Upaya menanamkan karakter peduli lingkungan terus digencarkan Sekolah Karakter SD Muhammadiyah 24 Surabaya. Salah satunya diwujudkan melalui penerapan penggunaan lunchbox ramah lingkungan dalam kegiatan English Camp yang digelar di Kebun Bibit Wonorejo, Kamis (9/4/2026).
Mengusung tema “The Little Explorers: Discover, Play, Speak”, kegiatan ini dirancang dengan pendekatan pembelajaran kontekstual melalui strategi konstruktivisme yang menyenangkan. Kegiatan diikuti siswa kelas bilingual jenjang kelas 2 hingga 4, dengan berbagai aktivitas eksploratif yang memadukan pembelajaran bahasa Inggris dan kepedulian terhadap lingkungan.
Sebagai bentuk komitmen mengurangi sampah plastik, pihak sekolah mengimbau seluruh peserta, baik siswa maupun guru pendamping untuk membawa kotak bekal (lunchbox) dan tumbler dari rumah. Kebijakan ini menjadi bagian dari edukasi nyata tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sejak dini.
Koordinator kegiatan, Norma Setyaningrum S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter siswa.
“Selama kegiatan belajar bahasa Inggris, kita juga perlu memperhatikan kondisi lingkungan, seperti tidak merusak tanaman, menjaga kebersihan, dan membuang sampah pada tempatnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, penggunaan lunchbox dan tumbler merupakan langkah sederhana namun berdampak besar dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Menurutnya, plastik memang praktis digunakan, terutama untuk makanan basah, namun memiliki dampak jangka panjang yang berbahaya bagi lingkungan.
“Plastik yang dibuang tidak langsung terurai. Butuh waktu bertahun-tahun hingga bisa hancur. Selama itu, sampah akan terus menumpuk dan berpotensi menimbulkan berbagai masalah lingkungan, seperti bau tidak sedap hingga banjir,” jelasnya.
Melalui langkah kecil ini, Sekolah Karakter SD Muhammadiyah 24 Surabaya menunjukkan komitmennya dalam membangun kesadaran lingkungan pada siswa. Diharapkan, kebiasaan positif tersebut tidak hanya diterapkan saat kegiatan English Camp, tetapi juga menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments