Menurut keyakinan Islam, hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak untuk memberikan keberkahan. Segala nikmat yang diterima manusia berasal dari-Nya, baik kita sadari atau tidak.
Ya, keberkahan berasal dari Allah SWT, karena segala nikmat, baik materi maupun spiritual, bersumber dari-Nya. Keberkahan yang diberikan Allah dapat berupa kenikmatan iman dan Islam, ketenangan batin, waktu dan usia yang bermanfaat, serta kemudahan dalam beramal shaleh dan menghadapi ujian.
Keberkahan atau yang sering kita sebut kebaikan adalah datangnya dari Allah SWT, sementara keburukan berasal dari kesalahan diri sendiri, sesuai dengan firman-Nya dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 79.
Segala nikmat dan anugerah, seperti rezeki, kesehatan, dan kemudahan, merupakan karunia dari Allah. Di sisi lain, musibah atau kesulitan yang menimpa manusia bisa jadi disebabkan oleh kelalaian, kemalasan, atau kesalahan yang dilakukan manusia itu sendiri.
Kadang kita salah paham. Kita berharap kebaikan dari orang lain, sampai-sampai bergantung dan berharap padanya. Semestinya kita menyadari bahwa seluruh kebaikan dan keberkahan asalnya dari Allah Azza wa Jalla.
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
”Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran: 26)
Dalam sebuah do’a istiftah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan,
وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ
“Seluruh kebaikan di tangan-Mu.” (HR. Muslim no. 771)
Begitu juga dalam beberapa ayat lainnya disebutkan bahwa nikmat yang merupakan bagian dari kebaikan itu juga berasal dari Allah Azza wa Jalla. Dan nikmat ini sungguh teramat banyak, bahkan sangat mustahil seseorang mampu menghitungnya. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)
Kita telah memahami bahwa setiap kebaikan dan nikmat itu berasal dari Allah Azza wa Jalla. Inilah yang disebut dengan barakah. Maka ini menunjukkan bahwa seluruh keberkahan berasal dari Allah Azza wa Jalla semata. (At Tabarruk, hlm. 15-17)
Perlu diketahui bahwa keberkahan yang halal bisa ada dalam hal diniyah dan hal duniawiyah, atau salah satu dari keduanya. Adapun yang mencakup keberkahan diniyah dan duniawiyah sekaligus adalah keberkahan pada Al Qur’an Al Karim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.
Keberkahan seperti ini juga terdapat pada majelis orang shalih. Di antara keberkahan orang shalih adalah karena keistiqamahan agamanya. Karena istiqamahnya ini, dia akan memperoleh keberkahan di dunia yaitu tidak akan sesat dan keberkahan di akhirat yaitu tidak akan sengsara (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, 9/376-377)
Keberkahan orang shalih pun terdapat pada usaha yang mereka lakukan. Mereka begitu giat menyebarkan ilmu agama di tengah-tengah masyarakat sehingga banyak orang pun mendapat manfaat. Itulah keberkahan yang dimaksudkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut orang-orang saleh yang berilmu sebagai pewaris para Nabi,
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi.” (HR. Abu Daud no. 3641, At Tirmidzi no. 2682 dan Ibnu Majah no. 223)
Ketika seseorang mencari harta dengan tidak diliputi rasa tamak, maka keberkahan pun akan mudah datang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada Hakim bin Hizam,
يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ ، الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى
“Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak tamak dan tidak mengemis), maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (HR. Bukhari no. 1472)
Ibnu Baththal rahimahullah mengatakan, “qana’ah dan selalu merasa cukup dengan harta yang dicari akan senantiasa mendatangkan keberkahan. Sedangkan mencari harta dengan ketamakan, maka seperti itu tidak mendatangkan keberkahan dan keberkahan pun akan sirna.” (Syarh Ibni Batthal, Asy Syamilah, 6/48)
Begitu pula keberkahan dapat diperoleh dengan berpagi-pagi dalam mencari rizki. Dari sahabat Shakhr Al Ghamidiy, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Daud no. 2606, At Tirmidzi no. 1212, Ibnu Majah no. 2236). (*)


0 Tanggapan
Empty Comments