
PWMU.CO – Dosen program studi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Intan Rohma Nurmalasari SP MP, bersama Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Nusa Tenggara Timur (NTT) membuat inovasi untuk meningkatkan kualitas pangan halal di daerah tersebut.
Melalui pelatihan dan pendampingan Integrated Urban Farming berupa tea compost bag secara hybrid, perempuan penggerak Aisyiyah diberi pengetahuan tentang cara meningkatkan produksi pangan dan cara agar bisa menyelesaikan masalah dengan baik.
Pelatihan tea compost bag sebagai program pendampingan Integrated Urban Farming ini dilaksanakan secara offline sebanyak dua kali, yakni pada Kamis (6/3/2025) dan Senin (2/6/2025) mendatang di Kantor PWA NTT. Kegiatan ini bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Kupang.
Diketahui bahwa mayoritas dari anggota PWA NTT khususnya di Kecamatan Oebobo, Kabupaten Kupang, berprofesi sebagai petani dan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
Namun saat bekerja, lahan di daerah tersebut rentan mengalami kekeringan, sehingga irigasi juga tersumbat. Selain itu, banyak terjadi alih fungsi lahan pertanian yang diubah menjadi infrastruktur.
Salah satu fokus utama kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman mereka mengenai pentingnya mutu halal dalam pangan.
Dosen yang biasa disapa Intan ini, mengatakan bahwa program ini telah sesuai dengan tujuan abdimas, yakni meningkatkan kesejahteraan, kesehatan, dan pemberdayaan perempuan penggerak Aisyiyah melalui wawasan pertanian terintegrasi, keamanan, dan mutu halal berbasis Racik Nutrisi Hidroponik secara mandiri.
“ini merupakan upaya ketahanan dan keamanan pangan serta menjaga mutu halal. Nantinya, program ini akan diintegrasikan dengan hasil pencapaian Goals 2 SDGs 2030 Indonesia,” tuturnya.
Solusi Inovatif dengan Tea Compost Bag Hidroponik
Salah satu solusi yang diperkenalkan dalam program ini adalah penggunaan Tea Compost Bag Hidroponik yang terbuat dari bahan organik.
Sistem ini memungkinkan masyarakat khususnya perempuan penggerak Aisyiyah untuk mengelola pertanian dalam skala kecil dengan hasil yang optimal.
Tea Compost Bag merupakan kompos organik cair yang dapat meningkatkan kesuburan tanah dan mengurangi penggunaan pupuk kimia.
“Selain itu, sistem pertanian terintegrasi ini dapat dilakukan di lahan yang terbatas, sehingga sangat cocok diterapkan di daerah perkotaan atau desa dengan lahan yang terbatas,” ujarnya.
Sistem ini tidak hanya meningkatkan hasil pertanian, tetapi juga berkelanjutan dan ramah lingkungan, karena memanfaatkan sampah pertanian dan kotoran ternak untuk pakan dan pupuk.
Melalui pendampingan hybrid yang dilaksanakan secara offline dan online, para perempuan penggerak Aisyiyah di NTT diberikan pengetahuan dan keterampilan yang berguna untuk meningkatkan kualitas pertanian mereka.
Perempuan penggerak Aisyiyah NTT yang terletak di Kabupaten Kupang ini, juga diberikan sosialisasi gerakan “melek mutu halal” sebagai upaya dasar perbaikan Sumber Daya Manusia (SDM) Perempuan Penggerak Aisyiyah di lingkungan tersebut.
Selain itu, pengabdian masyarakat ini juga berfokus pada peningkatan kesadaran perempuan penggerak Aisyiyah mengenai pentingnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang bertujuan untuk mengurangi prevalensi stunting dan kelaparan.
“Kami memilih PWA NTT lantaran di daerah tersebut belum ada pelatihan mutu pangan halal, dan integrated urban farming sebelumnya,” kata Ketua Pusat Studi SDGs Umsida itu.
Setelah berbincang dengan PWA NTT, Intan mengungkapkan harapan mereka yang ingin selalu intens berkomunikasi untuk mendapatkan kesempatan pelatihan dan pendampingan yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Dengan adanya pengetahuan tentang pertanian terintegrasi dan keamanan pangan, Intan berharap perempuan penggerak Aisyiyah dapat berperan lebih aktif dalam meningkatkan kualitas pangan dan mencegah kasus keracunan makanan. (*)
Penulis Romadhona S Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments