Kajian kitab Nashaihul Ibad selepas jamaah Subuh pada Rabu (25/2/2026) di Masjid Al-Falah Pusdamu PRM Jalen, Genteng, Banyuwangi, kembali digelar dengan penuh khidmat. Kajian yang diasuh Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Genteng, Taslim, M.Pd., tersebut memasuki pertemuan keenam dengan pembahasan tentang sifat-sifat terpuji.
Hatim Mendapat Julukan Al-A’sham
Seperti pertemuan sebelumnya, Taslim mengawali kajian dengan membacakan teks berbahasa Arab, kemudian menerjemahkannya secara bertahap ke dalam bahasa Indonesia. Pada kesempatan ini, ia mengisahkan keteladanan Hatim Al-A’sham yang memperoleh julukan “Al-A’sham” (yang tuli) karena keluhuran akhlaknya.
Dalam sebuah riwayat, Hatim Al-A’sham berkata, “Tiada suatu pagi pun berlalu melainkan setan bertanya kepadaku: Apa yang akan kamu makan? Apa yang akan kamu pakai? Dan di mana kamu akan tinggal? Aku menjawab: Aku akan memakan maut, memakai kafan, dan tinggal di kubur. Maka setan itu pun lari dariku.”
Hatim Al-A’sham bernama lengkap Abu Abdurrahman Hatim bin Alwan—sebagian pendapat menyebut Hatim bin Yusuf. Ia merupakan salah satu syekh besar dari Khurasan dan dikenal sebagai murid Syaqiq.
Taslim juga menuturkan kisah lain tentang keteladanan Hatim. Diriwayatkan, seorang perempuan datang untuk bertanya kepadanya. Dalam percakapan itu, perempuan tersebut tanpa sengaja kentut sehingga merasa sangat malu. Untuk menjaga perasaannya, Hatim berpura-pura tidak mendengar dengan berkata, “Keraskanlah suaramu sedikit.” Perempuan itu pun mengira Hatim tidak mendengar apa pun dan merasa lega.
Sejak peristiwa itulah Hatim dijuluki Al-A’sham. “Inilah adab seorang ulama. Demi menjaga perasaan orang lain agar tidak tersinggung, ia rela mendapat julukan ‘si tuli’,” jelas Taslim.
Kaya, Kuat, dan Menang
Masih dalam pembahasan sifat terpuji, Taslim kemudian menyampaikan hadis Rasulullah SAW: “Barang siapa keluar dari kehinaan maksiat menuju kemuliaan taat, maka Allah akan menjadikannya kaya tanpa harta, kuat tanpa tentara, dan menang tanpa bala bantuan.”
Menurutnya, orang yang bersedia meninggalkan maksiat dan menempuh jalan ketaatan akan memperoleh tiga anugerah utama.
Pertama, kaya tanpa harta, karena memiliki hati yang tenang meski tidak bergelimang kekayaan. Kedua, kuat tanpa tentara, sebab mendapatkan kekuatan langsung dari Allah SWT. Ketiga, mampu mengalahkan musuh tanpa bantuan manusia, karena pertolongan Allah menyertainya.
Menutup kajian, Taslim berharap momentum Ramadan menjadi sarana untuk memperbaiki akhlak dan memperkuat sifat-sifat terpuji.
“Di bulan Ramadan ini, semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya agar kita menjadi pribadi yang berakhlak mulia,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments