Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Eco Bhinneka Banyuwangi Temukan Tiga Jenis Mikroplastik di Sungai Kalisetail

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -
Eco Bhinneka Banyuwangi saat menguji kualitas air sungai Kalisetail (Winda/PWMU.CO)

PWMU.CO – Eco Bhinneka Banyuwangi menggelar kegiatan “Besuk Sungai” yang dilaksanakan di bawah Jembatan Kalisetail, Genteng, Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini kembali mengungkap fakta mencemaskan terkait kondisi ekosistem sungai. Dalam pengujian kualitas air yang dilakukan selama aksi pada Minggu (11/5/2025) tersebut, ditemukan tiga jenis mikroplastik yang tersebar di aliran sungai.

Temuan ini menunjukkan bahwa pencemaran plastik tidak hanya berupa sampah makro yang tampak kasat mata, tetapi juga telah terfragmentasi menjadi partikel mikroskopis yang dikenal sebagai mikroplastik.

Dalam setiap 10 liter air, berhasil diidentifikasi tiga jenis mikroplastik, yaitu:

1. Fiber (serat) 18 partikel. Mikroplastik jenis ini diduga berasal dari limbah tekstil, serat pakaian yang terlepas saat pencucian, atau limbah kain dari rumah tangga maupun industri rumahan.

2. Film 14 partikel. Berasal dari plastik tipis seperti kantong kresek, kemasan makanan ringan, atau lapisan plastik pada produk konsumen.

3. Fragmen 1 partikel. Sebuah potongan kecil dari plastik keras yang telah terdegradasi, seperti dari sachet atau plastik tebal.

    Berdasarkan hasil temuan, limpahan mikroplastik tercatat mencapai rata-rata 3,3 partikel per 10 liter air sungai. Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) pernah melakukan Ekspedisi Sungai Nusantara untuk memantau kualitas air dan kesehatan ekosistem di 68 sungai strategis nasional. Hasil ekspedisi tersebut menunjukkan kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

    “Sebanyak 98 persen sungai yang kami teliti terdeteksi tercemar mikroplastik. Artinya, hampir seluruh sungai besar di Indonesia kini sudah dibanjiri partikel mikroplastik yang berpotensi masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan air,” ungkap Peneliti Ecoton, Mohammad Alaika Rahmatullah.

    Sementara itu, Fasilitator Eco Bhinneka Banyuwangi, Zahrotul Janah, menyampaikan bahwa sampel air dari sungai yang tampak tidak terlalu keruh pun ternyata mengandung mikroplastik, serangga, dan plankton.

    Alex juga menambahkan bahwa berbagai cara masuknya mikroplastik ke dalam tubuh manusia perlu disosialisasikan secara masif kepada kalangan perempuan sebagai langkah edukasi preventif di tingkat keluarga

    Lebih lanjut, menurut Alex, data ini memperkuat kesimpulan bahwa Sungai Kalisetail mengalami kebocoran sampah plastik yang signifikan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, khususnya Lampiran VI, disebutkan bahwa baku mutu air sungai harus bebas dari sampah, termasuk partikel plastik mikroskopis.

    “Dengan temuan ini, jelas bahwa kondisi Sungai Kalisetail masih jauh dari ideal, dan risiko pencemaran mikroplastik sudah nyata terjadi,” tegasnya.

    Menanggapi hal tersebut, Eco Bhinneka Banyuwangi merekomendasikan beberapa langkah tindak lanjut, antara lain:

    1. Mengedukasi masyarakat tentang bahaya mikroplastik serta pentingnya pengurangan sampah plastik sejak dari sumbernya.

    2. Mendorong industri untuk mengembangkan inovasi produk yang memiliki risiko minimal dalam melepaskan mikroplastik, seperti kemasan ramah lingkungan dan teknologi serat yang tidak mudah luruh.

    Iklan Landscape UM SURABAYA

    3. Pemerintah perlu memperluas pemantauan kualitas air sungai dengan memasukkan parameter mikroplastik sebagai bagian dari standar baku mutu lingkungan hidup.

    4. Mendorong kolaborasi riset lanjutan untuk memahami dampak jangka panjang mikroplastik terhadap kesehatan manusia dan keanekaragaman hayati.

      Sementara itu, metode pengambilan sampel air untuk mendeteksi mikroplastik menurut Ecoton umumnya mengikuti prosedur ilmiah yang sederhana namun telah terstandarisasi. Adapun langkah-langkah yang biasa dilakukan meliputi:

      1. Persiapan Alat dan Bahan:

        ‣ Siapkan wadah sampel berupa botol kaca steril atau jerigen plastik HDPE yang bersih, ember, dan serok (jika diperlukan untuk membantu penyaringan awal).

        ‣ Kain saring atau jaring plankton dengan ukuran mesh 50-300 mikron (untuk memfilter mikroplastik).

        ‣ Filter kertas atau membran nilon, corong, selang, dan alat penyaring lainnya.

        2. Teknik Pengambilan Sampel

          ‣ Ambil air dari permukaan sungai pada kedalaman 10-20 cm. Volume yang diambil umumnya sebanyak 10 liter per titik uji.

          ‣ Selanjutnya, air tersebut dituang perlahan ke alat saring yang dilengkapi jaring mikro untuk menangkap partikel padat, termasuk mikroplastik.

          ‣ Sisa air dibuang, sementara partikel yang tertinggal dikumpulkan pada filter atau jaring halus untuk dianalisis lebih lanjut.

          Sebagai langkah nyata mengurangi dampak pencemaran mikroplastik yang telah teridentifikasi dalam bentuk fragmen, fiber, dan filamen di Sungai Kalisetail Genteng, upaya minim sampah dari rumah tangga menjadi krusial untuk memutus aliran sampah plastik dari hulu ke hilir dan menjaga ekosistem air dari kerusakan jangka panjang. (*)

          Penulis Winda Editor Ni’matul Faizah

          Iklan Landscape Unmuh Jember

          Baca Lainnya

          Iklan pmb sbda 2025 26

          0 Tanggapan

          Empty Comments

          Search
          Menu