Dalam kajian fikih salat, Ustaz Adi Hidayat (UAH) menyoroti satu amalan yang kerap terlewatkan umat Islam, yakni doa utama setelah salat.
Dia menegaskan bahwa ada satu doa yang diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad saw kepada sahabatnya, Muadz bin Jabal, dengan ungkapan penuh cinta.
“Karena cintaku kepadamu, wahai Muadz, jangan pernah engkau tinggalkan doa ini setiap selesai salat,” ujar UAH mengutip pesan Nabi.
Doa tersebut dibaca tepat setelah salam: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik. (Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya).
Menurut UAH, doa ini diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal dan tercantum dalam sejumlah kitab hadis sahih, di antaranya Sahih al-Bukhari. Penjelasan mendalam tentang hadis tersebut dapat ditemukan dalam Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani.
“Kajian ini tidak berdiri di atas opini. Ia memiliki sanad dan rujukan ilmiah yang kuat,” tegas UAH seperti dilansir di kanal Youtube Adi Hidayat Official.
Dia menjelaskan, Sahih al-Bukhari merupakan karya monumental Imam Bukhari yang menghimpun sekitar 7.000 hadis (dengan pengulangan) dalam 97 tema besar. Kitab ini termasuk kategori Jami’, yaitu menghimpun hadis dengan cakupan tema luas, mulai dari iman, ibadah, muamalah hingga adab keseharian.
“Berbeda dengan Sunan Abu Dawud atau Sunan at-Tirmidzi yang lebih tersusun berdasarkan topik fikih,” jelasnya.
Dalam kajian tersebut, UAH juga mengangkat kisah masa kecil Imam Bukhari sebagai teladan kekuatan doa. Ia menceritakan bahwa Imam Bukhari kecil pernah mengalami kebutaan. Ibunya yang seorang single parent tidak berhenti berdoa.
“Hingga suatu malam, setelah berdoa dengan penuh kekhusyukan, Allah mengabulkan doanya. Bukhari kecil dapat melihat kembali,” tutur UAH.
Kisah ini, lanjutnya, menunjukkan bahwa doa yang dipanjatkan dengan kerendahan hati dan keyakinan penuh akan menghadirkan pertolongan Allah dengan cara yang tak terduga.
UAH kemudian menguraikan makna doa tersebut secara rinci. Pertama, kata Allahumma menunjukkan adab kerendahan diri. “Doa adalah permohonan dari yang rendah kepada Yang Mahatinggi. Semakin seseorang merendah di hadapan Allah, semakin Allah angkat derajatnya,” ujarnya.
Kedua, kata a’inni bermakna “tolonglah aku dengan segera”. Menurutnya, ini menunjukkan urgensi dan keyakinan total bahwa hanya Allah sumber pertolongan.
“Doa tidak boleh sekadar di lisan. Ia harus tersambung hingga ke jiwa,” katanya.
Ketiga, frasa ala dzikrika menegaskan pentingnya koneksi dengan Allah. UAH mengutip QS An-Nisa ayat 103 bahwa setelah salat, seorang Muslim tetap diperintahkan mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring.
“Orang yang benar-benar terhubung dengan Allah tidak mungkin berbohong, berkhianat, atau melakukan maksiat. Koneksi itu mencegah penyimpangan,” tegasnya.
Tiga Jalan Menjaga Koneksi
UAH memaparkan tiga jalan utama menjaga zikir dan koneksi dengan Allah. Pertama, melalui kalimat thayyibah dan Asmaul Husna.
“Butuh rezeki, sebut Ya Razzaq. Butuh ilmu, sebut Ya Alim. Butuh solusi, sebut Ya Fattah,” jelasnya merujuk QS Al-Isra ayat 110.
Kedua, melalui Al-Qur’an. Ia mengutip QS Ar-Ra’d ayat 28, “Ingatlah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
“Ketika gelisah, ambil wudu, buka mushaf, baca. Kadang ayat yang terbuka seperti jawaban langsung dari Allah,” katanya.
Ketiga, melalui salat. QS Thaha ayat 14 menegaskan bahwa salat ditegakkan untuk mengingat Allah.
“Salat bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Ia sarana menghadirkan ketenangan jiwa. Anda boleh kaya tapi gelisah, atau miskin tapi tenang. Semua orang pasti memilih tenang,” ujarnya.
UAH juga mengingatkan bahaya membuka aib pribadi di ruang publik atau media sosial. Ia mengutip QS Yusuf ayat 86 tentang Nabi Ya’qub.
“Aku hanya mengadukan kesedihan dan dukaku kepada Allah,” kutipnya.
“Curhat pertama adalah kepada Allah. Jika perlu solusi manusia, cari orang bijak yang menjaga rahasia—bukan ruang publik,” pesannya.
UAH menutup kajian dengan menekankan bahwa doa tersebut mengandung tiga permintaan besar: kemampuan terus berzikir, kemampuan bersyukur, dan kemampuan beribadah dengan kualitas terbaik.
“Jika ingin hidup mudah, milikilah koneksi kuat dengan Allah hingga merasa punya Allah. Karena ketika seseorang merasa punya Allah, sebesar apa pun masalahnya akan terasa kecil,” tandasnya.
Doa itu, lanjutnya, dimulai setiap selesai salat—dengan satu kalimat cinta dari Nabi Muhammad saw kepada Muadz bin Jabal:
Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments