Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Di UMY, Profesor NUS Ungkap 3 Pilar Pragmatisme yang Angkat Singapura ke Panggung Global

Iklan Landscape Smamda
Di UMY, Profesor NUS Ungkap 3 Pilar Pragmatisme yang Angkat Singapura ke Panggung Global
Profesor Bilveer Singh menyampaikan kuliah tamu di UMY. Foto: Humas
pwmu.co -

Profesor Bilveer Singh dari National University of Singapore (NUS) mengungkap tiga pilar utama pragmatisme politik yang menurutnya menjadi kunci transformasi Singapura “dari negara kecil tanpa sumber daya menjadi kekuatan global,” dalam kuliah tamu Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (8/12/2025).

Acara ini diikuti oleh puluhan mahasiswa HI angkatan 2024 dan 2025, serta menghadirkan narasumber utama Profesor Bilveer Singh dari Department of Political Science, National University of Singapore (NUS).

Dalam pemaparannya, Singh mengulas strategi, kondisi internal, dan karakter politik yang memungkinkan Singapura bertransformasi dari sebuah pulau kecil tanpa sumber daya menjadi salah satu kekuatan global.

Dia membuka diskusi dengan merujuk pada ungkapan populer bahwa Singapura adalah negara “kecil tapi besar,” merujuk pada pengaruh dan kapasitasnya yang jauh melampaui ukuran geografis.

Singh menegaskan bahwa sejak 1959 hingga kini, Singapura tidak mengalami perubahan signifikan dalam sistem politiknya karena kekuasaan dikelola oleh satu partai yang dominan.

Namun demikian, ia menekankan bahwa keberhasilan negara tersebut tidak dibangun atas dasar komunisme maupun kapitalisme, melainkan pragmatisme.

“Model negara mereka adalah akomodasi. Bukan komunisme atau kapitalisme, tapi pragmatisme, apa yang bisa kita lakukan, kita lakukan,” jelasnya seperti dilansir di laman resmi UMY.

Pragmatisme itu tercermin dalam survival motto mereka: “Satukan apa yang bisa kita satukan, jangan memaksakan apa yang tidak bisa disatukan.”

Sebagai negara kecil yang rentan oleh “hukum rimba,” Singapura mengembangkan ideologi bertahan hidup (survival ideology) yang menjadi fondasi seluruh kebijakan strategisnya.

Singh menjelaskan bahwa Singapura tidak dapat bergerak hanya dalam lingkup domestik dan sangat bergantung pada interaksi global.

Oleh karena itu, geostrategi dan geopolitik menjadi aspek utama yang menentukan arah ekonomi, sosial, dan budaya negara tersebut.

Dalam bidang politik luar negeri, Singapura selalu mencari keseimbangan strategis. Amerika Serikat menjadi mitra terbaiknya, terlihat dari keberadaan pangkalan militer AS dan penempatan sekitar 500 tentara Amerika. Namun, dari sisi ekonomi, Tiongkok adalah mitra terpenting bagi Singapura.

“Siapa yang paling paham Amerika di Asia Tenggara? Singapura. Siapa yang paling mengerti Cina? Singapura,” tegasnya.

Pada bagian lain, Singh menyampaikan pernyataan mengejutkan tentang ketergantungan historis Singapura terhadap Indonesia.

“Kalau tidak ada Indonesia, Singapura tidak akan bisa berdiri sampai hari ini. Mengapa? Karena sejak dulu, kita negara paling ‘maling’ di dunia,” ungkapnya, merujuk pada status Singapura sebagai tax haven.

Sebagai negara yang menawarkan pajak sangat rendah bagi perusahaan dan individu asing, Singapura menjadi tempat favorit para konglomerat hingga koruptor untuk menyimpan aset.

Kedekatan geografis dengan Indonesia membuat mobilitas antarnegara sangat mudah, hingga disebut bak “pulang-pergi kerja.”

Menutup paparannya, Singh menjelaskan bahwa Singapura pada dasarnya merupakan negara imigran. Penduduk asli yang disebut “orang laut” kini hanya berjumlah sekitar 500 orang, sementara mayoritas penduduknya merupakan perantau dari berbagai wilayah.

Meskipun etnis Tionghoa mendominasi populasi, Singapura tidak memilih model negara ala Tiongkok, melainkan tetap mengedepankan pendekatan akomodasi sebagai identitas politiknya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu