Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Eco-Family Muhammadiyah: Gerakan Revolusioner Pengelolaan Limbah Rumah Tangga dari Unmuh Jember

Iklan Landscape Smamda
Eco-Family Muhammadiyah: Gerakan Revolusioner Pengelolaan Limbah Rumah Tangga dari Unmuh Jember
Dokumentasi praktik daur ulang limbah rumah tangga menggunakan metode takakura. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Sebuah gerakan revolusioner dalam pengelolaan limbah rumah tangga lahir dari tangan dingin akademisi Universitas Muhammadiyah Jember. Melalui skema Hibah Internal Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), tim pengusul yang digawangi oleh Nanda Kurnia Wardati, M.Kom. dan Luluk Handayani, M.Si. resmi meluncurkan Model Eco-Family Muhammadiyah, sebuah inovasi saintifik untuk menanggulangi krisis limbah organik di Kabupaten Jember yang kini mencapai 1.218 ton per hari.

Program ini tidak hanya mengajarkan aspek teknis pengolahan sampah, tetapi melakukan dekonstruksi perilaku melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR). Fokus utamanya adalah menjembatani kesenjangan antara pemahaman keagamaan dan praktik ekologis sehari-hari yang selama ini dianggap saling berjauhan.

Dalam kerangka akademik yang dibangun, aktivitas mendaur ulang limbah rumah tangga direkonstruksi menjadi budaya “Sedekah Bumi.” Sisa organik tidak lagi dipandang sebagai residu tak berguna, tetapi sebagai amanah khalifah fil ardhi yang harus dikembalikan nutrisinya ke tanah demi menjaga keseimbangan ekosistem. Konsep ini diperkuat melalui:

Internalisasi Nilai Islami: Menghubungkan larangan perilaku mubazir (QS Al-A’raf: 31) dengan tanggung jawab ekologis dalam pengelolaan limbah domestik.

Intergenerational Learning: Melibatkan keluarga dengan anak usia sekolah melalui program Eco-Scouting untuk menanamkan karakter peduli lingkungan sejak dini.

Inovasi Takakura: Arsitektur Ekologi dari Dapur Rumah

Salah satu luaran utama program adalah implementasi Metode Komposting Takakura yang telah diadaptasi sesuai konteks lokal Jember. Secara teknis, metode ini menjadi solusi berdaya guna tinggi bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan maupun waktu (time poverty).

Keunggulan saintifik Metode Takakura dalam program ini meliputi, pertama efisiensi Termofilik: Proses aerobik menghasilkan suhu 45–55°C yang mampu membunuh patogen hanya dalam tiga minggu.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Kedua Inokulan Indigenous: Menggunakan mikroba lokal hasil pengembangan limbah organik Tegal Besar (kulit kakao dan sisa makanan) untuk mencapai rasio C:N ideal.

Ketiga Low Maintenance & Low Cost: Membutuhkan biaya investasi sekitar Rp75.000 dan perawatan 15–25 menit per minggu, namun mampu menghasilkan kompos berkualitas sesuai standar SNI.

Aksi Nyata: Menjaga Bumi dari Lingkup Terkecil

Ke depan, pengembangan program diarahkan pada penguatan implementasi skala mikro agar memberikan dampak lingkungan yang lebih cepat dan berkelanjutan. Beberapa fokus strategisnya meliputi:

  1. Penguatan Kelompok Mandiri: Menjadikan Ranting ‘Aisyiyah Tegal Besar 2 sebagai pusat percontohan (prototype) mandiri pengelolaan sampah komunitas.
  2. Edukasi Berkelanjutan: Mengintegrasikan kurikulum Eco-Theology ke madrasah setempat untuk membentuk generasi yang sadar lingkungan.
  3. Digital Monitoring: Mengoptimalkan Digital Dashboard berbasis WhatsApp agar setiap keluarga dapat memantau kontribusi mereka dalam menekan beban limbah daerah secara real-time.

“Kami ingin membuktikan bahwa perubahan besar bagi bumi dimulai dari komitmen setiap keluarga untuk berhenti menyumbang sampah dan mulai bersedekah nutrisi bagi tanah,” tegas tim pengusul dari Unmuh Jember. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu