Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dosen Umsida Bagikan 3 Cara Menjaga Mental saat Puasa

Iklan Landscape Smamda
Dosen Umsida Bagikan 3 Cara Menjaga Mental saat Puasa
Dosen Umsida bagikan tips menjaga mental saat puasa, Foto: Ist/PWMU.CO
pwmu.co -

Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Bagi banyak orang, bulan suci ini juga menjadi momen untuk melatih kesabaran, mengelola emosi, serta menenangkan pikiran. Menariknya, proses spiritual tersebut ternyata juga memiliki dampak positif bagi kesehatan mental.

Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Ghozali Rusyid Affandi, S.Psi., M.A. Ia menjelaskan bahwa ibadah puasa dapat menjadi sarana efektif untuk melatih pengendalian emosi sekaligus menjaga kesehatan mental seseorang.

Menurutnya, kunci utama dalam menjalankan puasa yang sehat secara mental adalah menyeimbangkan pendekatan biologis, psikologis, dan spiritual selama menjalani ibadah tersebut.

“Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga latihan mengelola emosi dan pikiran agar lebih stabil,” ujarnya.

Mengelola Stres Saat Berpuasa dengan Keseimbangan Fisik dan Mental

Lebih lanjut, Ghozali menjelaskan bahwa cara mengelola stres selama berpuasa dapat dilakukan dengan menyeimbangkan pendekatan fisik (biologis) dan mental (psikologis serta spiritual). Keseimbangan ini penting agar tubuh dan pikiran tetap stabil sepanjang menjalani aktivitas di bulan Ramadan.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menjaga asupan nutrisi saat sahur.

Secara biologis, ia menyarankan untuk mengonsumsi karbohidrat kompleks dan protein ketika sahur. Nutrisi tersebut membantu mencegah penurunan kadar gula darah secara drastis atau hipoglikemia, sehingga otak tetap memiliki energi yang cukup untuk mengatur emosi.

Dalam ajaran Islam, kebiasaan sahur juga sejalan dengan anjuran Rasulullah SAW untuk tidak meninggalkan sahur karena di dalamnya terdapat keberkahan sebagaimana diriwayatkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim.

“Keberkahan ini termasuk kesiapan fisik dan mental untuk beribadah sepanjang hari. Intinya jangan sampai meninggalkan sahur,” kata Ghozali.

Menerapkan Mindfulness Selama Berpuasa

Selain menjaga pola makan, Ghozali juga menekankan pentingnya menerapkan mindfulness atau kesadaran diri selama menjalankan ibadah puasa.

Puasa tidak hanya dimaknai sebagai menahan makan dan minum, tetapi juga menyadari kondisi diri ketika emosi mulai terpancing akibat rasa lapar atau kelelahan.

Dalam kondisi tersebut, seseorang dianjurkan untuk mengambil jeda sebelum bereaksi. Dalam ajaran Islam, seorang muslim yang sedang berpuasa dianjurkan untuk mengingat status puasanya dengan mengatakan “Aku sedang berpuasa”, membaca ta’awudz, atau mengubah posisi dan berwudhu untuk meredakan emosi.

Menghindari Hal yang Sia-Sia

Untuk menjaga kestabilan mental selama berpuasa, seseorang juga disarankan menjauhi aktivitas yang tidak bermanfaat atau menguras emosi.

Misalnya, menghindari perdebatan yang tidak perlu, perkataan dusta, maupun perilaku yang dapat memicu konflik. Dalam Islam, sikap tersebut dikenal sebagai upaya meninggalkan laghw atau hal-hal yang sia-sia agar energi mental tetap terjaga.

Ibadah Ramadan Membantu Menurunkan Stres

Lebih jauh, Ghozali menjelaskan bahwa pembiasaan spiritual selama Ramadan terbukti dapat membantu menurunkan tingkat stres apabila dilakukan dengan benar, baik secara syariat maupun pemaknaan spiritualnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Menurutnya, proses tersebut terjadi melalui dua mekanisme utama, yaitu relaksasi fisik dan terapi kognitif melalui ibadah.

Aktivitas seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, dan salat malam dapat bekerja layaknya meditasi yang mendalam. Secara biologis, rutinitas ini mampu menurunkan hormon stres (kortisol), menstabilkan detak jantung, serta membuat pikiran menjadi lebih rileks.

Dalam Islam, kondisi tersebut dikenal sebagai ketenangan hati atau tatma’innul qulub. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat 28 bahwa dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenteram.

Selain itu, kegiatan ibadah seperti berdoa, iktikaf, dan muhasabah atau refleksi diri juga berfungsi sebagai terapi kognitif yang membantu seseorang mengalihkan fokus dari tekanan duniawi menuju rasa syukur dan kepasrahan kepada Allah.

Proses ini dalam Islam dikenal sebagai tazkiyatun nafs, yaitu upaya penyucian jiwa yang membuat seseorang lebih sehat secara mental, berpikir positif, serta lebih tangguh menghadapi tekanan hidup.

Puasa Juga Meningkatkan Kecerdasan Emosional

Tidak hanya membantu mengelola stres, latihan pengendalian diri selama Ramadan juga dapat meningkatkan kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ).

Ghozali menjelaskan bahwa kebiasaan menahan amarah dan bersabar selama sekitar 30 hari berturut-turut mampu melatih otak membentuk jalur saraf baru melalui proses yang disebut neuroplastisitas.

“Latihan ini membuat kemampuan pengendalian diri tidak lagi terasa berat, tetapi menjadi respons otomatis yang bahkan terbawa setelah Ramadan usai,” ujarnya.

Selain itu, pengalaman merasakan lapar dan dahaga secara langsung juga membantu seseorang memahami kondisi orang lain yang kekurangan.

Pengalaman tersebut dapat menumbuhkan empati dan kepedulian sosial, sehingga mendorong seseorang untuk lebih mudah berbagi melalui sedekah, zakat, maupun berbagai bentuk bantuan kepada sesama.

Pada akhirnya, tujuan utama puasa adalah mencapai derajat takwa, yaitu kemampuan menahan diri dari hal-hal yang tidak baik sekaligus memiliki kebesaran hati untuk memaafkan orang lain.

“Ketika seseorang mampu menahan amarah dan memaafkan, itu menunjukkan kecerdasan emosional sekaligus kecerdasan spiritual yang tinggi,” pungkas Sekretaris Program Studi Psikologi tersebut.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu