Ramadan 1447 Hijriah bukan sekadar pergantian bulan dalam siklus tahunan ibadah umat Islam. Bagi warga Persyarikatan Muhammadiyah, dan idealnya bagi umat Islam sedunia, tahun ini menandai sebuah etape sejarah yang monumental.
Untuk pertama kalinya, gerbang bulan suci dilewati dengan tuntunan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Sebuah ijtihad kolektif yang bukan lahir dari ruang hampa, melainkan dari rahim kegelisahan panjang tentang persatuan umat dan kepastian waktu yang selama berabad-abad sering kali terfragmentasi oleh batas-batas geografis dan perbedaan kriteria lokal.
Secara reflektif, penggunaan KHGT pada Ramadan kali ini adalah wujud nyata dari kredo al-Islam shalihun li kulli zaman wa makan (Islam itu relevan untuk setiap zaman dan tempat). Melalui KHGT, Muhammadiyah sedang berupaya melunasi apa yang disebut oleh Prof. Haedar Nashir sebagai “utang peradaban”.
Selama 14 abad, umat Islam merindukan sebuah sistem manajemen waktu yang bersifat unifikatif: satu hari, satu tanggal di seluruh permukaan bumi. Ramadan ini menjadi saksi bahwa kerinduan itu mulai menemukan bentuknya yang paling konkret.
Makna Filosofis “Marhaban” dalam Kepastian
Mengutip pemikiran Quraish Shihab yang disitir dalam teks peluncuran KHGT, kata marhaban berakar dari kata rahba yang berarti tempat luas dan lapang.
Menyambut Ramadan dengan KHGT memberikan kelapangan hati yang berbeda. Mengapa? Karena di dalamnya terkandung kepastian.
Selama ini, menjelang Ramadan, energi umat sering kali tersedot pada perdebatan metode: antara rukyat dan hisab, atau perbedaan matla’ antarnegara. Ketidakpastian kerap melahirkan kecemasan intelektual dan sosial.
Dengan KHGT, “kelapangan” itu hadir sejak jauh hari. Umat tidak lagi berada dalam posisi menunggu hingga menit-menit terakhir sebelum fajar untuk mengetahui kapan mulai berpuasa.
Kepastian waktu ini memungkinkan kita beralih dari sekadar urusan administratif-astronomis menuju persiapan spiritual yang lebih mendalam. Kita memiliki “stasiun perbaikan” (marhab) yang lebih tertata.
Ketika sistem waktu sudah mapan, fokus utama kita kembali pada esensi puasa: pembersihan jiwa dan pengabdian kepada kemanusiaan.
Satu Umat, Satu Sistem Waktu
Dasar teologis KHGT sangat kuat, bersandar pada spirit Al-Qur’an: “Innahazihi ummatukum ummatan wahidah” (Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu).
Kesatuan umat (ukhuwah) selama ini sering kali hanya menjadi jargon di mimbar-mimbar, namun rapuh dalam tataran teknis manajerial.
Bagaimana mungkin kita berbicara tentang satu umat jika untuk memulai hari ibadah yang sama kita masih terbelah oleh ego kedaulatan wilayah yang sebenarnya tidak dikenal dalam sistem astronomi murni?
KHGT memandang bumi sebagai satu kesatuan matla’. Prinsip ini sangat visioner. Ia memosisikan Islam sebagai agama yang tidak terpenjara oleh batas-batas fisik-material, melainkan agama yang universal.
Sebagaimana ditegaskan oleh Hamim Ilyas, peluncuran KHGT merupakan hasil kajian mendalam sejak Muktamar Turki 2016 hingga Muktamar ke-48 di Solo. Ini adalah buah dari pohon pemikiran tajdid yang akarnya adalah syariat dan batangnya adalah sains (ilmiah).
Tantangan Literasi dan Sosialisasi
Tentu saja, Ramadan pertama dengan KHGT ini tidak akan lepas dari tantangan. Mengubah kebiasaan yang telah mengakar selama ratusan tahun memerlukan napas panjang.
Muhammadiyah, sebagai pionir, memikul tanggung jawab besar untuk menyosialisasikan bahwa KHGT bukanlah upaya untuk “berbeda demi terlihat berbeda”. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk menyatukan.
Tugas kita sebagai warga Persyarikatan adalah menjelaskan bahwa KHGT merupakan bagian dari Risalah Islam Berkemajuan. Islam yang maju adalah Islam yang mampu mengelola waktu dengan presisi.
Peradaban yang besar selalu ditandai dengan kemampuan masyarakatnya menghargai dan mengorganisasi waktu.
Jika dunia internasional menggunakan Kalender Gregorian sebagai standar sipil global, maka sudah saatnya Islam memiliki sistem kalender hijriah yang setara akurasinya dan diterima secara global untuk urusan ibadah maupun muamalah.
Ramadan 1447 H dengan KHGT mengajak kita melakukan refleksi “kesalehan kosmik”. Kita diingatkan bahwa matahari, bulan, dan bumi bergerak dalam garis edar yang tetap atas kehendak Allah.
Tugas manusia adalah membaca tanda-tanda tersebut dengan akal budi dan ilmu pengetahuan. Menolak kepastian sains dalam penentuan waktu ibadah di era modern ibarat menolak menggunakan jam tangan dan memilih kembali melihat bayangan tongkat, padahal teknologi telah memberikan akurasi hingga sepersekian detik.
KHGT adalah simbol bahwa Islam merupakan agama yang mencintai ilmu. Keberanian Muhammadiyah menerapkan sistem ini adalah bentuk ijtihad yang berisiko secara sosial, namun wajib secara moral-peradaban.
Kita ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Islam bukan agama masa lalu yang gagap teknologi, melainkan agama masa depan yang mampu memimpin dalam keteraturan sistemik.
Sebagai penutup, mari kita jadikan Ramadan 1447 H ini sebagai momentum transformasi total. Ramadan dengan KHGT harus berbanding lurus dengan peningkatan kualitas takwa.
Jika sistem waktunya sudah tertata dan global, maka kualitas kedermawanan, etos kerja, dan kepedulian sosial kita pun harus naik kelas ke level global.
Kita tidak boleh lagi terjebak dalam dikotomi klasik yang memisahkan antara wahyu dan ilmu. KHGT adalah titik temu di mana keduanya berpelukan.
Dengan memulai puasa secara serentak berdasarkan perhitungan yang matang, kita sedang merayakan persatuan umat manusia di bawah naungan rahmat Allah.
Selamat datang Ramadan 1447 H. Selamat datang fajar baru peradaban Islam yang lebih teratur, visioner, dan bersatu.
Semoga puasa kita tahun ini tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi saksi sejarah bahwa kita adalah bagian dari umat yang sedang bergerak maju melunasi utang peradabannya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments