Lamongan kembali menorehkan langkah penting dalam sejarah perkaderan Nasyiatul Aisyiyah (NA).
Pada (20–21/9/2025) Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Lamongan menggelar Latihan Instruktur 1 (LINA 1) di Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla). Dengan tema “Membentuk instruktur progresif untuk menguatkan gerakan kader perempuan muda berkemajuan.”
Kegiatan ini diikuti oleh 51 peserta kader NA se-Daerah Lamongan, yang hadir dengan penuh semangat untuk memperkuat komitmen mereka sebagai instruktur, penggerak, sekaligus penjaga keberlangsungan organisasi.
Dalam sambutan pembukaannya, Fathurrahim Syuhadi, M.Pd., Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan, menekankan bahwa kegiatan ini adalah momentum penting untuk menyiapkan kader instruktur yang bukan hanya kompeten, tetapi juga peka terhadap perkembangan zaman.
Kemudian Ketua Kwarwil Hizbul Wathan Jawa Timur ini menyampaikan tujuh pesan pokok yang menjadi bekal bagi seluruh peserta.
Pertama, bahwa para peserta LINA adalah kumpulan kader terbaik yang bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk memikirkan keberlangsungan Nasyiatul Aisyiyah. Dari tangan merekalah, estafet perjuangan organisasi akan terus berjalan dengan kuat dan berkesinambungan.
Kedua, seorang pemimpin dalam organisasi, termasuk instruktur, harus senantiasa memegang prinsip fastabiqul khairat berlomba-lomba dalam kebaikan. Pemimpin yang baik tidak berhenti hanya pada keberhasilan pribadi, tetapi juga berusaha melahirkan generasi yang lebih baik.
Ketiga, Fathurrahim menekankan bahwa instruktur harus memiliki kepekaan sosial dan semangat menolong sesama. Seorang instruktur tidak boleh terjebak pada formalitas, melainkan harus hadir memberi solusi dan menjadi teladan nyata di tengah masyarakat.
Keempat, sebuah organisasi yang sehat adalah organisasi yang terus memperbanyak kader. Regenerasi adalah kunci keberlangsungan, dan setiap instruktur memiliki peran penting dalam mencetak kader-kader baru yang tangguh.
Kelima, dalam menjalankan perannya, instruktur harus senantiasa meningkatkan literasi agar memiliki kompetensi yang luas, baik dalam bidang keilmuan, keorganisasian, maupun kepemimpinan.
“Literasi yang kuat akan melahirkan instruktur yang mampu mengarahkan dan membimbing dengan bijaksana,” ujarnya.
Keenam, Pak Rohim mengingatkan agar instruktur peka terhadap perkembangan zaman. Perubahan sosial, teknologi, dan budaya harus disikapi dengan bijak, agar kader NA tidak ketinggalan tetapi justru mampu memberi jawaban atas tantangan baru.
Ketujuh, dia menekankan pentingnya semangat untuk terus menuntut ilmu selagi ada kesempatan. Belajar tidak mengenal usia maupun jabatan; semakin banyak ilmu yang dimiliki, semakin besar pula manfaat yang dapat diberikan untuk umat dan bangsa.
Sementara itu, Arika Karim, Ketua PDNA Lamongan, dalam sambutannya juga memberikan arahan yang penuh makna.
Ustadzah Arika mengawali dengan ungkapan syukur kepada Allah atas kesehatan dan kesempatan yang diberikan, serta rasa terima kasih yang mendalam kepada para suami peserta yang dengan ikhlas mendukung aktivitas kaderisasi ini.
Arika menegaskan bahwa LINA merupakan perkaderan wajib bagi kader Nasyiatul Aisyiyah. Oleh karena itu, para peserta semestinya hadir dengan rasa syukur, bukan keterpaksaan.
“Kesempatan mengikuti LINA adalah anugerah yang akan menguatkan langkah dalam menuntaskan proses perkaderan,” ujarnya.
Dia juga mengingatkan pentingnya mengambil pelajaran dari Surat An-Nisa ayat 9, yang memberi peringatan agar umat Islam tidak meninggalkan generasi yang lemah (lemah ilmu, lemah pemahaman, dan lemah dalam kaderisasi).
Hadirnya LINA 1 ini, menurutnya, adalah salah satu ikhtiar agar Nasyiatul Aisyiyah tidak melahirkan generasi yang rapuh, tetapi generasi yang tangguh, berdaya, dan berilmu.
LINA 1 NA Lamongan bukan hanya sekadar pelatihan teknis, tetapi juga forum pembentukan karakter dan visi kepemimpinan. Selama dua hari, para peserta tidak hanya dibekali keterampilan, tetapi juga ditantang untuk menguatkan spiritualitas, intelektualitas, dan kepekaan sosial.
Dengan semangat fastabiqul khairat, literasi yang kuat, dan kepekaan terhadap zaman, kader-kader instruktur NA Lamongan diharapkan mampu menjadi agen perubahan. Mereka tidak hanya menjaga keberlangsungan organisasi, tetapi juga ikut mencetak generasi penerus bangsa yang unggul, berilmu, dan berakhlak mulia.
LINA 1 PDNA Lamongan adalah tonggak penting dalam perjalanan perkaderan. Sambutan dari Fathurrahim Syuhadi dan Arikah Karim menegaskan bahwa tugas instruktur bukan sekadar mengajar, tetapi juga menuntun, menguatkan, dan melahirkan kader yang siap memimpin.
Dari 51 peserta yang hadir, akan lahir generasi instruktur yang berdaya, menjadi teladan, dan berkomitmen menjaga semangat perjuangan Nasyiatul Aisyiyah. Karena sejatinya, kader yang tangguh adalah fondasi bagi lahirnya generasi umat dan bangsa yang lebih baik. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments