Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyuwangi, Dr H Mukhlis Lahuddin MAg, mengingatkan warga Muhammadiyah untuk mewaspadai berbagai doktrin akhirat yang justru menyesatkan umat.
Pesan itu ia sampaikan dalam Pengajian Ahad Pagi PDM Jember bertema “Doktrin Akhirat yang Menyesatkan Umat” di Kantor PDM Kabupaten Jember, Jalan Bondoyudo nomor 7 Patrang, Ahad (9/11/2025).
Acara yang berlangsung sejak pukul 06.00 hingga 07.30 WIB ini dihadiri jamaah dari berbagai ranting dan cabang meski hujan turun sejak pagi.
Dalam tausiyahnya, Mukhlis menekankan agar umat berhati-hati terhadap ajaran dan praktik keagamaan yang tampak religius, namun sesungguhnya menyimpang dari ajaran al-Quran dan Sunnah.
“Surga itu tidak bisa dibeli dengan salat atau puasa kita. Semuanya karena rahmat Allah. Kalau kita masih merasa paling ikhlas, paling wali, itu tanda belum diuji,” ujarnya
Lima Kekuatan Muhammadiyah
Dalam ceramahnya, Mukhlis juga menguraikan lima kekuatan yang menjaga eksistensi Muhammadiyah selama 113 tahun, yakni akidah, ibadah, jamiyah, amaliyah, dan tarbiyah.
Kelima kekuatan ini, menurutnya, menjadi modal utama gerakan dakwah Muhammadiyah agar tidak mudah goyah di tengah tantangan zaman.
“Muhammadiyah tidak pernah berhenti mencari ridha Allah. Sudah 113 tahun terus bergerak, mendung pun tetap bergerak,” katanya.
Ia mencontohkan bagaimana amal usaha seperti sekolah, panti asuhan, dan lembaga sosial menjadi bukti nyata kekuatan amaliyah Muhammadiyah.
Enam Doktrin Akhirat yang Menyesatkan
Mukhlis memaparkan ada enam doktrin akhirat berbahaya yang kini banyak menipu umat. Enam hal itu antara lain doktrin kiswah, syafaat, sholawat, nasab, keramat, dan sanad.
1. Doktrin Kiswah, “Membeli” Berkah Pakaian Nabi
Mukhlis menuturkan, sebagian orang menjual potongan kain yang diklaim sebagai kiswah atau pakaian peninggalan Rasulullah SAW dengan harga mahal. Barang itu dipercaya bisa membawa keberkahan, menolak bala, bahkan menjamin masuk surga bagi pemiliknya.
“Padahal Rasulullah sendiri tidak pernah mengajarkan kiswah sebagai jaminan surga. Kalau surga bisa dibeli dengan kain, tentu para sahabat sudah antre duluan,” ujarnya disambut tawa jamaah.
Ia menegaskan bahwa keimanan dan amal saleh tidak bisa digantikan oleh benda apa pun. “Islam mengajarkan iman, amal, dan takwa bukan benda yang dikultuskan,” terangnya.
2. Doktrin Syafaat, “Jaminan Surga” dari Tokoh Tertentu
Bentuk lain yang ia soroti adalah pemahaman keliru tentang syafaat, yaitu anggapan bahwa seseorang bisa dijamin masuk surga hanya karena dekat atau taat kepada tokoh agama tertentu.
“Ada yang merasa cukup hanya karena jadi murid seseorang. Lalu yakin akan dapat syafaat, meski ibadahnya kosong,” jelasnya.
Menurutnya, syafaat memang benar adanya, tetapi hanya diberikan atas izin Allah kepada hamba yang diridhai. “Syafaat bukan karcis VIP ke surga. Tidak ada perantara tanpa izin Allah,” tegasnya.
3. Doktrin Sholawat, Ibadah Jadi Transaksi
Mukhlis juga mengingatkan agar umat tidak terjebak dalam praktik shalawat berbayar atau ritual tertentu yang dijanjikan bisa menghapus dosa dan mempercepat rezeki.
“Ada yang menjual paket sholawat seperti paket data seratus ribu untuk seribu kali bacaan. Ini jelas menyimpang,” katanya.
Ia menegaskan bahwa shalawat adalah ibadah yang mulia, tapi nilai spiritualnya hilang bila dilakukan dengan pamrih duniawi.
“Jangan menjadikan sholawat sebagai alat bisnis. Lakukan karena cinta kepada Nabi, bukan karena ingin kaya,” ungkapnya.
4. Doktrin Nasab, Menjual Keturunan Nabi
Fenomena lain yang marak, katanya, adalah doktrin nasab yakni anggapan bahwa seseorang pasti masuk surga hanya karena keturunan Rasulullah SAW.
“Kalau nasab jadi tiket surga, maka Abu Lahab pun pasti selamat, karena ia paman Nabi,” ujarnya tegas.
Mukhlis menegaskan, keturunan mulia tidak menjamin kemuliaan di akhirat, kecuali diiringi amal saleh.
“Allah menilai iman, bukan garis keturunan”.
5. Doktrin Keramat, Mengandalkan Tokoh yang Dianggap Sakti
Ia juga menyoroti praktik sebagian masyarakat yang bergantung pada tokoh yang dianggap keramat, hingga memohon keselamatan atau rezeki melalui perantara tokoh tersebut.
“Ada yang berdoa bukan kepada Allah, tapi kepada kuburan orang saleh. Ini bukan tawassul, ini syirik halus,” katanya.





0 Tanggapan
Empty Comments