Laporan dari Makkah menghadirkan kisah penuh makna tentang tradisi sederhana di Masjidil Haram yang mengajarkan keikhlasan dan kebersamaan di bulan Ramadan.
Sore itu, langit Makkah perlahan meredup, sementara cahaya keemasan matahari yang mulai tenggelam memantul di pelataran Masjidil Haram, menghadirkan suasana syahdu yang membuat setiap jemaah larut dalam zikir dan doa.
Sufrah, Tradisi Sederhana Penuh Makna
Di antara ribuan jemaah, Anisah Herwati hanya bisa terdiam menyaksikan pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya saat berada di Tanah Suci, Rabu (18/03/2026).
Bukan kemegahan bangunan atau lautan manusia yang membuatnya tertegun, melainkan tradisi sederhana bernama sufrah—alas makan yang dibentangkan untuk berbuka puasa bersama.
“Rasanya haru sekali,” tutur Anisah pelan.
Guru SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya itu datang bersama suaminya, Dr. Mukayat Al Amin, untuk menunaikan ibadah umrah di bulan Ramadan, namun di tengah padatnya rangkaian ibadah, ia justru menemukan pelajaran hidup dari hal yang tampak sederhana.
Koreografi Tanpa Komando
Menjelang azan Magrib, suasana Masjidil Haram berubah, para petugas mulai bergerak cepat membawa gulungan plastik panjang yang kemudian dibentangkan di sela-sela jemaah yang duduk menanti waktu berbuka.
Tanpa teriakan atau instruksi keras, semuanya berjalan seperti sebuah koreografi yang telah lama terlatih, menghadirkan ketertiban yang mengagumkan.
Dalam hitungan menit, hamparan sufrah memanjang rapi membelah saf-saf jemaah, sementara di atasnya disusun berbagai hidangan sederhana seperti kurma, air zamzam, roti, hingga secangkir kecil gahwa yang aromanya menenangkan.
“Begitu cepat, begitu rapi, tapi juga penuh ketulusan,” kata Anisah takjub.
Saat Semua Menjadi Sama
Di atas sufrah tersebut, tidak ada lagi sekat perbedaan, semua jemaah duduk berdampingan tanpa memandang status, jabatan, atau asal negara, menanti waktu berbuka dalam kebersamaan.
Jemaah dari Afrika, Asia, hingga berbagai belahan dunia lainnya menyatu dalam satu barisan, menciptakan suasana persaudaraan yang hangat dan tulus.
“Inilah Islam yang sesungguhnya,” gumam Anisah.
Kesederhanaan yang Memuliakan
Hidangan yang tersaji memang sederhana, hanya kurma, air zamzam, roti, dan yogurt, namun justru di situlah letak keindahannya yang menghadirkan rasa cukup dan penuh syukur.
“Di sini saya belajar, rezeki itu bukan soal banyak atau sedikit, tapi soal keberkahan,” ungkapnya.
Saat azan Magrib berkumandang, ribuan tangan serempak terangkat memanjatkan doa, lalu kurma pertama disantap dengan penuh rasa syukur.
Datang dan Pergi Tanpa Jejak
Usai berbuka, para petugas kembali bergerak dengan cepat, menggulung kembali sufrah yang sebelumnya dibentangkan, hingga dalam hitungan menit area tersebut kembali bersih tanpa sisa makanan.
Masjid kembali seperti semula—suci, rapi, dan siap digunakan untuk salat berjamaah.
“Menyaksikan ini seperti melihat bagaimana Islam mengajarkan ketertiban, kebersihan, dan pelayanan dengan penuh keikhlasan,” ujar Anisah.
Menapaki Jejak Sejarah
Perjalanan spiritual tersebut berlanjut bersama rombongan KBIHU PDM Surabaya dengan mengikuti tadabur ke sejumlah lokasi bersejarah, salah satunya Gua Tsur.
Di tempat itu, Anisah membayangkan bagaimana Rasulullah SAW bersama Abu Bakar bersembunyi selama tiga hari tiga malam saat peristiwa hijrah, dalam kondisi penuh keterbatasan namun mendapat perlindungan dari Allah SWT.
“Masyaallah… di sini saya benar-benar merasakan betapa besar pertolongan Allah,” ucapnya lirih.
Pulang dengan Hati yang Berubah
Bagi Anisah, perjalanan ini bukan sekadar ibadah fisik, melainkan perjalanan batin yang mengajarkan keikhlasan, kesederhanaan, dan makna persaudaraan.
Dari selembar sufrah, ia belajar tentang ketulusan, dari satu baris saf ia memahami kesetaraan, dan dari perjalanan spiritualnya ia menyadari bahwa pertolongan Allah selalu hadir dengan cara yang tak terduga.
Di tengah gemerlap Makkah dan jutaan jemaah dari seluruh dunia, ia menemukan satu hal paling berharga: kesederhanaan yang menguatkan iman.





0 Tanggapan
Empty Comments