
PWMU.CO – Tim Bantuan Medis (TBM) Birendra Pasopati Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya kembali menggelar Diklat Medis 3 yang merupakan rangkaian pendidikan dasar bagi anggota mudanya.
Kegiatan ini mengangkat tema Wound Management and Basic Surgical Skills yang dipandu langsung oleh dr Agus Maulana SpB MKedKlin FINACS dan didampingi oleh perwakilan pembimbing TBM, Dr. Nova Primadina dr SpBP-RE.
Farah Deshinta Putri Bialy, Ketua Departemen Diklat TBM Birendra Pasopati, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan pelatihan wajib yang dirancang untuk membekali anggota muda dengan keterampilan dasar yang sejalan dengan kurikulum Perhimpunan Tim Bantuan Medis Mahasiswa Kedokteran Indonesia (PTBMMKI).
“Melalui diklat ini, anggota muda diharapkan mampu memahami prinsip dasar manajemen luka dan teknik menjahit yang benar, yang akan sangat berguna baik saat praktikum skills lab maupun saat proses pengukuhan menjadi anggota tetap,” ujarnya.
Dr Nova Primadina dr SpBP-RE menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kegiatan organisasi dan tanggung jawab akademik.
“Berorganisasi itu perlu, tapi jangan lupa bahwa tugas utama mahasiswa kedokteran adalah belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat menyelesaikan studi tepat waktu. TBM adalah contoh organisasi yang bisa mendukung pembelajaran, khususnya dalam hal keterampilan klinis seperti Basic Surgical Skill,” jelasnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya memahami prinsip lege artis dalam setiap tindakan medis.
“Sterilitas adalah syarat mutlak dalam prosedur pembedahan, termasuk menjahit luka. Jika tidak steril, risiko infeksi luka operasi akan meningkat drastis,” tambahnya.
Praktik Manajemen Luka

Dalam sesi materi dan praktik, peserta mendapatkan pemahaman tentang klasifikasi luka berdasarkan tingkat kontaminasi (clean, clean-contaminated, contaminated, infected), teknik pembersihan dan debridement luka, pemilihan metode penutupan luka (primary, secondary, atau delayed closure), hingga penggunaan benang dan jarum yang tepat.
Sebagaimana disampaikan dalam materi oleh dr Agus Maulana SpB, “Wounds may be described as clean, clean-contaminated, contaminated, or dirty/infected, dengan risiko infeksi luka yang meningkat secara signifikan dari 1% pada luka bersih hingga lebih dari 27% pada luka yang sudah terinfeksi.”
Ia juga menambahkan bahwa irigasi tekanan tinggi minimal 100–300 ml normal saline dengan kekuatan minimal 8 psi sangat penting untuk membersihkan kontaminan dan mengurangi risiko infeksi.
Pada sesi praktik, peserta juga dilatih teknik suturing seperti simple interrupted, running suture, locked running, hingga vertical mattress suture.
“Teknik menjahit harus disesuaikan dengan jenis luka dan ketegangan jaringan, serta mempertimbangkan pilihan benang dan jarum yang sesuai, seperti jarum atraumatik untuk hasil tusukan yang lebih halus,” terang dr. Agus.
Melalui praktik langsung dengan bimbingan dokter bedah dan peralatan standar, para peserta tidak hanya memperoleh ilmu teoritis, tetapi juga pengalaman praktis yang bermanfaat sebagai bekal menghadapi tantangan klinis di masa mendatang.
Penulis Rahma Ismayanti Editor Zahra Putri Pratiwig






0 Tanggapan
Empty Comments