Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dua Nikmat yang Sering Dilupakan: Cara Mensyukuri Sehat dan Waktu Luang

Iklan Landscape Smamda
Dua Nikmat yang Sering Dilupakan: Cara Mensyukuri Sehat dan Waktu Luang
Foto: Pixabay
pwmu.co -

Saat manusia merasa sehat dan memiliki waktu luang, sering kali yang muncul justru kelalaian, bukan rasa syukur.

Sehat dan waktu luang adalah nikmat Allah yang luar biasa mahal. Tidak semua orang mendapatkannya dalam waktu yang bersamaan. Namun, ironisnya, ketika keduanya hadir, manusia kerap menganggapnya biasa—bahkan melupakannya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ada dua kenikmatan yang banyak menipu manusia, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

Seseorang tidak benar-benar memiliki waktu luang yang bernilai jika tubuhnya tidak sehat. Dan ketika dua nikmat ini berkumpul—sehat dan waktu luang—di situlah ujian sesungguhnya dimulai: apakah ia bersyukur atau justru lalai.

Bersyukur bukan sekadar ucapan, tetapi diwujudkan dalam ketaatan—melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Siapa yang tidak memanfaatkan dua nikmat ini dalam ketaatan, maka dialah yang termasuk orang-orang yang tertipu.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat betapa jelasnya gambaran ini.

Seorang pegawai yang setiap hari bekerja dari pagi hingga malam mungkin memiliki kesehatan, tetapi hampir tidak memiliki waktu luang untuk beribadah dengan khusyuk. Di sisi lain, ada orang yang memiliki banyak waktu—misalnya saat masa pensiun—namun justru diuji dengan kesehatan yang menurun, sehingga ibadah terasa berat.

Lebih menyedihkan lagi, ketika ada seseorang yang sehat dan memiliki waktu luang, tetapi justru menghabiskannya untuk hal-hal yang sia-sia. Waktu berjam-jam digunakan untuk berselancar di media sosial tanpa arah, menonton hiburan tanpa batas, atau sekadar berbincang tanpa manfaat. Hari berlalu, namun tidak ada amal yang mendekatkan dirinya kepada Allah.

Padahal, jika ia mau merenung sejenak, waktu luang itu bisa menjadi ladang pahala. Sepuluh menit setelah subuh bisa digunakan untuk membaca Al-Qur’an. Waktu sore bisa diisi dengan membantu sesama atau mempererat silaturahmi. Bahkan istirahat sejenak di sela aktivitas bisa menjadi dzikir yang bernilai di sisi Allah.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Ada pula kisah sederhana yang sering kita jumpai: seseorang yang baru saja sembuh dari sakit. Saat terbaring lemah, ia berjanji dalam hati, “Jika aku sembuh, aku akan lebih rajin beribadah.” Namun setelah sehat kembali, perlahan janji itu dilupakan. Ia kembali pada kebiasaan lama—menunda salat, lalai dalam ibadah, dan menganggap sehat sebagai sesuatu yang akan selalu ada.

Begitulah manusia mudah tertipu.

Sebaliknya, orang yang bijak akan memanfaatkan sehat sebelum sakit, dan waktu luang sebelum datang kesibukan. Ia sadar bahwa kedua nikmat ini tidak akan selamanya bersama dirinya.

Ia mengisi harinya dengan amal, meski sedikit tetapi konsisten. Ia menjaga tubuhnya agar tetap sehat untuk beribadah, dan menjaga waktunya agar tidak terbuang sia-sia. Baginya, setiap detik adalah kesempatan untuk mendekat kepada Allah.

Maka, ketika sehat dan waktu luang ada pada kita hari ini, jangan tunggu esok untuk bersyukur. Karena bisa jadi, esok salah satu dari keduanya telah diambil kembali.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menganugerahkan kepada kita kesehatan, waktu yang berkah, serta kemampuan untuk mengisinya dengan ketaatan dan kebermanfaatan.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡