Direktur Anak Literasi untuk Negeri (ALUN) Indonesia, Riza A. Novanto, menegaskan pentingnya literasi sebagai benteng menghadapi fenomena hedonisme intelektual yang kian marak di era digital.
Pernyataan tersebut disampaikannya dalam Kajian Daring Ramadan (Kadar) sesi kedua yang digelar oleh Penerbit Irfani, di mana literasi dinilai bukan sekadar aktivitas membaca dan menulis, tetapi juga instrumen penting untuk membentuk pola pikir kritis masyarakat.
Literasi Jadi Penangkal Hedonisme
Dalam pemaparannya, Riza A. Novanto menyebut bahwa masyarakat saat ini tengah terjebak dalam paradoks hedonisme, yakni mengejar kesenangan materi secara instan namun tidak menghasilkan kebahagiaan yang hakiki.
Fenomena ini, menurutnya, semakin terlihat menjelang Idul Fitri, ketika budaya konsumtif dan pamer kemewahan meningkat tajam.
“Literasi adalah kenikmatan tingkat tinggi yang melibatkan nalar kritis. Ini menjadi penangkal agar kita tidak terbawa arus konsumtif yang hanya berorientasi pada pengakuan sosial,” ujarnya, Senin (16/3/2026).
Ia menekankan bahwa kemampuan berpikir kritis yang lahir dari literasi dapat membantu masyarakat memilah mana kebutuhan dan mana sekadar keinginan.
Tantangan Literasi di Era AI
Riza juga menyoroti tantangan literasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence.
Menurutnya, kemudahan yang ditawarkan teknologi seperti AI berpotensi menimbulkan “hedonisme intelektual”, yakni kecenderungan mencari jalan instan tanpa proses berpikir mendalam.
“AI adalah keniscayaan dan bisa membantu ketika kita kehabisan ide. Namun, nalar kritis tidak boleh ditinggalkan. Karya literasi harus tetap mengandung pemikiran orisinal,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa literasi yang kuat akan membentuk karakter yang tidak mudah tergiur oleh hal-hal instan.
Hedonisme Positif dalam Perspektif Islam
Lebih lanjut, Riza menjelaskan bahwa tidak semua bentuk kesenangan bersifat negatif. Ia memperkenalkan konsep hedonisme positif yang berlandaskan nilai-nilai Islami.
Menurutnya, aktivitas menyenangkan seperti berkumpul bersama keluarga dapat bernilai ibadah jika dilandasi niat yang benar.
Namun, agar tidak terjebak dalam hedonisme negatif, ia menekankan tiga pilar utama, yakni tawadu (rendah hati), qana’ah (merasa cukup), dan menjaga niat.
“Qana’ah adalah rem terakhir. Jika kita merasa cukup, kita tidak akan terjebak dalam perilaku bermegah-megahan,” jelasnya.
Susun Kurikulum Ramadan Pribadi
Dalam kesempatan tersebut, Riza juga mengajak masyarakat untuk menyusun “kurikulum Ramadan” pribadi yang berfokus pada produktivitas literasi.
Ia mencontohkan pengalaman selama masa pandemi, di mana keterbatasan mobilitas justru menjadi momentum bagi banyak akademisi untuk menghasilkan karya.
Menurutnya, Ramadan seharusnya dimanfaatkan sebagai waktu untuk memperkuat kualitas diri, baik secara intelektual maupun spiritual.
Bangun Kesenangan yang Lebih Bermakna
Moderator kegiatan, Annisya Kurniasih, menyimpulkan bahwa penguatan literasi menjadi kunci untuk mengubah orientasi kesenangan masyarakat.
Dengan nalar kritis yang kuat, masyarakat diharapkan tidak lagi berfokus pada kepuasan materi semata, tetapi beralih pada pencapaian intelektual dan spiritual yang lebih berkelanjutan.
Melalui pendekatan tersebut, literasi diharapkan mampu menjadi fondasi dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijak dalam menjalani kehidupan.





0 Tanggapan
Empty Comments