Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Tapak Suci ke Panggung Dunia: Kiprah Rony Syaifullah Mengabdi untuk Pencak Silat Indonesia

Iklan Landscape Smamda
Dari Tapak Suci ke Panggung Dunia: Kiprah Rony Syaifullah Mengabdi untuk Pencak Silat Indonesia
Rony Syaifullah. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Pencak silat bukan sekadar olahraga bagi Rony Syaifullah. Ia adalah jalan hidup, ruang pengabdian, sekaligus sarana perjuangan yang telah ditempuhnya sejak bangku SMA hingga kini menjadi akademisi dan tokoh pembinaan prestasi nasional.

Mantan juara dunia dan pelatih kepala Asian Games 2018 ini telah menorehkan sejarah panjang bagi pencak silat Indonesia, khususnya melalui Tapak Suci Putera Muhammadiyah.

Rony Syaifullah menempuh pendidikan di MI Muhammadiyah Simo, dan SMP Muhammadiyah Simo Boyolali. Kemudian melanjutkan pendidikan menengah atas di Kota Solo.

Rony mengenal pencak silat pertama kali saat duduk di kelas 1 SMA Muhammadiyah Solo. Ketertarikannya bermula dari kegiatan ekstrakurikuler Tapak Suci yang ia ikuti pada awal 1990-an. Dari situlah perjalanan panjangnya sebagai pesilat dimulai.

“Saya mengenal pencak silat melalui Tapak Suci di SMA. Awalnya hanya ikut ekstrakurikuler, dari siswa dasar, sabuk kuning,” ujar Rony mengenang awal perjalanannya, Ahad (11/1/26).

Lahir pada 26 Agustus 1976, Rony tumbuh dan menempuh pendidikan dasar hingga menengah di lingkungan Muhammadiyah.

Pembinaan yang konsisten serta disiplin latihan membuatnya terus berkembang, mengikuti berbagai ujian kenaikan tingkat (UKT) dan kejuaraan sejak usia remaja.

Namun, perjalanan sebagai atlet tidak selalu mulus. Saat masih berstatus pelajar SMA, Rony sempat mengalami kecelakaan yang mengakibatkan patah tangan. Cedera tersebut membuatnya gagal meraih prestasi di level pelajar.

Meski demikian, semangat pria asal Blangung, Simo, Boyolali Jawa Tengah ini tidak luntur. Setelah menjalani operasi, Rony tetap datang ke tempat latihan.

Pelatihnya melihat potensi besar yang dimiliki dan berkomunikasi dengan orang tuanya agar ia tetap diizinkan berlatih. Keputusan itulah yang menjadi titik balik kariernya.

Prestasi gemilang justru diraih saat menempuh pendidikan Strata 1. Pada 1997, Rony langsung mencetak prestasi internasional dengan meraih gelar juara dunia. Sejak saat itu, namanya melambung di kancah pencak silat internasional.

Secara beruntun, ia mempersembahkan medali emas untuk Indonesia di ajang SEA Games pada 1997, 1999, 2001, 2003, hingga total enam kali keikutsertaan. Selain itu, ia juga menorehkan prestasi di berbagai kejuaraan nasional, PON, maupun single event internasional.

“Prestasi internasional pertama saya langsung juara dunia tahun 1997. Setelah itu SEA Games berturut-turut, alhamdulillah selalu juara,” ungkapnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Karier sebagai atlet nasional berlangsung dari 1996 hingga 2008, dengan tiga kali keikutsertaan di PON dan seluruhnya berakhir dengan gelar juara. PON Kaltim 2008 menjadi penutup perjalanan Rony sebagai atlet, yang diakhiri dengan penuh kebanggaan.

Usai gantung tanding, Rony tidak meninggalkan dunia pencak silat. Ia mengambil lisensi pelatih nasional pada 2009 dan mulai menapaki peran baru sebagai pelatih tim nasional Indonesia.

Puncak karier kepelatihannya terjadi pada Asian Games 2018 Jakarta–Palembang, ketika Indonesia sukses meraih 14 medali emas cabang pencak silat.

“Di Asian Games 2018 itu menjadi puncak karier saya sebagai pelatih, saat dipercaya menjadi head coach dan Indonesia meraih 14 emas,” kenangnya.

Setelah 2018, Rony memilih mengakhiri perannya sebagai pelatih aktif. Ia kemudian fokus sebagai akademisi dan pejabat struktural di Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, serta mengemban amanah organisasi di Muhammadiyah.

Saat ini, Rony Syaifullah menyandang gelar Pendekar Utama Tapak Suci, sekaligus dipercaya sebagai Ketua II Pembinaan Prestasi Pusat Tapak Suci Putera Muhammadiyah dan anggota Lembaga Pengembangan Olahraga (LPO) PP Muhammadiyah.

Dalam peran tersebut, ia lebih banyak berkontribusi pada konsep, gagasan, dan desain besar pembinaan prestasi.

Di bawah pembinaannya bersama dengan tim, sejak 2018 hingga 2025, Tapak Suci konsisten mendominasi berbagai kejuaraan, mulai dari PON, POPNAS, hingga kejuaraan nasional lainnya. Prestasi ini menjadi bukti nyata keberhasilan sistem pembinaan yang diterapkan.

Rony berharap ke depan pesilat-pesilat Tapak Suci tidak hanya berjaya di tingkat nasional, tetapi juga tampil sebagai wakil Indonesia di level internasional, termasuk SEA Games, kejuaraan dunia, Asian Games, hingga Olimpiade.

“Saya ingin pesilat Tapak Suci banyak muncul di level internasional, mewakili Indonesia di kancah yang lebih tinggi,” ujarnya.

Bagi Rony Syaifullah, pencak silat bukan sekadar prestasi, melainkan pengabdian seumur hidup. Dari sabuk kuning di SMA hingga menjadi Pendekar Utama dan tokoh pembinaan nasional, ia menutup setiap fase perjalanan kariernya dengan satu prinsip: happy ending, untuk dirinya dan untuk Indonesia. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu