok mempresentasikan tempat sampah hasil kreasi mereka. Mereka menjelaskan fungsi, cara membuat, dan pesan kebersihan di depan guru dan pengamat. Rasa bangga terpancar jelas. Kini, setiap sudut kelas dihiasi tempat sampah unik yang tidak hanya berfungsi, tetapi juga menyemarakkan ruangan.
Di balik kesuksesan proyek ini, peran guru sebagai fasilitator sangat kental. Siti Mahfudlotin Inayah, S.Pd., guru yang membuka kelas (open class), membagikan pengalamannya.
“Mengajar STEM untuk anak kelas 1 itu seperti membimbing petualang cilik. Mereka datang dengan rasa ingin tahu besar, tapi juga butuh arahan yang jelas dan menyenangkan,” ujar Inayah.
Ia menekankan pentingnya membangun empati terlebih dahulu. “Kami ajak mereka merasakan langsung dampak dari lingkungan yang kotor. Dari situ, keinginan untuk berbuat sesuatu tumbuh alami. Tantangannya adalah memandu energi mereka yang beragam itu menjadi satu arah yang produktif, tanpa mematikan kreativitas.”
Baginya, momen paling berkesan adalah saat anak-anak mulai menyadari bahwa barang bekas bisa disulap menjadi solusi.
“Ketika seorang anak bilang, ‘Galon ini nanti bisa jadi rumah sampah yang lucu,’ di situlah proses berpikir kreatif dan solutif benar-benar hidup,” katanya.
Kontribusi dalam proyek ini datang dari semua siswa, termasuk Azizam, salah satu siswa inklusi dari kelas 1B. Dengan semangatnya yang menular, Azizam aktif memberikan ide dan terlibat dalam pembuatan.
“Aku ikut ngecat pakai warna biru dan hijau. Katanya biar kayak langit dan rumput,” ujar Azizam dengan mata berbinar. “Aku juga ingetin teman-teman buat buang sampahnya pelan-pelan biar nggak tumpah.”
Guru pendamping menceritakan antusiasme Azizam selama proses berkarya. “Dia punya perhatian pada detail. Saat mengecat, dia memastikan tidak ada yang meleber. Di kelompok, dia menjadi pengingat untuk kerja sama dan kebersihan,” ujarnya.
Bagi Azizam, proyek ini lebih dari sekadar tugas sekolah. Pengalamannya membuktikan bahwa setiap anak, dengan caranya sendiri, dapat berpartisipasi penuh dan memberi makna dalam pembelajaran.
Proyek STEM ini tidak hanya menghasilkan tempat sampah yang unik, tetapi juga menanamkan nilai penting: kepedulian lingkungan, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah sejak dini. Dari galon bekas dan imajinasi anak-anak, lahir solusi sederhana yang membawa dampak nyata bagi kebersihan sekolah. Mereka membuktikan bahwa tidak ada usia terlalu kecil untuk mulai berinovasi dan berkontribusi.






0 Tanggapan
Empty Comments