Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Empat Nilai yang Menjaga Hidup Tetap Berkah

Iklan Landscape Smamda
Empat Nilai yang Menjaga Hidup Tetap Berkah
Foto: Istockphoto
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Mari kita renungkan empat nilai utama dalam Islam yang kerap terdengar sederhana, namun justru menjadi kunci keberkahan hidup: amanah, jujur, ikhlas, dan semangat.

Nilai-nilai ini bukan sekadar konsep, tetapi harus hadir nyata dalam denyut kehidupan sehari-hari—di rumah, di tempat kerja, di tengah masyarakat, bahkan saat kita sendiri tanpa sorotan siapa pun.

1. Amanah: Menjaga Kepercayaan, Menjaga Harga Diri

Amanah adalah kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan kepada seseorang untuk dijaga dan ditunaikan sebaik mungkin. Kata ini berasal dari bahasa Arab amana–ya’manu yang berarti aman atau dapat dipercaya, dan merupakan lawan dari khianat.

Dalam ajaran Islam, amanah mencakup kewajiban kepada Allah (ibadah) dan kepada sesama manusia (harta, rahasia, tugas, jabatan, dan kehormatan).

Bayangkan seorang pegawai yang diberi tanggung jawab mengelola keuangan. Tidak ada yang mengawasi secara langsung, tidak ada kamera yang menyorot.

Namun ia tetap bekerja dengan rapi, jujur, dan hati-hati. Bukan karena takut atasan, melainkan karena sadar bahwa tanggung jawab itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Atau seorang orang tua yang berusaha mendidik anaknya dengan penuh perhatian, meski lelah setelah bekerja seharian. Ia sadar bahwa anak bukan sekadar titipan dunia, melainkan amanah akhirat.

Amanah adalah soal integritas—tetap lurus meski tidak ada yang melihat.

2. Jujur: Meski Berat di Awal, Menenangkan di Akhir

Jujur berarti berkata dan berbuat sesuai dengan kebenaran. Rasulullah ﷺ dikenal dengan gelar Al-Amīn, orang yang sangat terpercaya, jauh sebelum beliau diangkat menjadi nabi.

Rasululloh saw bersabda: “Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang pedagang mengakui barangnya cacat meski tahu pembeli bisa saja batal. Secara kasat mata ia rugi hari itu, tetapi kepercayaan yang tumbuh justru mendatangkan pelanggan setia di kemudian hari.

Seorang siswa mengakui kesalahan saat ujian, meski berisiko mendapat nilai rendah. Ia belajar bahwa kejujuran mungkin menyakitkan sesaat, tetapi dusta akan menghantui lebih lama.

Kejujuran adalah pondasi dalam bekerja, berdagang, belajar, dan memimpin keluarga. Tanpa kejujuran, kepercayaan runtuh, dan tanpa kepercayaan, kehidupan kehilangan maknanya.

3. Ikhlas: Bekerja Tanpa Riuh, Berjuang Tanpa Pamrih

Ikhlas berarti melakukan sesuatu hanya karena Allah, bukan demi pujian, popularitas, atau pengakuan manusia.

Allah SWT berfirman: “Padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ada orang yang rajin membantu tetangga, tetapi namanya jarang disebut. Ada yang aktif di masjid, namun tak pernah menuntut posisi. Ada pula yang bersedekah diam-diam, tangan kanan memberi, tangan kiri tak tahu.

Orang yang ikhlas tidak mudah kecewa ketika jasanya tak dihargai, tidak patah semangat ketika kebaikannya tak dibalas. Sebab yang ia cari bukan penilaian manusia, melainkan ridha Allah ﷻ.

Sering kali, amal kecil yang ikhlas—seperti senyum tulus, menyingkirkan duri di jalan, atau menahan amarah—lebih berat nilainya di sisi Allah dibanding amal besar yang penuh pamrih.

4. Semangat: Bergerak, Bangkit, dan Tidak Menyerah

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk pasrah tanpa usaha. Kita diperintahkan untuk terus bergerak, berikhtiar, dan bangkit dari keterpurukan.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Rasululloh saw bersabda: “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”
(HR. Muslim)

Seorang kepala keluarga bangkit setiap pagi meski lelah, demi menafkahi keluarganya dengan cara halal. Seorang pelajar terus belajar meski berkali-kali gagal. Seorang dai tetap berdakwah meski responsnya belum seperti yang diharapkan.

Semangat bukan berarti tidak pernah lelah, tetapi tidak menyerah meski lelah. Semangat dalam beribadah, bekerja, menuntut ilmu, dan berbuat kebaikan adalah ciri orang beriman yang yakin bahwa setiap usaha bernilai ibadah.

Jika amanah dan kejujuran menjadi sikap kita, keikhlasan menjadi niat kita, dan semangat menjadi langkah kita, insyaa Allah hidup akan penuh keberkahan dan manfaat bagi sesama.

Mari kita berniat menunaikan amanah sebaik-baiknya, menjaga kejujuran dalam setiap keadaan, meluruskan niat dengan keikhlasan, dan terus melangkah dengan semangat dalam kebaikan.

Karena hidup yang bernilai bukan tentang seberapa tinggi kita melangkah, tetapi seberapa lurus kita berjalan di hadapan Allah. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu