Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dosen Umsida Ungkap Alasan Konsumsi Pangan Meningkat Saat Puasa

Iklan Landscape Smamda
Dosen Umsida Ungkap Alasan Konsumsi Pangan Meningkat Saat Puasa
Dosen Umsida Ungkap Alasan Konsumsi Pangan Meningkat Saat Puasa, Foto: Ist/PWMU.CO
pwmu.co -

Fenomena meningkatnya konsumsi pangan saat Ramadan kerap menjadi paradoks di tengah ibadah puasa yang justru membatasi waktu makan.

Setiap memasuki bulan suci, pasar tradisional hingga supermarket terlihat lebih ramai dari biasanya. Berbagai jenis takjil, bahan pokok, hingga lauk pauk laris diburu masyarakat menjelang waktu berbuka.

Padahal, selama Ramadan waktu makan sebenarnya hanya terjadi pada dua momen utama, yakni saat sahur dan berbuka puasa. Namun dalam praktiknya, konsumsi pangan justru cenderung meningkat dibanding hari biasa.

Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Rahmah Utami Budiandari STP MP menjelaskan bahwa fenomena ini bukan sekadar asumsi, melainkan dapat dijelaskan dari berbagai sudut pandang, mulai dari pola makan, budaya sosial, hingga faktor psikologis masyarakat.

Konsumsi Pangan Naik Meski Waktu Makan Berkurang

Menurut Rahmah, meskipun frekuensi makan selama Ramadan hanya dua kali utama, yakni sahur dan berbuka, total konsumsi bahan pangan tetap meningkat karena porsi makan yang lebih besar serta kebiasaan menyiapkan berbagai hidangan.

“Konsumsi bahan pangan meningkat saat Ramadan karena porsi makan lebih besar. Ditambah lagi dengan tradisi sosial berbuka puasa dan kecenderungan menyiapkan makanan berlebih,” jelasnya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan lonjakan konsumsi pangan selama bulan puasa.

Pertama, porsi makan saat sahur dan berbuka cenderung lebih besar. Penelitian yang dipublikasikan dalam Nutritional Journal menyebutkan bahwa banyak orang mengonsumsi berbagai jenis makanan saat sahur dan berbuka, termasuk makanan tinggi energi seperti daging, pastry, serta minuman manis.

Meskipun frekuensi makan lebih sedikit, kombinasi berbagai jenis makanan tersebut membuat total asupan energi tetap tinggi.

Kedua, kecenderungan menyiapkan makanan secara berlebihan. Rahmah menjelaskan bahwa masyarakat sering tergoda menyiapkan aneka takjil, makanan pembuka, hingga dessert yang menggugah selera.

Akibatnya, jumlah makanan yang disiapkan sering kali melebihi kebutuhan sebenarnya.

Ketiga, meningkatnya aktivitas ekonomi dan sosial. Ramadan identik dengan berbagai kegiatan kebersamaan seperti berbuka puasa bersama keluarga, teman, maupun komunitas.

Penelitian Haris et al. (2025) menunjukkan bahwa aktivitas sosial selama Ramadan mendorong peningkatan konsumsi makanan dan minuman sekaligus meningkatkan penjualan di sektor pangan.

Keempat, perubahan jenis makanan yang dikonsumsi. Rahmah menambahkan bahwa selama Ramadan masyarakat cenderung memilih makanan yang lebih tinggi lemak dan energi.

Makanan seperti gorengan, santan, serta hidangan manis menjadi lebih populer saat berbuka, sehingga konsumsi bahan pangan tertentu meningkat meskipun frekuensi makan menurun.

Faktor Budaya hingga Psikologis

Lebih jauh, Rahmah menjelaskan bahwa meningkatnya konsumsi pangan saat Ramadan bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan gizi, tetapi juga dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor lain.

“Fenomena ini terjadi karena perubahan pola makan, pola belanja, budaya sosial, hingga faktor psikologis,” ujarnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Perubahan pola makan dan kebutuhan energi menjadi salah satu penyebab utama. Banyak orang memilih makanan manis dan berlemak dalam jumlah besar untuk memulihkan energi setelah berpuasa seharian.

Selain itu, perubahan pola belanja juga turut memengaruhi peningkatan konsumsi. Masyarakat cenderung membeli bahan makanan lebih banyak untuk stok sahur dan berbuka, meskipun tidak semuanya langsung dikonsumsi.

Dari sisi budaya, tradisi buka puasa bersama juga membuat jumlah makanan yang disediakan meningkat. Dalam berbagai kegiatan sosial, makanan biasanya disiapkan dalam jumlah lebih banyak agar cukup untuk semua orang.

Faktor lainnya adalah aspek psikologis. Setelah menahan lapar dan dahaga selama seharian, muncul keinginan untuk makan lebih banyak sekaligus mencoba berbagai hidangan yang tersedia.

Keinginan tersebut sering kali mendorong masyarakat membeli atau menyiapkan makanan lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan.

Tips Agar Konsumsi Tetap Terkendali

Agar konsumsi pangan selama Ramadan tetap seimbang dan tidak berlebihan, Rahmah membagikan beberapa solusi praktis berdasarkan berbagai jurnal gizi dan rekomendasi lembaga kesehatan.

Pertama, membuat perencanaan menu dan daftar belanja. Penelitian dalam Journal of Nutrition and Consumer Behavior menunjukkan bahwa perencanaan menu dapat membantu mengurangi pembelian impulsif sekaligus mencegah pemborosan makanan.

“Dengan membuat daftar belanja sesuai kebutuhan sahur dan berbuka, masyarakat dapat menghindari membeli bahan pangan secara berlebihan,” jelasnya.

Kedua, mengonsumsi makanan sesuai kebutuhan gizi. Berdasarkan rekomendasi WHO, tubuh tidak membutuhkan kalori berlebihan saat berbuka puasa. Konsumsi makanan yang seimbang sudah cukup untuk memulihkan energi setelah berpuasa.

Ketiga, menghindari berbelanja saat lapar. Studi perilaku konsumen menunjukkan bahwa orang yang berbelanja dalam kondisi lapar cenderung membeli lebih banyak makanan, terutama makanan tinggi kalori dan gula.

“Karena itu, lebih baik berbelanja setelah makan atau dalam kondisi tidak lapar,” ungkap Rahmah.

Keempat, makan secara bertahap dan tidak berlebihan. Penelitian dalam Jurnal Appetite menyebutkan bahwa makan secara perlahan membantu tubuh mengenali rasa kenyang sehingga dapat mencegah konsumsi berlebihan.

Kelima, meningkatkan kesadaran untuk menghindari pemborosan makanan. Food and Agriculture Organization (FAO) juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam mengurangi pemborosan pangan agar konsumsi tetap terkendali dan ketersediaan pangan terjaga.

Pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi momentum untuk belajar mengendalikan konsumsi, menjaga keseimbangan pola makan, serta menghindari pemborosan makanan.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu