Ia menjelaskan bahwa keramat sejati adalah ketaatan dan keteguhan iman, bukan kesaktian atau kemampuan supranatural.
“Keramat itu bukan melayang di udara, tapi menundukkan nafsu dunia,” tambahnya.
6. Doktrin Sanad, Menjual Klaim Spiritual
Terakhir, Mukhlis membahas doktrin sanad yang disalahgunakan, yakni ketika seseorang menjual “ijazah spiritual” seolah menjadi jalan cepat menuju kesempurnaan iman.
“Ada yang bilang, ikut tarekat ini pasti sampai makrifat. Padahal makrifat tidak bisa diwariskan lewat surat. Itu hasil mujahadah pribadi,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa sanad keilmuan memang penting dalam menjaga kemurnian ajaran, namun tidak boleh disakralkan hingga menuhankan guru.
“Guru membimbing, bukan menebus dosa murid,” tegasnya.
Kembali ke Tauhid yang Murni
Mukhlis mengajak umat kembali pada tauhid yang murni dengan menyeimbangkan antara syariat, thariqah, dan makrifat.
“Jangan mudah kagum dengan tampilan religius. Ukurlah dengan kebenaran wahyu, bukan kemasan manusia,” pesannya.
Menurutnya, pemahaman akhirat seharusnya membuat umat lebih jujur, disiplin, dan takut berbuat dosa, bukan merasa paling suci.
“Kalau sudah merasa pasti masuk surga, di situlah awal kehancuran iman,” pungkasnya.
Berkarya Tanpa Pamrih
Menutup pengajian, Mukhlis mengutip QS. Yunus ayat 40–41 yang mengingatkan bahwa amal dan karya manusia akan dinilai langsung oleh Allah, bukan oleh manusia.
“Silakan berkarya. Allah yang menilai, bukan kita. Karena itu, sibukkan diri dengan amal ibadah dan amaliyah yang membawa manfaat,” pesannya.
Ia juga menegaskan agar warga Muhammadiyah tidak mudah tersinggung atau merasa paling benar.
“Kita cukup berkarya dengan lillah. Tidak perlu pamer. Allah Maha Tahu,” pungkasnya.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments