Mahasiswa Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) yang tergabung dalam Kelompok 24 melaksanakan edukasi dan pendampingan peningkatan kualitas Usaha Mikro dan Kecil Menengah (UMKM) di Desa Jetis, Kecamatan Jetis, Kamis (05/2/2026). Kegiatan ini mencakup pelatihan strategi manajemen usaha, legalitas produk, pemilihan identitas visual, serta proses produksi pangan yang sehat.
Program tersebut berangkat dari rendahnya pemahaman pelaku UMKM dalam mengelola usaha secara terstruktur, terutama dalam aspek manajemen, kelengkapan legalitas produk, dan penerapan standar keamanan pangan. Minimnya inovasi produk turut menjadi tantangan dalam meningkatkan daya saing UMKM di tengah ketatnya persaingan pasar.
Menjawab kondisi itu, mahasiswa UMG menghadirkan ruang diskusi, berbagi pengetahuan, serta pendampingan untuk membantu pelaku UMKM menggali potensi usahanya. Kegiatan tidak hanya memberi pemahaman teknis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran pentingnya kualitas dan inovasi sebagai kunci keberlanjutan usaha di tingkat desa. Pelaksanaan kegiatan berlangsung di Balai Desa Jetis pukul 09.00–12.00 WIB dan dihadiri pelaku usaha serta ibu-ibu PKK.
Selain materi pelatihan, mahasiswa memperkenalkan inovasi produk berupa permen gummy berbahan dasar tebu sebagai alternatif olahan pangan bernilai tambah. Inovasi ini memanfaatkan potensi lokal sekaligus membuka peluang terciptanya produk baru yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Materi Komprehensif dan Relevan
Dalam penyampaiannya, mahasiswa UMG melibatkan empat program studi: Akuntansi, Hukum, Psikologi, dan Keperawatan. Setiap program studi menyampaikan materi sesuai bidang keilmuan masing-masing agar pelaku UMKM mendapatkan pemahaman komprehensif.
Mahasiswa Prodi Akuntansi membawakan materi strategi manajemen usaha yang mencakup tujuan laporan keuangan, karakteristik laporan keuangan, prinsip pengakuan dan pengukuran, penilaian kinerja keuangan, penyusunan laporan laba-rugi, hingga pengelolaan persediaan.
Selanjutnya, Prodi Hukum memberikan edukasi mengenai legalitas produk, terutama proses sertifikasi halal. Materi yang disampaikan mencakup tahapan pembuatan sertifikat halal, estimasi waktu dan biaya, manfaat sertifikasi bagi UMKM, serta dasar hukum yang mewajibkan legalitas tersebut.
“Legalitas produk penting agar produk memiliki perlindungan hukum,” ujar Dita.
Dari Prodi Psikologi, mahasiswa memaparkan pentingnya identitas visual dalam pemasaran. Materi meliputi definisi identitas visual, manfaat bagi UMKM, pemilihan logo dan nama produk, pilihan warna, serta desain kemasan yang menarik dan sesuai karakter produk.
Sementara itu, Prodi Ilmu Keperawatan membahas proses produksi pangan yang sehat, mulai dari pemilihan bahan pangan aman, kebersihan diri saat mengolah makanan, kebersihan alat dan tempat produksi, hingga pentingnya memasak secara sempurna.
“Pembuatan makanan yang sehat harus dimasak sampai matang agar kuman dan bakteri mati,” tegas Dimas.
Sebagai bentuk pendampingan inovatif, mahasiswa juga menunjukkan cara pembuatan permen gummy berbasis tebu. Produk ini diharapkan menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan olahan pangan kreatif yang sehat dan bernilai jual tinggi.
Kegiatan mendapatkan respons positif dari peserta. Mereka merasa materi yang diberikan tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif dan relevan dengan kebutuhan usaha.
“Kegiatan KKN di Desa Jetis ini memberikan wawasan dan kami berharap UMKM bisa lebih maju lagi,” ujar Bu Sella.
Praktik Pembuatan Produk Inovasi Permen Gummy dari Tebu
Mahasiswa UMG juga menggelar praktik langsung pembuatan permen gummy tebu bersama masyarakat. Pelatihan ini bertujuan menunjukkan cara mengolah bahan sederhana menjadi produk pangan bernilai tambah. Tebu yang biasanya dikonsumsi secara tradisional diolah menjadi permen gummy modern yang menarik dan berpotensi menjangkau pasar lebih luas.
Dalam praktik tersebut, Daniz Eriansyah menjelaskan langkah-langkah pengolahan, mulai dari ekstraksi sari tebu, pencampuran dengan gelatin dan perasa alami, hingga teknik pencetakan dan pengemasan. “Kekenyalan permen tergantung pada jumlah gelatin yang digunakan,” jelasnya.
Melalui praktik ini, masyarakat diharapkan dapat mengembangkan inovasi berbasis potensi lokal untuk meningkatkan daya jual produk.
“Menurut saya manisnya pas, tidak terlalu manis, dan kekenyalannya juga sudah pas. Usaha teman-teman KKN sangat bagus,” ujar Ibu Sari.
Sinergi antara mahasiswa dan masyarakat diharapkan mampu mendorong pertumbuhan UMKM Desa Jetis secara lebih terarah dan berkelanjutan. Program ini menjadi langkah awal memperkuat fondasi usaha masyarakat agar siap menghadapi dinamika pasar dan peluang ekonomi yang lebih luas. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments