Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Diam yang Mengangkat Derajat

Iklan Landscape Smamda
Diam yang Mengangkat Derajat
Foto: iric.org
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Setiap manusia pasti menginginkan kehidupan yang berjalan sesuai harapan. Namun kenyataan sering berkata lain. Ada saja peristiwa yang mengecewakan, ucapan yang melukai, dan sikap yang tidak sesuai dengan keinginan kita.

Di sinilah letak ujian terbesar seorang hamba: menerima ketetapan Allah dengan hati yang lapang dan tetap berprasangka baik.

Allah Ta’ala sudah mengingatkan dengan sangat jelas:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini seolah membisikkan kepada setiap hamba: tenanglah, semua yang terjadi sudah Allah desain dengan sempurna. Tugas kita bukan mengatur takdir, tetapi mengelola hati agar tetap jernih dalam menghadapi segala hal.

Siap Dicaci, Tidak Selalu Siap Dipuji

Hidup tidak selalu berisi pujian, tepuk tangan, atau ucapan terima kasih. Bahkan sering kali jumlah orang yang tidak senang kepada kita jauh lebih banyak daripada yang menyukai. Mereka bisa muncul dari lingkungan terdekat: pasangan, anak, menantu, mertua, besan, saudara kandung, tetangga, atau rekan kerja.

Karena itu, orang bijak berkata: “Hidup di dunia harus siap dicaci, bukan siap dipuji. Dicaci jangan membenci, dipuji jangan meninggikan diri.”

Kalimat ini selaras dengan pesan Rasulullah saw: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat dzarrah.” (HR. Muslim)

Pujian itu manis, tetapi bisa menipu. Cacian itu pahit, tetapi bisa menguatkan. Maka siap dicaci artinya siap mendidik hati untuk tetap lembut dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.

5 Sikap Menghadapi Orang Negatif

Dalam menghadapi orang yang berwatak keras, mudah marah, atau suka menyakiti hati, Islam memberikan pedoman yang sangat mendalam namun mudah diamalkan—yakni lima langkah sederhana berikut:

1. Memaafkan dengan hati yang bersih

Memaafkan tidak membuat kita jatuh, tetapi justru meninggikan derajat di sisi Allah.

“Maka maafkanlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Hijr: 85)

2. Mendoakan kebaikan bagi mereka

Doa yang tulus dapat melembutkan hati kita sendiri. Bahkan Rasulullah SAW bersabda:

“Doa seorang Muslim untuk saudaranya secara diam-diam pasti dikabulkan.” (HR. Muslim)

Saat kita mendoakan orang yang menyakiti kita, sebenarnya kita sedang menyembuhkan luka di dalam diri sendiri.

3. Mengajak kepada kebaikan

Apabila mereka mau ikut, alhamdulillah. Jika tidak, itu bukan urusan kita. Allah hanya memerintahkan kita untuk mengajak, bukan memaksa.

“Tugasmu hanyalah menyampaikan.” (QS. Al-Ghashiyah: 21–22)

4. Memberikan teladan yang baik

Teladan lebih kuat daripada kata-kata. Sikap baik yang kita lakukan secara konsisten akan menjadi cermin yang memantulkan cahaya bagi orang lain.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan terbaik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21)

5. Bertawakal sepenuhnya kepada Allah

Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha. Tawakal adalah bekerja sekuat tenaga, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3)

Dengan melatih lima sikap ini, hati akan dipenuhi kedamaian. Tidak lagi ada ruang bagi dendam atau prasangka buruk. Hati menjadi lapang, pikiran jernih, hidup terasa ringan.

Pelajaran Indah dari Kisah Abu Bakar 

Suatu hari, seseorang mencaci Abu Bakar RA di hadapan Rasulullah SAW. Abu Bakar tetap diam, tidak menanggapi. Rasulullah SAW pun diam mendampingi beliau.

Ketika orang itu selesai mencaci, Abu Bakar mulai membalas perkataannya—dan saat itulah Rasulullah SAW berdiri dan meninggalkan tempat.

Abu Bakar mengejar beliau dan bertanya: “Wahai Rasulullah, orang itu mencaciku dan engkau tetap duduk. Mengapa ketika aku mulai membalas, engkau pergi?”

Rasulullah saw menjawab: “Ketika engkau diam, malaikat membalas cacian itu untukmu. Tetapi ketika engkau membalas, setan datang dan malaikat pergi. Dan aku tidak ingin duduk bersama setan.” (HR. Abu Dawud)

Sungguh pelajaran besar: Diam ketika dicaci bukan kelemahan, tetapi kemenangan di sisi langit.

Rasulullah saw kemudian menegaskan tiga perkara:

1. Siapa yang dianiaya lalu memaafkan demi ridha Allah, Allah akan meninggikan derajatnya.

2. Siapa yang meminta-minta untuk memperbanyak harta, Allah akan menambah kefakirannya.

3. Siapa yang bersedekah karena Allah, niscaya Allah akan melapangkan rezekinya.

Inilah hukum sebab-akibat khas orang beriman. Tidak terlihat oleh mata, tetapi nyata dampaknya dalam kehidupan.

Doa dan Renungan

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

“Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarga beliau. Jadikan pagi kami awal keberhasilan, siang kami penuh kebaikan, dan akhir hari kami dipenuhi keberkahan.”

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا
“Ya Allah, terimalah amal-amal kami.”

Āmīn ya Rabbal ‘ālamīn. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu