Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Surabaya untuk Asia Tenggara: LKLB Bangun Empati dan Kohesi Sosial

Iklan Landscape Smamda
Dari Surabaya untuk Asia Tenggara: LKLB Bangun Empati dan Kohesi Sosial
Para guru lintas agama peserta Hybrid Upgrading Workshop Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang diadakan oleh Institut Leimena melakukan kunjungan rumah ibadah sekaligus saling berdialog di Masjid Jenderal Sudirman. Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Upaya merawat kemajemukan di Indonesia terus diperkuat melalui program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB). Program yang diinisiasi Institut Leimena bersama sekitar 40 mitra dari institusi pendidikan, organisasi keagamaan, serta kementerian dan lembaga ini menempatkan guru sebagai agen perubahan untuk menghadapi tantangan intoleransi dan ancaman xenofobia.

Sebanyak 34 guru, mayoritas berasal dari Jawa Timur, mengikuti Hybrid Upgrading Workshop LKLB yang digelar Jumat–Ahad (6–8/2/2026) di Surabaya. Mereka merupakan bagian dari 10.500 alumni LKLB yang tersebar di 38 provinsi dan telah menyelesaikan pelatihan tahap dasar.

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menjelaskan bahwa LKLB dirancang untuk membekali peserta dengan kemampuan membangun relasi dan bekerja sama dengan individu dari latar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda.

“Kompetensi ini sangat penting dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia,” ujarnya di sela workshop bertema Pengembangan Program dan Perencanaan Pembelajaran yang Memperkukuh Kebebasan Beragama dan Supremasi Hukum Melalui Pendekatan LKLB, Sabtu (7/2/2026).

Menurut Matius, LKLB berfokus menumbuhkan rasa saling percaya dengan mengikis prasangka dan stereotipe negatif. Ia menilai ketakutan terhadap perbedaan kerap menjadi akar konflik sosial. Karena itu, pendekatan LKLB tidak berhenti pada dialog antaragama yang bersifat pengenalan semata, melainkan mendorong lahirnya empati dan solidaritas.

Pendekatan tersebut bertumpu pada tiga kompetensi utama, yakni pribadi, komparatif, dan kolaboratif. Kompetensi pribadi menekankan pemahaman terhadap agama sendiri dalam relasinya dengan pemeluk agama lain. Kompetensi komparatif mendorong pemahaman tentang bagaimana agama lain memandang perbedaan. Adapun kompetensi kolaboratif mengarahkan peserta untuk tetap mampu bekerja sama demi kebaikan bersama meski memiliki keyakinan berbeda.

“Untuk memahami agama tertentu, sebaiknya berdialog langsung dengan pemeluknya, bukan sekadar mengandalkan informasi dari media sosial atau pihak lain. Di situlah empati dibangun,” jelasnya.

Program LKLB Indonesia juga menarik perhatian sejumlah negara Asia Tenggara. Dalam workshop kali ini, enam delegasi dari Mindanao State University System, Filipina, hadir untuk mempelajari kemungkinan integrasi model LKLB ke dalam kurikulum kampus mereka.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Sebelumnya, perwakilan dari Ministry of Basic, Higher, and Technical Education (MBHTE) Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (BARMM), Filipina, serta Ho Chi Minh National Academy of Politics, Vietnam, telah melakukan observasi terhadap program serupa di Indonesia. Bahkan, Presiden Singapura pernah menyoroti LKLB sebagai contoh praktik membangun kohesi sosial di masyarakat multikultural.

Matius menambahkan, literasi keagamaan lintas budaya kini telah masuk dalam strategi jangka panjang ASEAN untuk membentuk komunitas yang inklusif dan solid dalam 20 tahun mendatang.

Pandangan senada disampaikan Wakil Indonesia di Komisi HAM Antarpemerintah ASEAN (AICHR) periode 2019–2024, Yuyun Wahyuningrum. Ia menilai LKLB membuka ruang dialog yang selama ini terasa sensitif di kawasan Asia Tenggara. Pendekatan ini menghadirkan bahasa yang aman dan membumi untuk membicarakan agama sebagai ruang perjumpaan, bukan sumber ketegangan.

“Sering kali isu agama diakui penting, tetapi enggan dibahas secara terbuka. Perbedaan justru dipandang sebagai masalah, bukan sebagai bagian dari identitas kawasan yang bisa menjadi kekuatan perdamaian,” ujarnya sebagai narasumber utama.

Yuyun juga menekankan pentingnya topik kebebasan beragama dan supremasi hukum dalam workshop tersebut. Berdasarkan pengalamannya lebih dari dua dekade di bidang HAM dan enam tahun di AICHR, ia meyakini hak asasi manusia hadir dalam praktik sehari-hari. “Hak asasi manusia hidup di sekolah, di ruang kelas. Di cara seorang guru menyapa murid yang keyakinannya berbeda. Di situ nilai-nilai itu benar-benar diuji,” tegasnya.

lklb
Para guru lintas agama peserta Hybrid Upgrading Workshop Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang diadakan oleh Institut Leimena melakukan kunjungan rumah ibadah sekaligus saling berdialog di GKI Pregolan Bunder di Surabaya, Sabtu (7/2/2026). Foto: Istimewa/PWMU.CO

Sejak 2021, Institut Leimena telah menyelenggarakan 70 kelas pelatihan dasar LKLB dengan lebih dari 10.500 alumni dari 38 provinsi. Selain itu, sebanyak 23 workshop lanjutan telah diadakan dan diikuti sekitar 700 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu