Seringkali, langkah yang kita ambil dengan niat paling sederhana justru membawa kita ke tempat yang tak pernah terbayangkan. Itulah yang saya rasakan saat berdiri di tengah atmosfer akademik 14th SEAMEO – University of Tsukuba Symposium di Jepang, (1-9/2/2026).
Siapa sangka, sebuah inisiatif kecil bertajuk Teachers’ Lab yang kami rintis di SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik, menjadi jembatan yang membawa saya belajar langsung ke jantung pendidikan negeri Sakura.
Menggeser Paradigma: Bukan Menilai, Tapi Belajar
Perjalanan ini tidak dimulai dari podium simposium, melainkan dari lorong-lorong kelas di SDMM. Sejak tahun 2025, saya bersama tim mencoba melakukan hal yang tidak biasa: menggeser model supervisi konvensional menjadi Lesson Study (belajar pembelajaran).
Filosofinya sederhana namun mendalam: kami ingin mengubah sudut pandang. Supervisi bukan lagi momen untuk menghakimi cara guru mengajar, melainkan sebuah peristiwa untuk bersama-sama mengamati bagaimana siswa belajar. Kami percaya, saat guru saling membuka pintu kelasnya, di situlah inspirasi mengalir dan komunitas belajar yang sesungguhnya tumbuh.
Tentu saja, mengubah cara pandang tidak semudah membalik telapak tangan. Saat saya menginisiasi Teacher Laboratory Conference (TLC), tantangan besar menghadang. Mengajak rekan guru untuk “buka kelas” dan diobservasi secara terbuka membutuhkan keberanian mental yang luar biasa. Di titik itu, saya hanya berpegang pada satu keyakinan: jika niat ini baik untuk kemajuan siswa, Allah pasti akan mudahkan jalannya.
Keyakinan itu berbuah manis. Inisiatif TLC ini menarik perhatian Arif Hidayat, PhD dari Center for Excellence of Lesson and Learning Studies (CELLS) UPI. Beliau mengajak saya berkolaborasi mempublikasikan praktik Teachers’ Lab SDMM. Alhamdulillah, naskah tersebut diterima di kancah internasional dan membawa saya terbang ke Jepang.
Pembelajaran sebagai Seni
Saya melihat langsung bagaimana guru-guru Jepang memperlakukan pembelajaran sebagai sebuah seni yang terus diasah bersama.
Sejak tahun 2018, saya sudah tiga kali memberanikan diri menjadi guru buka kelas. Mengapa? Karena saya ingin membuktikan kepada rekan sejawat bahwa menjadi pusat observasi bukanlah sebuah beban atau ajang pamer kehebatan.
Menjadi guru buka kelas adalah bukti bahwa kita adalah pembelajar sejati. Ini adalah pernyataan bahwa kita tidak sedang berjuang sendirian (single fighter). Kita punya komunitas yang siap saling mendukung, saling mengoreksi, dan saling menginspirasi.
Pesan saya untuk rekan-rekan pendidik: Jangan takut untuk membuka pintu kelasmu. Di balik kerentanan kita saat diobservasi, ada ruang tumbuh yang sangat luas bagi kita dan anak-anak didik kita. Tetaplah melangkah dalam kebaikan, meski dalam sunyi atau di tengah kritik, karena setiap niat tulus akan menemukan jalannya sendiri menuju cahaya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments