Hidup sehat tidak cukup hanya dengan tubuh yang kuat. Demikian ditegaskan dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes, Kepala Unit Kedokteran Islam FK Universitas Muhammadiyah (UM Surabaya)
Menurutnya, sehat sejati meliputi empat aspek yang saling terkait: jasmani, rohani, sosial, dan spiritual.
“Sehat paripurna adalah ketika tubuh kita bugar, pikiran jernih, hubungan sosial harmonis, dan jiwa kita dekat dengan Allah. Keempatnya harus berjalan seimbang. Kalau salah satu sakit, yang lain ikut terganggu,” ujarnya seperti dikutip di kanal Youtube Al-Mahdi TV.
Dalam penjelasannya, dr. Tjatur menguraikan makna tiap dimensi. Pertama, sehat jasmani.
Sehat jasmani berarti tubuh bebas dari penyakit, bugar, dan mampu beraktivitas. Ia menekankan pentingnya pola makan seimbang, olahraga, dan tidur cukup.
“Makanan kita sekarang sering lebih enak daripada sehat. Padahal makanan sehat adalah obat yang paling murah,” kata Tjatur.
Kedua, sehat rohani. Menurutnya, banyak orang secara fisik tampak sehat, tetapi batinnya gelisah.
Kata dia, “Stres kronis itu pintu masuk bagi berbagai penyakit, mulai dari darah tinggi sampai kanker. Islam mengajarkan kita untuk berzikir agar hati tenang, sebagaimana firman Allah: ‘Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub – Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang (QS. Ar-Ra’d: 28).”
Ketiga, sehat sosial Sehat sosial berarti keberadaan seseorang membawa manfaat, bukan masalah. Dia mencontohkan sabda Nabi Muhammad saw: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad).
“Kalau kehadiran kita justru menimbulkan keresahan, maka itu tanda sakit sosial,” ungkap dia.
Keempat, sehat spiritual. Tjatur menegaskan bahwa sehat spiritual adalah taat kepada Allah. Dia bahkan menyebut WHO secara tidak langsung menolak ateisme, karena dimensi spiritual diakui penting bagi kesehatan.
“Orang beriman lebih siap menghadapi ujian hidup. Bahkan sakit pun bisa menjadi sarana mendekat kepada Allah,” ujarnya.
Pilar yang banyak mendapat sorotan adalah sehat sosial melalui sedekah. Tjatur menyebut sedekah sebagai obat mujarab yang Allah janjikan.
“Sedekah itu bisa menolak bala, memanjangkan umur, melapangkan rezeki, bahkan menyembuhkan penyakit. “Rasulullah saw bersabda: ‘Obatilah orang sakit di antara kalian dengan sedekah.’ (HR. Baihaqi),” jelasnya.
Dia menambahkan, secara medis sedekah terbukti meningkatkan sistem imun. Penelitian di University of California menunjukkan bahwa memberi dengan ikhlas memicu otak menghasilkan hormon kebahagiaan (endorfin, dopamin, serotonin, oksitosin). Hormon-hormon inilah yang memperkuat daya tahan tubuh.
Tjatur membagikan kisah nyata dari ruang NICU rumah sakit. Seorang bayi berusia delapan bulan masuk dalam kondisi kritis. Secara medis, peluang hidupnya amat kecil.
Namun, sang ayah melakukan ikhtiar spiritual: bersedekah sepanjang malam ke masjid, musala hingga orang-orang yang ditemuinya di jalan.
“Esok harinya, kondisi bayi itu membaik luar biasa. Detak jantungnya stabil, pernapasan normal, hingga akhirnya bisa pulang sehat. Secara medis kami menyebutnya regresi spontan, tapi bagi orang beriman itu adalah kun fayakun Allah,” tutur Tjatur.
Dia juga menceritakan kasus pasien stroke yang sulit pulih. Setelah diberi nasihat untuk rutin bersedekah meski dengan jumlah kecil, pasien tersebut mulai menunjukkan kemajuan signifikan.
“Kuncinya bukan besar-kecilnya sedekah, tapi istiqomah dan ikhlas,” katanya.
Sedekah yang Menyembuhkan
Lebih lanjut, dr. Tjatur menekankan prinsip penting dalam sedekah.
- Ikhlas, tidak mengharap balasan selain dari Allah.
- Istiqomah, konsisten walau kecil.
- Prioritas, menolong keluarga dekat lebih utama sebelum jauh.
- Tulus, tanpa pamrih atau pamer.
Tjatur memberi contoh sederhana, “Bersedekah 5 ribu rupiah setiap subuh dengan hati ikhlas lebih menyehatkan daripada sejuta sekali tapi penuh riya.”
Agar mudah diingat, dia memperkenalkan akronim SEHATI sebagai panduan hidup sehat paripurna:
- S = Sedekah, obat mujarab yang menolak penyakit.
- E = Empati, peduli pada sesama.
- H = Hidup sehat dengan pola makan dan olahraga.
- A = Amanah dalam pekerjaan dan tanggung jawab.
- T = Tawakal, menyerahkan hasil kepada Allah.
- I = Ikhlas dalam beramal.
“Kalau semua huruf SEHATI kita jalankan, insya Allah hidup kita sehat paripurna,” tegasnya.
Tjatur mengingatkan jamaah bahwa kesehatan sejati bukan hanya soal umur panjang, tetapi juga umur yang berkah.
“Tubuh sehat itu nikmat, tapi jiwa sehat jauh lebih berharga. Dan sedekah adalah kunci yang membuat keduanya berjalan seimbang. Mari kita jadikan sedekah sebagai gaya hidup, bukan sekadar kewajiban,” tutupnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments