Di sebuah ruang kerja sederhana di SMKN 12 Surabaya, Jumat (26/9/2025), sejarah seperti hadir kembali. Bukan melalui naskah buku tebal, melainkan lewat sebuah benda kecil berbentuk radio jadul yang diberi nama “Radio Bung Tomo”.
Begitu tombol daya ditekan, terdengar lantang cuplikan suara pidato Bung Tomo. Bukan sekadar bunyi, melainkan gema perjuangan yang pernah menggetarkan Surabaya pada 1945.
Radio ini memang unik. Ia tidak bisa bicara, tetapi mampu bersuara, menghadirkan kembali semangat yang pernah menggetarkan Arek-Arek Suroboyo kala mempertahankan kemerdekaan dari serdadu Sekutu.
Suara Bung Tomo berdurasi sekitar satu setengah menit itu menjadi penanda bahwa radio sudah menyala, sebelum pendengar beralih mendengarkan siaran AM atau FM sesuai selera. Sebuah cara sederhana namun sarat makna untuk menjaga api ingatan kolektif.
Gagasan ini lahir pada Mei 2025. Puri Aksara Rajapatni, sebuah komunitas penggiat aksara dan sejarah, berkolaborasi dengan tenaga muda SMKN 12 Surabaya.
Hasilnya, empat bulan kemudian, dua prototipe radio berhasil diciptakan: BT-01 dan BT-02. Keduanya serupa dalam fungsi, berbeda pada ukuran.
BT-01 berdesain lebih besar, sedangkan BT-02 lebih ringkas. Namun keduanya sama-sama dirancang bukan sekadar sebagai alat hiburan, melainkan aksesoris yang menyimpan nilai historis.
“Radio Bung Tomo ini tidak bisa bicara, tapi bisa bersuara yang isinya menjaga semangat kejuangan Bung Tomo. Kalau ingin merasakan sensasi mendengarkan pidato Bung Tomo melalui radio ala jadul, ya radio ini bendanya,” ujar A. Herman Thony, pegiat budaya Surabaya.
Gema sejarah ini terasa semakin relevan ketika mengingat satu peristiwa pahit: hilangnya Rumah Radio Bung Tomo di Jalan Mawar 10 Surabaya. Bangunan yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya melalui SK Wali Kota Surabaya No. 188.45/251/402.1.04/1996 itu dibongkar pada 2016.
Lenyaplah jejak fisik tempat Bung Tomo dulu mengobarkan semangat perjuangan lewat gelombang radio. Maka, kehadiran Radio Bung Tomo versi modern ini menjadi semacam perlawanan kecil terhadap lupa.
“Kita wajib jaga semangat kejuangan yang dikobar-kobarkan Bung Tomo, karena kita tahu kejuangan adalah tangga mencapai cita-cita kemerdekaan,” imbuh Thony.
Kepala SMKN 12 Surabaya, Cone Kustarto Arifin, yang mendampingi tim Rajapatni saat melihat prototipe, mengingatkan pentingnya uji pasar.
“Radio ini perlu diuji untuk mengetahui kelebihan dan kekurangannya sebelum diproduksi massal. Logo dan desainnya juga harus segera dipatenkan,” ujarnya.
Rencana ke depan, setiap unit radio akan dilengkapi manual book, sebagai panduan penggunaan.
Tak sekadar teknologi, Radio Bung Tomo juga mengusung pesan kebudayaan. Pada logo yang bergambar mikrofon, disematkan aksara Jawa “Syu” (ꦯꦸ), singkatan dari ꦯꦸꦫꦨꦪ atau Syurabhaya.
Hal ini akan menjadi bukti bahwa aksara tradisional masih digunakan, sekaligus mendukung usulan praktik penulisan aksara tradisional ke UNESCO.
Mungkin benar, radio kecil ini tidak bisa bicara. Namun, dengan suaranya yang menggema dari masa lalu, ia mengingatkan bahwa Surabaya pernah bergetar oleh lantang Bung Tomo.
Dan kini, generasi muda punya cara baru untuk merasakan semangat itu—dari sebuah radio yang bersahaja, namun penuh arti. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments