Pagi itu, Jumat (8/8/2025) selasar ruang kelas C Hotel Golden Tulip Essential Tangerang dipenuhi suara riuh‑riuh ceria. Sebagai fasilitator, saya menyiapkan setumpuk lembar A4 dan selotip kertas. Tujuannya sederhana, mengubah kertas fisik menjadi rangkaian kode melalui aktivitas unplugged.
Saat peserta (guru-guru kelas C) pertama kali mengetahui, mereka langsung bereaksi, antusias menyimak penjelasan saya. Suasana makin riuh ceria saat saya mengajak mereka keluar ruang kelas. Ya, kami beraktivitas di luar karena membutuhkan bantuan kotak-kotak pada lantai sebagai panduan pion manusia untuk bermain, sementara kelas kami full karpet.
Tanpa ragu, aktivitas pembelajaran di luar kelas menjadi semakin semarak saat tim mulai berupaya memecahkan kode pada kertas yang telah disediakan. Wajah-wajah pion manusia pun tampak gugup saat melihat teman satu timnya tak kelar-kelar memecahkan kode.
Mereka berdebat soal penemuan jawaban, urutan penyusunan, hingga penentuan kode dibalik kartu bilangan berwarna yang tersebar. Energi kolaboratif itu terasa menular, tawa dan pertukaran ide mengalir tanpa jeda.
Kegiatan ini secara tidak langsung menjembatani visualisasi fisik ke bahasa algoritma, dari visual ke alur logika. Beberapa peserta pun terdengar berbisik, “cek kodenya, cek lagi kodenya!”.
Momen menjadi pecah ketika salah satu kelompok berteriak, “berhasil!”. Meski secara otomatis sedikit menggoyahkan kelompok yang belum berhasil, tapi saya terus meminta yang lain melanjutkan langkahnya. “Itu belum tentu benar, lanjutkan!” teriak saya memotivasi.
Seketika rasa kagum saya beralih menjadi keyakinan bahwa AI dan coding bukan hal menakutkan, melainkan alat kreatif yang bisa mereka bawa ke kelas. Setiap kelompok mengikuti rangkaian KKA – memetakan input‑output, mengikuti algoritma, dan mengeksekusi kode. Hasilnya? Transformasi mindset.
Selama aktivitas, terlihat jelas semangat kolaboratif, ketekunan, dan rasa ingin tahu yang berkembang. Guru‑guru tak lagi menganggap coding sebagai mata pelajaran khusus. Mereka mulai melihat logika sebagai bahasa universal yang dapat dihadirkan lewat kertas, gerakan tangan, dan percakapan. Ini selaras dengan tujuan KKA: menumbuhkan pola pikir logis‑sistematis serta karakter inovatif pada pendidik, yang nantinya akan menular ke murid‑murid mereka.
Saya meyakini, dengan antusiasme yang menular, hari itu menegaskan bahwa unplugged coding bukan sekadar permainan, melainkan batu loncatan bagi guru‑guru untuk mengintegrasikan logika pemrograman ke dalam setiap mata pelajaran. Kertas yang dulu hanya jadi alat tulis kini berubah menjadi buku catatan hidup yang menuntun mereka menulis kode masa depan.
Kegiatan Bimbingan Teknis Pembelajaran Mendalam, Koding, Kecerdasan Artisial, dan Penguatan Karakter digelar oleh Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan Direktorat Sekolah Menengah Atas Kemendikdasmen. Region Banten ini diikuti 200 peserta guru SD, SMP, SMA, dan SMK di Hotel Golden Tulip Essential Tangerang.
Kertas Berbicara, Kode Menyala. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments