Menyikapi keberagaman karakter siswa, SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya menghadirkan Psikolog sebagai narasumber penguatan bimbingan konseling bagi guru dan karyawan, Sabtu (3/1/2026).
Mengenakan dresscode batik hitam-pink, para guru dan karyawan telah memenuhi ruangan untuk memulai aktivitas setelah masa liburan semester.
“Meski liburan berlangsung selama dua pekan, guru dan karyawan kami beri kesempatan berlibur untuk membangun quality time bersama keluarga pada pekan pertama,” ujar Kaur Sumber Daya Insani (SDI) SD Musix, Puspitawati, S.Pd.
Ia menambahkan, pada pekan kedua para guru dan karyawan sudah kembali beraktivitas dengan mengikuti Kelompok Kerja Guru (KKG) yang diselenggarakan oleh dinas kecamatan serta berbagai pelatihan.
“Seperti hari ini, mereka mengikuti pelatihan bimbingan konseling,” imbuhnya.
Acara diawali dengan tilawah bersama, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Sang Surya, serta Mars SD Musix sebagai lagu kebanggaan sekolah.
Kegiatan yang mengangkat tema “Fasilitasi Pembelajaran Keragaman Karakter Siswa” ini disampaikan oleh Lely Ika Mariyati, M.Psi., Psikolog.
Mengawali pemaparannya, ia mengutip Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 125 yang menekankan pentingnya menyampaikan kebaikan dengan hikmah dan cara yang baik.
بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Artinya: Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.
“Tugas bapak dan ibu guru adalah memberikan pendidikan secara bijaksana serta menjadi teladan bagi peserta didik,” tutur perempuan yang juga Dosen Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) tersebut.
Menurutnya, keragaman karakter siswa mencakup perbedaan latar belakang sosial budaya, kemampuan intelektual, gaya belajar (visual, auditori, dan kinestetik), minat, bakat, serta kebutuhan khusus peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK).
“Semuanya berhak mendapatkan layanan pendidikan yang adil dan setara untuk mengembangkan potensi terbaik mereka,” tegas Sekretaris Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Sidoarjo.
Usai penyampaian materi, narasumber membuka sesi dialog. Para peserta diberi kesempatan menyampaikan permasalahan yang dihadapi di kelas masing-masing.
Salah satu peserta, Nurun Naharo, S.Ag., M.Pd.I., menceritakan pengalamannya menangani siswa dengan perilaku istimewa yang kerap menggigit temannya saat tantrum, bahkan tidak jarang dirinya turut menjadi sasaran.
“Untuk memberikan pembelajaran, saat ia menggigit temannya, saya menirukan menggigit dan kemudian menjelaskan bahwa digigit itu sakit sehingga tidak boleh dilakukan,” jelasnya.
Menanggapi hal tersebut, fasilitator nasional BK Hebat ini menjelaskan bahwa ketika menghadapi anak dengan perilaku seperti itu, langkah pertama adalah mengamankan anak agar tidak ada korban lain.
“Pelaku jangan langsung diberi perlakuan balasan. Setelah anak tenang, ajak berdialog mengenai perilakunya. Jika langsung dibalas, anak bisa menangkap pesan bahwa membalas itu diperbolehkan, dan ini tidak baik,” pesannya.
Diskusi pun berlangsung hangat. Berbagai persoalan dari masing-masing kelas dibahas dan diberikan solusi yang bersifat edukatif serta konstruktif.
Menutup sesi, narasumber menegaskan bahwa setiap siswa adalah individu yang unik dan berpotensi menjadi Sang Juara. Dengan memediasi kebutuhan mereka secara tepat, kesejahteraan siswa dapat terwujud dan tercermin melalui prestasi yang mereka tunjukkan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments