Ribuan jemaah memadati Masjid At-Taqwa Kenongo, Tulangan, Sidoarjo, pada Ahad (10/8/2025) pagi. Mereka datang dari berbagai ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah, guru serta karyawan AUM, bersama organisasi otonom seperti IPM, AMM, dan Nasyiatul Aisyiyah. Udara pagi terasa sejuk, namun suasana masjid menghangat oleh semangat menuntut ilmu.
Pagi itu, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tulangan menghadirkan Prof Mochammad Ali SS MA—dosen filologi Sastra Indonesia FIB UNAIR yang akrab disapa dengan nama pena Menachem Ali.
Tema yang diangkat cukup menggugah: “Perang Besar (Malhamah) dalam Manuskrip Tiga Agama dan Sikap Dunia Islam.”
Mengawali materinya, Prof Ali mengajak jamaah membaca Surah Al-Isra ayat 4. Ayat ini, katanya, menjadi peringatan tentang dua kali kerusakan besar yang dilakukan Bani Israil, disertai kesombongan yang luar biasa. “Kata kuncinya latufsidunna—fasad yang luar biasa. Ini pelajaran agar kita tidak mengulanginya,” tegasnya.
Ia lalu membawa jamaah menelusuri sejarah Baitul Maqdis yang dibangun Nabi Sulaiman as sebagai kota damai, Yerusalem.
Namun, rumah suci itu pernah dua kali hancur—pertama oleh Babilonia, kedua oleh Romawi. Semua terjadi karena pengabaian syariat dan kejahatan yang dilakukan secara berjamaah.
“Kalau satu orang berbuat salah, Allah masih bisa mengampuni. Tapi kalau kesalahan dilakukan sistematis dan berjamaah, apalagi memanipulasi syariat, Allah berpaling,” ujarnya disambut anggukan jamaah.
Prof Ali juga mengutip Surat Al-Baqarah ayat 65 tentang larangan melanggar hari Sabat. Ia menekankan bahwa pengingkaran berjamaah demi kepentingan duniawi adalah bentuk keserakahan yang mengundang murka Allah.
“Bumi ini hanya diwarisi oleh hamba-hamba Allah yang saleh. Kalau ingin layak masuk Darussalam, kita harus memulai dari sekarang, di dunia ini, dengan menjaga kemurnian syariat,” pesannya.
Kajian Ahad Pagi yang dimulai pukul 06.00 dan berakhir 08.30 WIB itu tidak hanya memberi wawasan sejarah, tetapi juga membangkitkan kesadaran jamaah untuk menjaga amanah agama. Banyak yang terlihat mencatat, sebagian lainnya mengangguk tanda setuju.
“Belajar sejarah itu bukan untuk nostalgia,” tutup Prof Ali, “tapi agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.” (*)





0 Tanggapan
Empty Comments