Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Diskusi Perkaderan Bahas Konseptualisasi Kurikulum dalam TOT MPKSDI PDM Lamongan

Iklan Landscape Smamda
Diskusi Perkaderan Bahas Konseptualisasi Kurikulum dalam TOT MPKSDI PDM Lamongan
Suasana Diskusi perkaderan dalam TOT MPKSDI PDM Lamongan. (Maftuhah/PWMU.CO)
pwmu.co -

Diskusi perkaderan menjadi sesi pembuka yang menarik di hari kedua Training of Trainers (TOT) Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan, Ahad (9/11/2025) pagi di Graha Umsida Trawas.

Sesi ini dipimpin langsung oleh Sekretaris MPKSDI PDM Lamongan, Dedi Kurniawan, yang mengajak peserta mendalami kembali makna dan sistem perkaderan dalam tubuh Muhammadiyah. Para peserta tampak antusias melaporkan progres pelaksanaan perkaderan di masing-masing Ortom Daerah, sembari mendiskusikan kendala dan inovasi yang telah dijalankan.

Makna dan Konseptualisasi Kurikulum Perkaderan

Dalam paparannya, Dedi menegaskan bahwa Sistem Perkaderan Muhammadiyah (SPM) harus dipahami tidak sekadar sebagai pedoman teknis pelatihan, tetapi sebagai kurikulum ideologis yang membentuk keutuhan karakter kader Muhammadiyah.

“SPM adalah seperangkat unsur dan komponen yang saling berkaitan sehingga membentuk totalitas dalam pembinaan kader Muhammadiyah,” ujar Dedi.

Sebagai sebuah sistem yang utuh, lanjutnya, SPM berlaku di semua tingkatan dan komponen Persyarikatan. Karena itu, seluruh bentuk dan jenis kaderisasi, baik vertikal maupun horizontal harus merujuk pada SPM sebagai acuan dasar.

Dedi juga menjelaskan bahwa perbedaan kurikulum di tingkat Ortom (organisasi otonom) lebih pada muatan lokal dan penyesuaian basis massa. Misalnya, IPM memiliki kekhasan kegiatan pelajar, IMM dengan gerakan intelektual mahasiswa, dan Pemuda Muhammadiyah dengan semangat kepeloporan sosial.

“Muatan lokal itu yang memberi warna pada setiap Ortom, tapi secara ideologis dan sistemik semuanya bersumber dari Sistem Perkaderan Muhammadiyah,” tegasnya.

Sejarah dan Revisi SPM Muhammadiyah

Dedi turut mengulas sejarah penyusunan dan pengembangan SPM sejak pertama kali diterbitkan oleh Badan Pendidikan Kader PP Muhammadiyah pada tahun 1989 (periode 1985–1990).

Dokumen ini terus mengalami revisi, di antaranya pada tahun 1997, 2001, 2007, 2015, dan terakhir pada 2018, dengan penyempurnaan berupa pedoman pelaksanaan serta panduan pendukung lainnya.

Lebih lanjut, Dedi menguraikan struktur jenjang perkaderan Muhammadiyah yang terbagi menjadi:

Pertama, Perkaderan Utama, yang meliputi Darul Arqam dan Baitul Arqam. “Darul Arqam diselenggarakan di tingkat pusat, wilayah, hingga amal usaha, dengan durasi antara lima hingga tujuh hari, diperuntukkan bagi pimpinan dan unsur pembantu pimpinan, ” jelasnnya.

Baitul Arqam merupakan bentuk penyederhanaan Darul Arqam untuk tingkat daerah, cabang, ranting, serta amal usaha Muhammadiyah, dengan sasaran peserta mulai dari simpatisan hingga pimpinan.

UM SURABAYA

Iklan Landscape UM SURABAYA

Kedua, Perkaderan Fungsional, seperti sekolah kader, pelatihan instruktur, dialog ideopolitor, pengajian pimpinan, pelatihan tata kelola organisasi, hingga upgrading kader.

Kelompok Materi Perkaderan Muhammadiyah

Kemudian, Dedi menyampaikan Kurikulum perkaderan Muhammadiyah mencakup lima kelompok materi utama:

Satu, Ideologi Muhammadiyah, meliputi hakikat Islam, Mukadimah AD Muhammadiyah, tuntunan ibadah menurut Tarjih, serta Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah.

Dua, Sosial, Kemanusiaan, dan Kepeloporan, yang memuat Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, Teologi Al-Ma’un, serta Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah.

Tiga, Pengembangan Wawasan, di antaranya metodologi pemahaman agama, manhaj tarjih, dan Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua.

Empat, kepemimpinan dan Keorganisasian, yang berfokus pada akhlak kepemimpinan, revitalisasi kader, dan etos kerja kader Muhammadiyah.

Lima, Muatan Lokal, seperti pendidikan karakter, dakwah berbasis lokalitas, regenerasi kader, serta technopreneurship.

Diskusi yang Hangat dan Inspiratif

Usai paparan, diskusi dilanjutkan dengan laporan sistem perkaderan dari masing-masing Ortom. Suasana menjadi semakin hidup saat peserta saling berbagi praktik baik dan tantangan di lapangan.

Dedi menutup sesi dengan pesan agar setiap kader Muhammadiyah memahami bahwa perkaderan bukan sekadar kegiatan pelatihan, tetapi proses pembentukan kesadaran ideologis dan sosial untuk melanjutkan misi dakwah dan tajdid Persyarikatan.

“Kader Muhammadiyah adalah pembelajar sepanjang hayat. Perkaderan tidak berhenti di forum pelatihan, tapi terus tumbuh dalam amal nyata di masyarakat,” pungkasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu