
PWMU.CO – Langit siang di Muhammadiyah Boarding School Porong terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan karena matahari, tapi karena kedatangan tamu istimewa dari negeri seberang.
Seorang pengasuh pesantren tahfidz asal Narathiwat, Thailand Selatan, Ridwan Chesaé, hadir di tengah-tengah para santri di pesantren modern yang ada di Porong, Sidoarjo, SMP Muhammadiyah 4 Boarding School Porong.
Baru tiba dari Bandara Juanda pukul 11.00 siang hari itu, Ia langsung menuju ke Porong tanpa menunggu lelah mengendap, Kamis (22/5/2025).
Ridwan adalah pengasuh di dua lembaga Islam terkemuka di Thailand: Ma’had Tahfidz Imam Al-Ghazali dan Mu’assasah Ad-Dakwah wat Tarbiyah Al-Islamiyyah.
Di kedua lembaga ini, ia membina santri dari berbagai latar belakang untuk menjadi penghafal Al-Qur’an dan dai muda yang tangguh di tengah masyarakat minoritas Muslim.
Sesaat setelah salat Zuhur berjamaah, Ridwan berdiri di depan para santri. Sosoknya sederhana namun sorot matanya penuh keteguhan, seperti datang membawa cahaya dari jauh—cahaya ilmu dan dakwah.
Dalam motivasi singkatnya, ia tidak sekadar berbicara, tapi seolah mengalirkan semangat dari tanah minoritas Muslim Thailand ke hati para pelajar muda Indonesia.
“Ilmu agama adalah cahaya kehidupan. Jangan silau dengan indahnya dunia yang fana. Fokuslah menyiapkan keindahan hidup di akhirat, dan jadilah generasi yang membawa peta menuju surga,” tegasnya.
Ia lalu berkisah, bahwa di pesantrennya di Thailand, para santri tidak hanya menghafal al-Qur’an, tapi juga mengkaji kitab-kitab karangan ulama Nusantara.
“Kalian tahu, banyak kitab ulama Indonesia yang kami pelajari di Thailand. Maka, bersyukurlah kalian menjadi anak bangsa yang mewarisi warisan ulama yang luar biasa,” ujarnya.
Umat Islam di Thailand
Di Thailand, umat Islam adalah minoritas. Tidak mudah membangun pesantren, tidak mudah berdakwah. Namun, justru karena itulah peluang dakwah sangat besar. Di tengah mayoritas masyarakat non-Muslim, mereka terus menyalakan lentera Islam.
“Di negeri kami, yang mayoritas Hindu dan Buddha, setiap suara dakwah adalah cahaya. Tapi di sini, di Indonesia, dakwah itu mudah. Maka jangan sia-siakan kemudahan itu,” pesannya, menembus ruang batin santri.
Kehadirannya di MBS Porong menjadi momen langka. Dalam jadwalnya yang padat hanya tiga hari di Indonesia—menuju Kediri, Ponorogo, lalu kembali ke Thailand pada Sabtu pagi, ia menyempatkan diri datang ke pesantren yang dikelola oleh Persyarikatan Muhammadiyah ini.
Dan di sinilah, para santri menyadari bahwa dunia Islam itu luas, dan mereka adalah bagian penting dari bentangan perjuangan itu.





0 Tanggapan
Empty Comments