Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ekoteologi sebagai Jalan Tengah antara Teosentrisme dan Antroposentrisme

Iklan Landscape Smamda
Ekoteologi sebagai Jalan Tengah antara Teosentrisme dan Antroposentrisme
Prof. Dr. Syafiq A. Mughni, MA. ketika menyampaikan kajian Ramadan 1447 H/2026 M (Jabir/PWMU.CO)
pwmu.co -

Kajian Ramadan 1447 H/2026 M di Aula Ahmad Zainuri, Universitas Muhammadiyah Jember, Ahad (22/2/2026), menghadirkan Prof. Dr. Syafiq A. Mughni sebagai pemateri. Dalam pemaparannya, ia mengajak umat Islam meninjau kembali cara berpikir keagamaan dalam merespons krisis lingkungan global.

Menurutnya, sejarah peradaban menunjukkan adanya dua pola besar dalam cara pandang manusia, yakni teosentrisme dan antroposentrisme.

Ia menjelaskan bahwa teosentrisme menempatkan Tuhan sebagai pusat segala-galanya. Segala sesuatu diukur berdasarkan kehendak Tuhan sebagaimana dipahami melalui ajaran agama.

“Seluruh kehidupan diabdikan kepada Allah. Semua tindakan diarahkan untuk memenuhi kehendak Ilahi,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa dalam praktik sejarah, pendekatan tersebut pernah mengalami distorsi. Pada masa dominasi gereja di Barat, otoritas keagamaan menentukan berbagai persoalan, termasuk urusan ilmiah. Apakah bumi bulat atau tidak, apakah matahari mengelilingi bumi atau sebaliknya, ditentukan oleh otoritas agama. Akibatnya, perkembangan ilmu pengetahuan mengalami stagnasi.

Sebagai reaksi terhadap kondisi itu, muncul antroposentrisme yang menempatkan manusia sebagai pusat segala sesuatu. Akal dan ilmu pengetahuan menjadi ukuran utama dalam menentukan benar atau salah.

Menurut Syafiq, kedua pendekatan tersebut memiliki sisi penting. Teosentrisme mencerminkan habluminallah, sedangkan antroposentrisme berkaitan dengan habluminannas. Namun, perkembangan zaman menunjukkan bahwa dua hubungan itu belum cukup.

“Kita tidak cukup hanya berhubungan baik dengan Allah dan sesama manusia. Kita juga harus berhubungan baik dengan makhluk lain dan dengan lingkungan,” tegasnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ia mencontohkan ajaran Nabi Muhammad SAW tentang perlakuan terhadap hewan. Bahkan dalam penyembelihan pun, Islam mengajarkan ihsan dan melarang penyiksaan. Hal itu menunjukkan bahwa makhluk hidup lain memiliki nilai moral dalam ajaran Islam.

Kesadaran tersebut, lanjutnya, harus diperluas pada hubungan dengan lingkungan. Krisis iklim dan perubahan iklim menjadi bukti bahwa kerusakan alam membawa dampak serius bagi kehidupan manusia. Jika suhu bumi terus meningkat tanpa kendali, manusia, hewan, dan tumbuhan tidak akan mampu bertahan.

Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun habluminbi’ah dan habluminhayawan sebagai bagian dari kesadaran keagamaan. Hubungan manusia tidak lagi hanya terbatas pada Tuhan dan sesama manusia, tetapi juga mencakup tanggung jawab terhadap seluruh ciptaan.

“Menjaga lingkungan bukan sekadar isu sosial atau ilmiah, tetapi bagian dari tanggung jawab keagamaan kita sebagai khalifah di bumi,” ujarnya.

Kajian tersebut menjadi refleksi bahwa agama harus hadir dalam menjawab tantangan kontemporer, termasuk persoalan ekologi. Tanpa respons teologis yang memadai, agama berisiko kehilangan relevansinya dalam kehidupan modern. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu