Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Makmum Jadi Khatib: Cerita Lebaran yang Tak Terlupakan

Iklan Landscape Smamda
Dari Makmum Jadi Khatib: Cerita Lebaran yang Tak Terlupakan
Dari Makmum Jadi Khatib: Cerita Lebaran yang Tak Terlupakan. Fotografer: Bait Sang Surya
pwmu.co -

Sebuah pengalaman tak terduga mewarnai pelaksanaan Salat Idulfitri di kampung halaman. Niat sederhana untuk menjadi makmum berubah menjadi amanah besar sebagai imam sekaligus khatib, di tengah keterbatasan waktu, tantangan bahasa, dan cuaca yang tak bersahabat.

Amanah Mendadak di Hari Raya

Pagi hari menjelang Idulfitri, sebuah panggilan telepon mengubah rencana sepenuhnya. Penulis yang awalnya hanya ingin menjalani salat sebagai jamaah, justru diminta menggantikan posisi khatib di Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, Sumenep.

Situasi ini bukan pertama kali terjadi. Namun, tantangan kali ini terasa berbeda karena khutbah harus disampaikan menggunakan bahasa Madura, yang jarang digunakan secara aktif dalam keseharian.

Tantangan Bahasa dalam Dakwah

Penggunaan bahasa Madura menjadi tantangan tersendiri. Sebagai perantau, penulis lebih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia, sehingga proses menerjemahkan teks khutbah menjadi tidak sekadar memindahkan kata, tetapi juga menyesuaikan rasa dan konteks.

Meskipun hasil terjemahan terasa kurang sempurna, semangat untuk menyampaikan pesan tetap menjadi prioritas utama. Hal ini mengingat mayoritas jamaah lebih nyaman dengan bahasa daerah.

Dari Khatib Menjadi Imam

Sesampainya di lokasi salat di lingkungan Muhammadiyah Bluto, kejutan lain muncul. Penulis tidak hanya diminta menjadi khatib, tetapi juga imam salat.

Dengan waktu persiapan yang terbatas dan kondisi langit yang mulai mendung, salat Idulfitri akhirnya dilaksanakan sedikit mundur. Bacaan ayat dipilih sederhana namun bermakna, mengangkat tema puasa dari Surah Al-Baqarah.

Khutbah di Tengah Gerimis

Saat khutbah dimulai, rintik hujan perlahan turun. Situasi ini membuat penyampaian khutbah harus dipersingkat. Dengan bahasa Madura yang sederhana, inti pesan disampaikan dalam waktu singkat, tanpa mengurangi makna yang ingin disampaikan.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Khutbah Idulfitri pun selesai dalam durasi kurang dari tujuh menit. Doa ditutup dengan harapan keberkahan, keselamatan, dan kebaikan dunia serta akhirat.

Menariknya, gerimis sempat mereda sejenak saat doa hampir usai, sebelum akhirnya hujan turun lebih deras setelah seluruh rangkaian ibadah selesai.

Kehangatan Tradisi Usai Salat

Setelah salat, jamaah segera beranjak untuk berteduh sekaligus melanjutkan tradisi makan bersama. Hidangan khas berupa kaldu daging sapi, ketupat, sambal, dan kerupuk menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Lebaran di desa tersebut.

Suasana kebersamaan tetap terjaga meski hujan turun. Jamaah berkumpul di teras rumah dan mushala, berbagi cerita dan tawa dalam nuansa hangat penuh kekeluargaan.

Makna Pulang yang Sesungguhnya

Pengalaman ini memberikan refleksi mendalam tentang makna pulang kampung. Bukan sekadar kembali ke tempat asal, tetapi juga kembali pada peran, tanggung jawab, dan nilai-nilai yang membentuk jati diri.

Di balik kegelisahan, keterbatasan, dan situasi yang tidak ideal, terdapat rasa syukur yang tumbuh. Amanah dapat ditunaikan, kebersamaan tetap terjaga, dan keberkahan terasa nyata.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡