Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Ramadan Menuju Ketakwaan Sejati: Seruan Muchamad Arifin di Tengah Lautan Jamaah Idul Fitri

Iklan Landscape Smamda
Dari Ramadan Menuju Ketakwaan Sejati: Seruan Muchamad Arifin di Tengah Lautan Jamaah Idul Fitri
Muchamad Arifin saat menjadi khatib sholat idul Fitri 1447 H. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1447 H di Masjid Mujahidin Surabaya yang beralamat di Jalan Perak Barat 275 berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan. Ribuan jamaah memadati area masjid hingga meluber ke sepanjang Jalan Perak Timur dan Perak Barat, menciptakan suasana yang semarak dan menggugah.

Antusiasme warga tampak begitu tinggi, seakan tidak terbendung untuk mengikuti dan mendengarkan khutbah yang disampaikan oleh Muchamad Arifin, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Gelombang kehadiran jamaah tersebut menambah gebyar pelaksanaan Idul Fitri sekaligus mencerminkan kerinduan umat terhadap siraman rohani yang menyejukkan.

Dalam khutbahnya, Muchamad Arifin menegaskan bahwa Ramadan bukanlah akhir dari perjalanan spiritual, melainkan awal untuk menjaga ketakwaan dan merawat ampunan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Mengutip firman Allah dalam QS. Asy-Syam ayat 9-10, ia mengingatkan pentingnya menjaga kesucian jiwa sebagai kunci keberuntungan hidup.

Ia juga menekankan bahwa keberhasilan puasa Ramadan sejatinya tidak diukur saat bulan Ramadan berlangsung, melainkan setelah Ramadan itu berlalu. Ukuran keberhasilan itu terlihat dari sejauh mana seorang hamba tetap mampu menjaga kualitas ibadahnya—apakah masih terus shalat dengan khusyuk, menjaga lisan, memperbanyak amal, dan menjauhi perbuatan sia-sia sebagaimana yang dilakukan selama Ramadan.

Ia kemudian mengajak jamaah untuk meluruskan niat dalam beribadah, menegaskan bahwa setiap amal—baik shalat, sedekah, maupun kebaikan lainnya—harus dilakukan semata-mata karena Allah. Idul Fitri, menurutnya, adalah momentum memperkuat keikhlasan, bukan sekadar perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa.

Dengan pendekatan yang menyentuh, ia menggambarkan proses perubahan melalui analogi alam: ulat yang berubah menjadi kupu-kupu dan ular yang berganti kulit. Perumpamaan ini menjadi refleksi mendalam bagi jamaah untuk bertanya pada diri masing-masing: apa yang telah berubah setelah menjalani Ramadan?

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kebiasaan baik selama Ramadan—menjaga diri dari hal sia-sia, memperbanyak ibadah, dan mengisi waktu dengan amal saleh—harus terus dipertahankan. Tantangan sesungguhnya, menurutnya, adalah menjaga konsistensi setelah Ramadan berlalu.

Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, ia juga mengingatkan agar kemajuan tersebut tidak menjadi penghalang dalam menjaga nilai-nilai kebaikan. Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana memperkuat iman dan memperluas dakwah.

Khutbah Idul Fitri ini menjadi pengingat kuat bahwa kemenangan sejati bukan hanya dirayakan, tetapi diwujudkan dalam perubahan diri yang berkelanjutan—menjadi pribadi yang lebih bersih, lebih ikhlas, dan lebih bertakwa.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Lailaha Ilallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡