Mudir Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan, Mujianto, M.Pd.I, secara resmi memberangkatkan peserta Praktik Dakwah Lapangan (PDL) dan Safari Ramadan 1447 H/2026 M pada pembukaan penerjunan santri, Senin (16/2/2026) di Masjid Al Ghoihab Al Mizan putra.
Dalam sambutannya, Mujianto mengajak seluruh hadirin memaknai momentum menjelang Ramadan sebagai bentuk kepasrahan dan penghambaan kepada Allah.
“Doa adalah wujud kepasrahan kita kepada Allah. Kita memohon agar dipertemukan dengan Ramadan dan diberi kesempatan mengisinya dengan amal terbaik,” tuturnya.
Tradisi Dakwah Sejak Awal Berdiri
Mujianto menjelaskan bahwa Praktik Dakwah Lapangan merupakan program khas Al Mizan yang telah ada sejak awal berdirinya pesantren. Sekitar 30 tahun lalu, program ini dikenal sebagai Latihan Kerja Lapangan dengan medan dakwah di wilayah yang minim pemahaman Islam dan Muhammadiyah.
“Dulu medan dakwah penuh tantangan. Penempatan santri justru di daerah yang minim Islam dan Muhammadiyah, bahkan terkadang menghadapi penolakan masyarakat maupun pemerintah desa,” kenangnya.
Sejak sekitar tahun 2010, penempatan santri lebih difokuskan di ranting dan masjid Muhammadiyah. Namun ke depan, tidak menutup kemungkinan penugasan kembali diperluas jika kebutuhan dakwah meningkat.
Program Kaderisasi Ulama dan Mubaligh
Ia menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari kaderisasi ulama, mubalig, dan pemimpin umat.
“Kami menitipkan 132 santri kepada panjenengan semua. Mereka adalah agen dakwah Muhammadiyah yang akan melanjutkan perjuangan di masa depan,” ujarnya.
Mujianto juga mengingatkan pentingnya dukungan masyarakat dalam mendampingi santri selama bertugas, termasuk penyediaan tempat tinggal, konsumsi, serta bimbingan.
Ia berpesan kepada ranting dan takmir masjid:
“Sebarkan yang baik, catat yang kurang, dan sampaikan kepada kami.”
Hal ini sebagai bahan evaluasi demi perbaikan program dakwah ke depan.
Pesan untuk Santri
Kepada para peserta PDL dan Safari Ramadan, Mujianto menyampaikan beberapa pesan penting:
Satu, Gunakan media sosial secara cerdas
Santri diperbolehkan membawa ponsel, tetapi harus disiplin dalam penggunaannya dan tidak mengganggu interaksi sosial maupun kegiatan dakwah.
Dua, Jangan hanya menjadi tamu
Santri diminta aktif berbaur dengan masyarakat, menjaga kebersihan lingkungan, serta menunjukkan kepedulian sosial.
Tiga, Jaga akhlak dan nama baik almamater
Perilaku, tutur kata, dan sikap harus mencerminkan nilai-nilai Al Mizan dan Muhammadiyah.
Empat, Manfaatkan waktu Ramadan secara produktif
Ia mengingatkan agar waktu kosong tidak disia-siakan, melainkan diisi dengan ibadah dan kegiatan bermanfaat seperti mengajar, kultum, tadarus, dan persiapan khutbah.
“Ramadan bukan hanya puasa dan tarawih, tetapi paket ibadah yang lengkap: sedekah, zakat, qiyamul lail, dakwah, dan amal sosial lainnya,” pesannya.
Dakwah untuk Mewujudkan Masyarakat Islam Ideal
Mujianto menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan visi Muhammadiyah: terbentuknya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Acara pemberangkatan ditutup dengan doa dan pembacaan basmalah sebagai tanda resmi dimulainya tugas dakwah para santri di tengah masyarakat.
Dengan semangat dakwah dan pengabdian, para santri Al Mizan diharapkan mampu menjadi pelayan umat sekaligus pembelajar kehidupan selama menjalankan tugas di bulan suci Ramadan.






0 Tanggapan
Empty Comments