Isu perubahan iklim dan transisi energi kembali menjadi sorotan dalam ruang akademik. Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menerima kunjungan Dominic Jermey, Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor-Leste, sebagai bagian dari upaya memperkuat kolaborasi internasional di bidang keberlanjutan, (8/4/2026).
Alih-alih sekadar kunjungan seremonial, agenda ini menjadi ruang dialog terbuka antara akademisi, mahasiswa, dan pemangku kepentingan terkait konsep Just Energy Transition atau transisi energi yang berkeadilan. Kegiatan yang digelar di Museum Muhammadiyah UAD tersebut menghadirkan pemutaran film pendek “1000 Cahaya”, tur museum, serta diskusi interaktif seputar krisis iklim.
Rektor UAD, Muchlas, menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam menjawab tantangan global. Ia menyebut bahwa komitmen kampus tidak berhenti pada wacana, melainkan diwujudkan melalui berbagai inisiatif konkret seperti efisiensi energi, pengelolaan limbah berbasis zero waste, hingga pengembangan energi terbarukan.
Menurutnya, pendekatan pendidikan yang terintegrasi dengan nilai-nilai keberlanjutan menjadi kunci dalam membentuk generasi yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis. UAD bahkan mencatat penurunan konsumsi listrik sekitar 11 persen serta mendorong inovasi mahasiswa, termasuk pengembangan kendaraan listrik dan konversi limbah menjadi energi alternatif.
Dari sisi global, Dominic Jermey melihat UAD sebagai mitra potensial dalam memperluas kerja sama lintas negara, khususnya dalam pengembangan energi bersih. Ia menilai pendekatan berbasis nilai yang dikembangkan UAD menjadi kekuatan tersendiri dalam merespons krisis iklim yang semakin kompleks.
Ia juga menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam mendorong perubahan, sekaligus menegaskan bahwa kolaborasi internasional menjadi faktor penting dalam mempercepat inovasi dan implementasi solusi energi berkelanjutan.
Fiqh Transisi Energi Berkeadilan
Dalam konteks gerakan sosial, Direktur Program “1000 Cahaya Muhammadiyah”, Hening Parlan, menjelaskan bahwa inisiatif tersebut merupakan bagian dari gerakan berbasis komunitas yang berangkat dari nilai keislaman. Pendekatan seperti Green Al Ma’un dan Fiqh Transisi Energi Berkeadilan menjadi landasan dalam menggerakkan masyarakat menuju praktik hidup yang lebih ramah lingkungan.
Ia mengungkapkan bahwa program ini telah menjangkau berbagai elemen masyarakat, mulai dari pesantren, sekolah, hingga masjid. Selain itu, ratusan pelatih efisiensi energi telah dilibatkan, dan ribuan perempuan diberdayakan sebagai agen perubahan lingkungan atau green heroes. Instalasi panel surya di sejumlah titik juga menjadi bukti konkret dari gerakan ini.
Diskusi yang melibatkan mahasiswa UAD dalam kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana generasi muda mulai mengambil peran dalam aksi iklim berbasis komunitas. Berbagai gagasan dan praktik keberlanjutan yang menggabungkan nilai agama dan inovasi sosial menjadi warna tersendiri dalam dialog tersebut.
Selama ini, UAD juga telah menjalin kemitraan dengan sejumlah universitas di Inggris, baik dalam program pertukaran mahasiswa, penguatan kapasitas akademik, maupun riset kolaboratif. Kunjungan ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi kerja sama yang lebih luas, khususnya dalam bidang energi terbarukan dan riset keberlanjutan.
Momentum ini sekaligus menegaskan posisi UAD sebagai salah satu perguruan tinggi yang aktif berkontribusi dalam agenda pembangunan berkelanjutan, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga dalam percakapan global mengenai masa depan energi dan lingkungan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments