Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dialog Interaktif Sri Kaeni tentang Pembinaan Keluarga, PCA dan PCNA Sugio Dorong Pendewasaan Usia Perkawinan

Iklan Landscape Smamda
Dialog Interaktif Sri Kaeni tentang Pembinaan Keluarga, PCA dan PCNA Sugio Dorong Pendewasaan Usia Perkawinan
Dialog Interaktif Sri Kaeni tentang Pembinaan Keluarga, PCA dan PCNA Sugio Dorong Pendewasaan Usia Perkawinan. Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) bersama Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Sugio menggelar kegiatan Pembinaan Keluarga Sakinah dengan tema Pernikahan Dini dan Kiat Membangun Fondasi yang Kokoh dalam Menghadapi Dinamika Kehidupan Berumah Tangga, Ahad (25/1/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Ibunda Sri Kaeni, S.ST., Keb., Bdn., Ketua Bidang Kesehatan PCA Sugio sekaligus Anggota Bidang Kesehatan Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Lamongan, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa pernikahan dini bukan semata persoalan budaya, melainkan berkaitan erat dengan kesiapan fisik, mental, dan sosial calon pasangan.

“Pernikahan dini sering kali lahir dari kekhawatiran orang tua terhadap pergaulan anak. Namun, menikahkan anak bukanlah solusi utama. Yang jauh lebih penting adalah membangun komunikasi yang sehat dan terbuka antara orang tua dan anak,” ujarnya.

Menurut Sri Kaeni, orang tua harus hadir sebagai pendengar, pembimbing, dan pelindung bagi anak, bukan sekadar pengambil keputusan sepihak. Ketika komunikasi tidak terbangun dengan baik, celah pengaruh negatif akan semakin besar. Karena itu, yang perlu dipersiapkan adalah masa depan anak, bukan sekadar mengejar buku nikah. Anak harus dibekali secara matang, baik dari sisi iman, ilmu, mental, maupun keterampilan hidup.

Dalam sesi tanya jawab, Ipmawati Herdani, perwakilan PC IPM Sugio, mengangkat persoalan pandangan sebagian orang tua yang memilih menikahkan anak perempuan daripada membiarkannya sering keluar bersama lawan jenis. Menanggapi hal tersebut, Sri Kaeni kembali menekankan pentingnya peran keluarga dalam membangun komunikasi yang hangat dan penuh kepercayaan agar anak tidak mencari jawaban di luar rumah.

Sementara itu, Bu Eni dari Paud Dikdasmen PCA Sugio menyampaikan keresahan orang tua yang memiliki anak mulai beranjak remaja, bahkan sejak kelas VI SD, yang dikhawatirkan terjerumus dalam pacaran. Menurut Sri Kaeni, kondisi tersebut perlu disikapi dengan pendampingan yang bijak.

“Kunci utamanya adalah komunikasi yang intens antara orang tua dan anak, termasuk mengenal lingkungan pertemanan mereka. Orang tua juga perlu memastikan anak memiliki teman yang baik, karena lingkungan sangat memengaruhi perilaku,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pengawasan terhadap penggunaan gawai menjadi hal penting sebagai bentuk perlindungan, bukan pengekangan. Terkait pendidikan di pondok pesantren, Sri Kaeni menegaskan bahwa memondokkan anak bukanlah solusi instan. Yang lebih penting adalah kerja sama antara orang tua dan lembaga pendidikan dalam mendidik anak, baik secara keagamaan maupun sosial, disertai komunikasi yang berkelanjutan.

“Kegiatan ini diharapkan mampu membuka cara pandang keluarga agar tidak menjadikan pernikahan sebagai jalan pintas atas keresahan, melainkan mempersiapkan anak secara utuh melalui pendampingan, keteladanan, dan komunikasi berkelanjutan, demi terbangunnya keluarga yang sehat, kuat, dan berlandaskan nilai-nilai Islam,” pungkasnya.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu