Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dr. Thoat Stiawan Paparkan Strategi Integratif Menyambut Ramadan

Iklan Landscape Smamda
Dr. Thoat Stiawan Paparkan Strategi Integratif Menyambut Ramadan
Dr. Thoat Stiawan. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Ramadan bukan sekadar agenda tahunan yang datang lalu berlalu. Ramadan adalah madrasah ruhani yang menuntut kesiapan menyeluruh, yakni hati yang bersih, perilaku yang terjaga, dan tubuh yang ditopang oleh asupan halal dan thayyib.

Tanpa persiapan integratif, Ramadan berisiko hanya menjadi rutinitas fisik tanpa transformasi spiritual.

Pesan mendalam tersebut mengemuka dalam Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bangkalan yang digelar di Masjid At-Taqwa Bangkalan, Ahad (25/1/2026).

Hadir sebagai pemateri, Dr. Thoat Stiawan, S.HI., M.HI., Dekan Fakultas Studi Islam dan Pendidikan (FSIP) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) PDM Surabaya, sekaligus Direktur Ma’had Umar bin al-Khattab.

Dalam ceramah bertajuk “Rekonstruksi Kesiapan Ibadah”, Ustaz Thoat (panggilan karibnya)  mengajak jamaah untuk menata ulang cara menyambut Ramadan.

Menurutnya, persiapan yang ideal tidak bisa parsial, melainkan harus menyentuh tiga dimensi utama, yakni esoteris (kalbu), etis (perilaku), dan biologis (asupan konsumsi).

Ustaz Thoat mengawali pemaparannya dengan menegaskan bahwa hati adalah pusat kendali seluruh amal manusia.

“Tanpa hati yang bersih, ibadah di bulan Ramadan hanya akan terasa berat dan melelahkan, bukan menghadirkan ketenangan,” ujarnya.

Dia lantas mengutip hadis riwayat Muslim: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuhmu dan tidak pula kepada rupa bagusmu, tetapi Allah melihat kepada hatimu.”

Hadis ini, menurutnya, menjadi dasar penting bahwa tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) merupakan prasyarat mutlak agar nilai-nilai Ramadan tidak berhenti pada aspek seremonial, tetapi benar-benar terinternalisasi dan bertahan setelah Ramadan usai.

“Jika hati masih dipenuhi iri, dengki, dendam, dan cinta dunia yang berlebihan, maka puasa hanya mengubah jam makan, bukan mengubah jiwa,” ungkapnya.

Dimensi kedua yang ditekankan adalah penjagaan perilaku. Ustaz Thoat menegaskan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan lisan, sikap, dan tindakan.

Kata dia, puasa yang berkualitas adalah puasa yang melahirkan kesalehan sosial—yakni kemampuan menjaga hubungan dengan sesama manusia, menahan amarah, serta membangun etika komunikasi yang santun.

Ustaz Thoat menguatkan penjelasan ini dengan firman Allah dalam QS. Al-Ahzab ayat 70–71:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu.”

Ustaz Thoat mengingatkan, kegagalan menjaga perilaku dapat menyeret seseorang pada fenomena muflis—bangkrut secara pahala—meskipun secara lahiriah ia rajin berpuasa dan beribadah.

“Puasa tapi lisan melukai, puasa tapi tangan menzalimi, itu alarm bahaya. Jangan-jangan kita lapar di dunia, tapi pulang tanpa pahala di akhirat,” tegasnya.

Bio-Spiritualitas Ramadan

Bagian yang paling menyita perhatian jamaah adalah pembahasan tentang korelasi antara makanan dan kualitas ibadah.

Ustaz Thoat menyebutnya sebagai pendekatan bio-spiritualitas, yakni hubungan erat antara apa yang dikonsumsi dengan kejernihan jiwa dan kekuatan ibadah.

Dia menegaskan, makanan haram atau syubhat menciptakan “tabir” yang menghalangi doa-doa menembus langit.

Untuk itu, dia mengutip hadis yang masyhur dalam Arba’in Nawawi tentang seseorang yang berdoa dengan sungguh-sungguh, namun doanya tidak dikabulkan karena:

“…makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?”

Secara ilmiah dan spiritual, makanan halal dan thayyib—jelas Dr. Thoat—menjamin kesucian darah, stabilitas emosi, serta ketahanan psikis tubuh dalam menghadapi ujian lapar dan dahaga selama Ramadan.

“Tubuh yang bersih dari asupan haram akan lebih ringan diajak taat dan lebih tenang menghadapi ujian ibadah,” paparnya.

Ustaz Thoat juga menyampaikan analogi yang kuat dan mudah dipahami oleh jamaah. Menurutnya, Ramadan adalah madrasah, tempat umat Islam ditempa menjadi pribadi bertakwa.

“Kesuksesan seorang murid di madrasah sangat bergantung pada kesiapan alat tulis dan mentalnya sebelum masuk kelas. Begitu pula kita dengan Ramadan,” ujarnya.

Dia mengajak seluruh jamaah untuk tidak menyambut Ramadan secara spontan dan serba dadakan, melainkan dengan persiapan matang yang menyentuh hati, perilaku, dan tubuh sekaligus.

Dengan pendekatan integratif tersebut, Ramadan diharapkan tidak hanya menjadi bulan ibadah, tetapi juga titik balik pembentukan karakter dan kualitas hidup seorang Muslim, baik secara spiritual maupun sosial. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu