Sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia telah menempuh perjalanan panjang dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Perjalanan 80 tahun mengisi kemerdekaan bukanlah waktu sebentar
Dari medan perang hingga meja diplomasi, dari pembangunan infrastruktur hingga upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Setiap generasi pemimpin berikhtiar mewujudkan cita-cita kemerdekaan yakni negara yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur.
Kini, 80 tahun telah berlalu sejak teks proklamasi dibacakan. Tantangan kita tidak lagi hanya pada ancaman penjajahan fisik, tetapi juga pada penjajahan gaya baru yaitu kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, dan ketergantungan ekonomi. Kemerdekaan yang sejati adalah ketika rakyat terbebas dari kelaparan, kemiskinan, dan penderitaan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya “Dan janganlah kamu lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman (QS. Ali Imran: 139)
Ayat ini memberi pesan bahwa kemerdekaan harus dijaga dengan kekuatan iman dan optimisme, serta diisi dengan kerja keras dan persatuan.
Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, laut yang luas, tanah yang subur, dan kekayaan budaya yang luar biasa. Semua itu adalah amanah yang harus dikelola demi kesejahteraan rakyat.
Rasulullah Saw bersabda “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa setiap elemen bangsa, baik pemimpin maupun rakyat, memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengelola kekayaan negeri ini dengan penuh amanah.
KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, pernah menekankan pentingnya memadukan iman, ilmu, dan amal dalam membangun bangsa. Tanpa iman, kita akan mudah tergoda untuk menyalahgunakan kekuasaan. Tanpa ilmu, kita akan tertinggal dari bangsa lain. Tanpa amal nyata, semua cita-cita kemerdekaan akan menjadi sekadar slogan.
Peringatan hari lahir Republik Indonesia ke-80 ini harus menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan memperbaiki tata kelola bangsa. Perbedaan suku, agama, dan budaya bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan modal untuk memperkaya persaudaraan. Seperti yang diajarkan Rasulullah Saw dalam Piagam Madinah, persatuan adalah pondasi bagi kemajuan sebuah negara.
Kita juga harus memastikan bahwa pembangunan tidak hanya terfokus pada kota besar, tetapi merata hingga ke pelosok desa. Keadilan sosial, seperti tercantum dalam sila kelima Pancasila, harus benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat.
Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-80 bukan sekadar perayaan seremonial. Melainkan panggilan untuk bekerja lebih keras, lebih jujur, dan lebih ikhlas demi terwujudnya cita-cita kemerdekaan.
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada bangsa ini untuk terus maju, menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur yakni negeri yang baik dan mendapat ampunan Allah (QS. Saba’: 15).
Mari kita bersatu, menjaga dan mengelola kekayaan bangsa dengan bijak, demi Indonesia yang sejahtera, berdaulat, dan berkeadilan. Dirgahayu Republik Indonesia! Merdeka ! (*)






0 Tanggapan
Empty Comments