
PWMU.CO – Problematika kehidupan manusia pasti selalu datang dan pergi silih berganti. Salah satu problematika kekinian yang dominan melanda para remaja labil dan merasa kehilangan makna hidup adalah tentang siapakah Tuhannya yang sejati dalam kehidupannya.
Problematika mendera para remaja sering kali muncul ketika mereka mengalami musibah, lalu merasa kecewa dan menyalahkan Tuhan karena menganggap-Nya tidak adil. Dalam kondisi tersebut, muncul berbagai pertanyaan dalam benak mereka, seperti: “Di mana Engkau, Tuhan? Mengapa Engkau tidak menolongku? Tunjukkan bahwa Engkau dekat dengan hamba-Mu. Tunjukkan pertolongan-Mu. Tunjukkan diri-Mu jika benar Engkau adalah Tuhan sejati seperti yang dikatakan orang-orang”.
Dalam proses falsifikasi, hal ini biasa terjadi. Namun, seiring belajar dan berfikirnya seseorang, maka hal ini akan terjawab dengan hipotesis yang bisa tervalidasi.
Siapakah Tuhan yang sejati?
Dalam pandangan filsafat teologis, Tuhan adalah Sang Pemegang Kekuasaan bagi seluruh semesta. Filsuf Yunani Aristoteles mengatakan dalam metafisika ketuhanan, bahwasanya Tuhan adalah penggerak yang tidak bergerak. Artinya, Tuhan sejati menggerakkan seluruh alam semesta dan memiliki kekuasaan atas seluruh hasil ciptaan-Nya. Namun Tuhan tidak bergerak sebagaimana makhluk-Nya, karena Tuhan yang sejati tidak sama dengan makhluk-Nya.
Konsep Tuhan yang sejati sendiri telah disebut dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam QS Al-Ikhlas:
قُلْ هُوَ اللّٰهُ أَحَدٌۚ
Pada ayat pertama Allah berfirman bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa. Dalam “Tafsir Al-Azhar” karya Buya Hamka menyebutkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah Tuhan yang satu, yang istilahnya tauhid. Tidak mungkin Tuhan ada lebih dari satu, karena jika ada lebih dari satu akan menyebabkan ketidakteraturan hukum alam. Hal ini dapat terlihat sebagaimana tuhan-tuhannya kaum jahiliyah, yaitu berhala. Hal demikian justru akan menimbulkan kekacauan dan ketidaknyamanan dalam kehidupan.
اللّٰهُ الصَّمَدُۚ
Ayat kedua ini artinya bahwa Tuhan adalah tempat segala kebergantungan dalam kehidupan. Dalam ilmu Antropologi, manusia tidak akan mampu hidup dan juga bergerak sendiri.
Lalu muncul pertanyaan, “Tapikan manusia bisa minta tolong kepada manusia lain?” Dalam logika filsafat, terdapat hukum kausalitas. Manusia merupakan akibat dari penciptaan sebab, yaitu Tuhan yang menciptakannya. Maka, tempat bergantung manusia adalah causa prima, yaitu Tuhan sebagai tujuan bermunajat untuk meminta pertolongan. Sebab Tuhan yang sejati adalah Tuhan yang dekat dengan makhluk-Nya, sebagaimana dalam pandangan teologi Al-Qur’an, di Surah Al-Baqarah ayat 186:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ…
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat……..”
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ
Sedang pada ayat ketiga menegaskan bahwa Tuhan yang sejati tidak akan pernah beranak dan tidak pula diperanakkan. Sebagaimana Tuhan itu Esa, maka tidak bisa disamakan dengan makhluk-Nya. Makhluk seperti manusia, hewan, tumbuhan mengalami siklus berkembang biak. Sedangkan Tuhan tidak mengalami siklus sedemikian itu. Mengapa? Karena Tuhan-lah yang menciptakan siklus itu. Inilah yang disebut teori “penggerak yang tidak bergerak”.
وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا أَحَدٌࣖ
Pada ayat yang keempat, sangat jelas bahwa tidak ada satu pun makhluk yang bisa setara gdengan Tuhan. Dalam sejarah dikisahkan bahwa Fir’aun pada zaman Nabi Musa membangun sebuah piramida tinggi untuk mengintip Tuhannya Musa. Namun hal itu sia-sia, dan bahkan pada akhir kehidupannya Fir’aun tenggelam dalam lautan.
Itulah Tuhan sejati, Tuhan yang Esa, tempat bergantung, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada satu pun yang menyamai-Nya.
Lalu muncul lagi pertanyaan, “lantas, bagaimana aku bisa mengetahui bahwa Tuhan sejati benar-benar ada? Bagaimana aku bisa mengetahui bahwa Allah adalah Tuhan yang sejati?”
Pada kesempatan ini saya mencoba untuk membahasnya lebih mendalam.
Dimanakah Engkau Tuhan? Bisakah Aku Melihat-Mu Lalu Mengimanimu dengan Kesungguhan Hatiku?
Melalui pendekatan falsafah teologis berdasar Al-Qur’an, kita akan mengetahui tentang siapa Tuhan yang sejati itu. Merupakan hal yang wajar-wajar saja jika ada sebagian orang yang mempertanyakan hal-hal yang lebih mendalam tentang ketuhanan. Dengan demikian akan semakin percaya tentang keberadaan Tuhan dengan perspektif hati dan akal sehatnya.
Seorang filsuf Barat modern, Rene Descartes, dalam bukunya A Primer of Philosophy mengatakan bahwa cara seseorang mengetahui Tuhan benar-benar ada adalah dengan merefleksikan diri. Kita memiliki banyak kelemahan dan keterbatasan. Maka siapakah yang mampu menggerakkan angin? Siapakah yang menciptakan oksigen sebanyak ini? Siapakah yang memberi makanan kepada ikan-ikan di lautan? Maka jawabannya adalah hanyalah Tuhan.
Mengapa demikian? Karena Tuhan memiliki semua sifat yang sempurna dan zat yang kekal, sedangkan manusia penuh keterbatasan.
Begitu pula dalam hukum alam menurut penjelasan Buya Hamka dalam “Falsafah Hidup” bahwa keteraturan alam semesta ini adalah karena ada yang menggerakkan semuanya. Tidak mungkin ada makhluk yang mampu mengatur semua ini, kecuali Tuhan yang Maha Esa, Allah Subhanahu wa ta’ala.
Tuhan tidak bersifat korporeal seperti makhluk-Nya, karenaTuhan tidak tercipta dari materi apapun. Tuhan tidak bisa sama dan tidak mungkin dapat terlihat dengan mata telanjang. Qur’an surat Thaha ayat 5 Allah berfirman:
الرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى
“(Allah) Yang Maha Pengasih bersemayam di atas ‘Arsy.”
Apakah ‘arsy itu? Apakah di langit? Manusia terbatas untuk mengetahuinya. Tapi Tuhan senantiasa mengawasi makhluk-Nya. Jika kita tidur, Tuhan tidak tidur. Jika kita makan untuk memperoleh energi, Tuhan tidak butuh makan. Seorang presiden bisa memimpin rakyatnya, tapi jika ia tidur, maka ia tak bisa memimpin. Berbeda dengan Tuhan yang tak pernah lengah. Jika makhluk memilih menjauh dari-Nya, sama artinya sebagai awal kebinasaan si makhluk tersebut.
Keberadaan Tuhan tidak dapat hanya terasakan melalui fisik, tapi harus dengan pendekatan hati yang mendalam. Merasakan nikmat-Nya, ketenangan-Nya, atau rezeki-Nya. Keimanan berasal dari hati yang mau menerima kebenaran. Jika akal dan hati menolak keberadaan Tuhan, bisa jadi ia telah terselimuti kesombongan, ketamakan, dan keburukan.
Jika kita simpulkan, maka Tuhan itu pasti bukan makhluk. Tuhan sejati bukan Tuhan hasil ciptaan manusia. Tuhan sejati hanya tunggal, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta merupakan penggerak bagi seluruh alam. Kehadiran-Nya dapat terasakan melalui akal dan hati kita yang jernih.
Karena itu, berpikirlah dengan akal yang bersih. Mari kita lihat sekitar kita, dan kita bertanya “dari mana semua ini berasal? Siapa yang menciptakan keindahan alam ini?” Pasti Jawaban yang tepat ada dalam jiwa yang bersih.
Maka sesungguhnya ateisme itu tidak ada — karena yang ada hanyalah kurangnya kemampuan mengontekstualisasikan realitas Tuhan secara ontologis dalam kehidupan. (*)
Editor Notonegoro





0 Tanggapan
Empty Comments